Hangatnya Pelukan Alamsyah | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part – 9

Hangatnya Pelukan Alamsyah | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part-9
0 160

Pagi, jam 4.30, Yanti bangun lebih dulu dibandingkan dengan Alamsyah. Ia melihat sosok laki-laki yang sangat gagah dan gentlement sekaligus bossnya itu, masih berada dalam peraduan kasih bersamanya, di sebuah kasur Hotel yang sangat mewah.  Yanti yang sudah hampir 11 tahun tidak mendapat sentuhan seorang laki-laki, terlebiuh dengan sentuhan segenap rasa kasih sayang sebagaimana ditampilkan Alamsyah, membuatnya tersihir untuk sementara tidak merasa dosa atas apa yang dilakukannya. Ia perlahan menggeserkan tangan Alamsyah dari pelukannya yang terasa masih tetap hangat.

Ia segera pergi ke wc yang berada di dalam kamar tidur mereka. WC yang hanya berdinding kaca itu, membuat segenap tubuh Yanti tampil dengan sempurna dalam pantulan kaca dimaksud. Setelah selesai mandi, ia kemudian segera memakai handuk dan memakai pakaian … Ia menggunakan mukena untuk melaksanakan shalat subuh.

Shalat Mengingatkan Segenap Dosa

Saat Yanti mengucap Allahu Akbar, ia tiba-tiba ingat akan suatu perbuatan tanpa kendali bersama dengan Alamsyah. Ia tidak mengerti mengapa segalanya berubah dengan begitu cepat. Ia tidak mengerti mengapa ia demikian agresif sama seperti apa yang ditampilkan Alamsyah kepada dirinya. Ia merasa sangat berdosa kepada Tuhannya, tentu kepada Alamsyah, karena ia tahu betapa Alamsyah demikian baik dan demikian Islami. Setelah melaksanakan shalat subuh itu, sambil mengangkat kedua tangannya ia berkata:

“Ya Allah … ya rabbi … yang Ghafar …. ya Aziz …. ya Malik … ya quddus … Aku tak sengaja atas semua ini. Kami tidak tahu mengapa malam ini kami melakukan pelanggaran yang sangat dibenci-Mu. Aku tidak tahu dan harus bagaimana akhirnya kami melangkah. Setelah sekian lamanya kami menjaga kesucian diri, dan aku yakin betapa Alamsyah juga melakukan hal yang sama, mengapa malam ini, kami larut dalam segenap dosa besar ini. Di akhir do’a, Yanti berkata: “Rabbana ya rabbana, dhalamna anfusana, wa inlam taghfir lana, watarhamna lana ku nanna, minal khasirin. Ya Tuhan penjaga dan pelindung kami, kami telah dhalim pada diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni dosa kami, maka, kami pasti akan menjadi manusia yang rugi” 

Yanti menangis dengan tetesan air mata yang semakin deras membasahi pipi kiri dan kanan. Saat tangisan itu muncul, Alamsyah bangun dan kaget. Ia segera terbangun dan melihat sosok perempuan putih dengan pakaian serba putih memakai mukena di pinggir kasur yang dia tiduri. Alamsyah hanya mengatakan: Astaghfirullah al adzim … aku di mana?

Yanti menoleh dan tidak berkata sepatah kata apapun. Ia hanya melirik dan mengatakan, kau di sini, di hatiku dan berada dalam segenap jiwa yang dimiliki Sang Pemilik Jiwa. Alamsyah tidak langsung ke WC. Alamsyah justru memeluk erat Yanti dengan berucap: “Yanti, maafkanlah aku … Aku tak mengerti dan aku tak tahu mengapa kita berada di sini. Yanti hanya berkata: Tak apa-apa. Sama aku juga tidak mengerti, mengapa semua ini terjadi.

Malaikat Menjadi Saksi Pernikahan

Yanti idzinkan aku untuk mandi terlebih dahulu. Dengan tetesan air mata yang mengucur deras, Alamsyah dan Yanti melepaskan ikatan tangan mereka dari punggung masing-masing pasangannya. Alamsyah mandi dengan cepat, lalu ia memakai baju dan celana. Setelah itu ia melaksanakan shalat. Setelah Shalat Alamsyah berdo’a.

“Ya Allah … Aku telah berbuat dosa. Dosa yang sangat besar. Aku telah mengotori sosok wanita yang sesungguhnya sangat aku cintai. Aku seharusnya mampu menjaga semua rasa ini, karena rasa ini suci dan berasal dari wujud yang juga suci. Maafkan aku … aku tak kuasa dan aku tak mengerti mengapa semua ini terjadi”

Lalu entah mengapa, Alamsyah meminta Yanti mendekatinya dan memegang tangannya dengan erat. Tiba-tiba Alamsyah berkata: “Ya Allah kuingin Kau menurunkan Malaikat Rahmat untuk menjadi saksi atas pernikahan kami bersama. Dengan mengucap syahadat dan berkata: “kunikahi kamu Yanti dengan maskawin segenap rasa cinta yang kumiliki, dan disaksikan Malaikat yang Tuhan turunkan untuk kita, aku berjanji akan menjagamu dengan atau tanpa sama sekali kamu bisa bertemu kembali sama aku dalam peraduan semacam ini.

Mendengar kalimat yang disampaikan Alamsyah itu, Yanti hanya tersenyum simpul. Yanti tahu, inilah pernikahan filosofi yang tidak ada sejarahnya dalam tradisi agama apapun. Alamsyah hanya ingin sedikit minta celah bahwa apa yang dilakukannya tidak terlalu merasa bersalah baik di hadapan yanti maupun di hadapan Tuhan.

Terima kasih Boss

Setekah prosesi itu, mereka kembali merebah dan enyampaikan permohonan maafnya masing-masing. Tetapi, entah mengapa, mereka justru kembali beradu dalam peraduan asmara yang sulit dibendung. Dalam peraduan inilah, mereka berkata satu sama lain, terima kasih Yanti. Yantipun mengatakan terima kasih Boss …

Alamsyah menutup mulut Yanti dan berkata sssst … aku bukan bossmu. Mulai saat ini aku menjadi suami syahmu karena au tekah kunikahi di hadapan Tuha kita dengan saksi para malaikta-Nya. By. Charly Siera bersambung

Komentar
Memuat...