Hantu itu Bernama Komunisme

Hantu itu Bernama Komunisme
0 51

Komunisme kembali menjadi isu hangat. Isu tahunan yang kalau diikuti dari tahun ke tahun, dalam kasus tertentu terasa basi. Menu sajian tentang PKI; pro maupun kontra selalu tetap sama. Sama-sama mencari kesalahan di pihak lain dengan membela mati-matian atas kemlompoknya masing-masing yang merasa tidak salah. Sialnya juga, kedua pihak merasa paling NKRI.

Sebut misalnya apa yang selama ini secara gigih diperjuangkan mereka yang menyebut bahwa diri dan komunitasnya merasa tidak memperolh HAM. Apa yang dilakukan negara terhadap eks PKI, penting bukan saja direhabilitasi, tetapi, dicari solusi kemanusiaannya. Akhirnya mereka bukan saja nuntut kepada negara untuk memohon maaf, tetapi, juga kemungkinan konvensasi [ekonomi dan politik] atas sikap refresif pemerintah terhadap mereka.

Tudingan kelompok sosialis kiri ini, awalnya ditujukan kepada rezim Orde Baru. Mereka mengganggap bahwa Orde Baru, menempatkan komunisme sebagai sesuatu yang paling menakutkan. Pemerintah Soeharto akhirnya sering melakukan tindakan refresif, atas rasa ketakutannya itu, terhadap apa yang disebut dengan komunisme. Faham komunisme, leninisme dan Marxisme sering pula disebut sebagai benih yang menanamkan faham dimaksud, karena itu harus juga diberangus.

Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden RI ke dua dan terlama dalam sejarah Indonesia, Jenderal Besar Soeharto, karena itu sering pula berhadapan dengan kekuatan sosialis kiri. Karena itu, tidak salah jika Soeharto sering dianggap memanfaatkan isu PKI sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan. Soeharto dengan begitu mudah menuduh beraliran komunis kepada siapa saja yang kritis kepada pemerintahannya. Sama mudahnya seperti saat ini, masyarakat kritis dituduh melakukan makar terhadap kekuasaan.

Tuntutan Kaum Kiri

Dalam anggapan kelompok sosial kiri Indonesia di masa lalu, komunisme tidak mungkin bangkit. Bagaimana mau bangkit, lha di negara asal di mana komunisme itu sendiri muncul, ideologi ini sudah bubar. Mereka gagal membangun negara berdasarkan prinsip sosialis kiri dimaksud. Mereka yang disebut anggota PKI atau underbow organisasi PKI sendiri, juga sama. Apa yang dikatakan Bejo Untung [ILC, 19-9-2017], bahwa dirinya adalah korban kekejaman penguasa atas asumsi tentang komunisme yang salah, dianggap sebagai salah satu contohnya.

Mereka yang senasib dengan Bejo juga sama dan disebutnya jutaan orang jumlahnya. Mereka, menurut Bejo Untung, jangankan ingin membangkitkan komunisme baru di Indonesia. Mereka sangat trauma atas nasib yang menimpa diri dan keluarganya. Mendengar kata PKI sendiri, menurut Bejo, mereka sangat ketakutan. Trauma mereka cukup mendalam.

Komunisme saat ini sudah tumbang. Bukan hanya di Indonesia. Di negeri asalnya seperti Rusia, komunisme hancur. Lihat Uni Soviet. Mereka gagal menjalankan program Glasnot dan prestorika melalui Presiden Gorbachev.  Di negeri asalnya sendiri gagal, bagaimana mungkin di Indonesia komunisme bakal atau harus ditumbuhkan? Inilah sikap yang diambil oleh mereka yang dituduh bagian dari komunisme, atau mereka yang merasa simpati atas nasib bangsa Indonesia yang terjerat komunisme.

Sikap semacam ini, tentu saja berbeda dengan mereka yang berada dalam domain sebaliknya. Kebalikan dari mereka yang “membela Komunisme”, menganggap bahwa komunisme adalah ideologi mapan. Karena ia merupakan suatu ideologi, maka mengutip Mc. Leland (1991) ideologi, termasuk komunisme, tidak mungkin dapat dimatikan. Suatu waktu yang namanya ideologi pasti bakal tumbuh kembali. Mereka juga sama! Trauma atas PKI dan tentu sangat khawatir kalau PKI harus bangkit kembali.

TAP MPRS tentang Komunisme Masih berlaku

Begitu gigihnya pemerintah dan MPR di masa Orde Baru mempertahankan Ketetapan MPRS Nomor 25 Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunisme Indonesia (PKI). Perlu dicatatkan, bahwa Tap dimaksud, sampai saat ini masih berlaku. Karena itu, segala hal yang berbau paham komunis harus tetap dianggap terlarang.

Joko Widodo sebagai Presiden RI yang ke 7, yang dituduh pro terhadap nasib eks PKI, juga telah memerintahkan Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jaksa Agung, dan Panglima TNI serta Badan Intelijen Negara (BIN) untuk menegakkan hukum atas mereka yang melanggar Tap dimaksud. Mengapa? Karena Tap tersebut  masih berlaku. Jokowi sendiri tampaknya, sadar, tidak mungkin Taf dimaksud dicabut.

Presiden juga telah meminta kepada lembaga-lembaga negara di atas, untuk melakukan pendekatan hukum karena TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966 masih berlaku. Itulah setidaknya, apa yang disampaikan, Jenderal Haiti saat dia masih menjabat Kapolri pada hari Selasa (10/5/2016).

Berbeda dengan sikap pemerintahan Orde Baru, era Jokowi, isu soal komunisme tidak didengungkan oleh negara. Justru yang menjadi lokomotif kekhawatiran akan munculnya komunisme, berasal dari akar rumput massa. Karena ia berasal dari akar rumput massa, maka, berbagai komentar dan telahaan terhadap isu komunisme ini, seringkali hanya merupakan respon atas apa yang dikeluhkan warga masyarakat tadi.

Membaca Isi Tap MPRS tentang Komunisme

Apa isi Tap MPRS Nomor 25 tahun 1965? Ternyata dalam Tap dimaksud disebutkan bahwa komunisme dilarang beredar di Indonesia. Larangan dimaksud sampai juga pada soal penyebaran ajaran-ajaran komunisme, Leninisme dan Marxisme sebagai faham komunisme dan larangan atas beredarnya symbol-simbol komunisme.

Karena Tap tadi masih berlaku sampai saat ini, maka, terhadap mereka yang menyebarkan ajaran komunisme dan menggunakan symbol-simbol komunisme, mereka akan mendapatkan sanksi hukum karena bukan hanya sekedar bertentangan dengan Tap MPR. Tetapi juga melawan Undang-undang Nomor 27 Tahun 1996 tentang Perubahan Pasal 107 KUHP. Dalam UU tersebut, ada penambahan pada Pasal 107 KUHP, yakni pemerintah melarang kegiatan penyebaran atau pengembangan paham komunisme, Leninisme dan Marxisme dalam bentuk apapun.

Mungkin karena dengan logika seperti itulah, masyarakat Indonesia hari ini, begitu sensitive melihat dan menganalisa symbol palu arit. Terlebih jika symbol itu terletak dalam wilayah yang sangat strategis seperti munculnya asumsi adanya gambar dimaksud dalam pecahan uang kertas seratus ribu rupiah. Meski belum pasti, itu bagian dari gambar palu arit, rakyat demikian mudah memberitakannya. Ada apa sesungguhnya dengan semua ini … ? Kami hanya melihatnya, ternyata sampai saat ini, Komunisme masih menjadi hantu menakutkan, termasuk menakutkan bagi masyarakat … Lyceum editor

Komentar
Memuat...