Inspirasi Tanpa Batas

HANTU LAUT KWATISORE DI TELUK CENDERAWASIH PAPUA

HANTU LAUT KWATISORE DI TELUK CENDERAWASIH PAPUA
0 127

Taman nasional Cenderawasih adalah taman nasional perairan laut terluas di Indonesia. Ada 150 jenis jenis terumbu karang yang tersebar di tepian 18 pulau besar dan kecil. Koleksi ikannya sangat mengagumkan. Lebih dari 200 jenis ikan menjadi penghuni setia kawasan ini. Kekayaan hutan laut itulah yang mengundang wisatawan datang ke sini. Namun dari sekian banyak jenis ikan di sana, yang sangat ingin wisatawan jumpai adalah ikan hantu. Ikan hantu adalah sebutan untuk hiu paus (Rhicno-don pytus).

Masyaratakat dan nelayan di Kwatisore menyebut ikan hiu paus sebagai ikan hantu karena kerap tiba-tiba muncul di samping perahu dan menggesek-gerekkan tubuhnya ke badan perahu.

Hanya di Kwatisore ikan hiu paus berenang ke permukaan, menggesek-gesekkan tubuh 9 tonnya ke perahu nelayan dan bercanda dengan nelayan dan penumpang yang ada di perahu. Benar-benar petualangan yang membutuhkan nyali.

Di bawah kapal nelayan, ikan hiu paus berkeliaran berburu ikan teri yang tertagkap di jaring-jaring nelayan. Terdengar bunyi ngosh-ngosh-ngosh dari mulut hiu paus yang menhisap jaring-jaring ikan. Empat hiu paus berwarna keabu-abuan dengan totol totol putih di sekujur tubuhnya itu berenang di bawah kapal nelayan membuat bulu kuduk penumpang berdiri. Bagi para penyelam, bertemu dengan ikan hiu paus adalah mimpi indah.

Ini satu-satunya di dunia. Di tempat lain seperti di Australia dan Thailand, susah sekali menemukan ikan hiu paus. Mereka selalu hidup di kedalaman dan jarang muncul ke permukaan. Kadang harus menggunakan helikopter untuk mencarinya. Kalaupun ketemu, paling bisa melihatnya hanya 5-10 menit. Tapi di Kwatisore hiu paus muncul sepanjang tahun dan mau berinteraksi dengan manusia.

Ikan terbesar di dunia ini memang terlihat menakutkan seperti hantu. Tubuhnya bisa mencapai 9 ton dengan panjang 10 meter. Nelayan di Indonesia bagian Timur menyebutnya gurano bintang (hiu bertotol) karena kulitnya bertotol.

Menurut Yance, warga asliwarga asli Kwatisore, masyarakat desa percaya bahwa ikan hantu adalah hewan adat. Di Desa Kwatisore terdapat situs Bukit Batu Meja, yaki bukit setinggi 200 meter yang di atasnya terdapat batu besar berbentuk meja. Dari sana, Kwatisore tampak seperti ekor hiu paus. Yance berkata, “bentuk pulau yang seperti ekor hiu paus membuat kami percaya bahwa Kwatisore memang rumah tinggal mereka. Kami dilarang mengkonsumsinya”.

Mulut ikan hiu paus itu menyeringai menakutkan. Namun badannya yang bergerak pelan membuatnya terlihat menggemaskan. Sepanjang tidak diganggu, mereka tidak berbahaya. Jangan berenang dekat ekor karena bisa terkena gibasan ketika mereka bergerak. Juga jangan membawa bunyi-bunyian karena pendengarannya sangat sensitif.

Mulut ikan hiu paus sangat lebar dan mampu menghisap segala benda dan daya sedotnya sangat kuat. Apa saja yang ada di sekitar mulutnya akan dihisap tanpa ampun. Jika meras yang terhisap itu bukan makanannya, biasanya suka disemburkan lagi.

Taman Nasional Cenderawasih bekerja sama dengan Word Wide Fund Indonesia memasang penada radio frequency identification (RFID tag) dan satelit tag. Dengan tag ini, peneliti dapat mengamati pola migrasi dan perilaku setiap hiu. Berdasarkan survey, total ada 70 ikan hiu paus yang ditemukan di sekitar Kwatisore.  Penelitian selanjutnya, 50 ekor telah dipasang penada RFID sejan Juni 2012, 14 ekor dipasang penada satelit sejak Mei 2011, dan 8 ekor lagi dipasangi penada satelit pada April 2013, ujar Beny Ahadian Noor, kepala proyek WWF-Indonesia untuk Teluk Cenderawasih.

Beberapa ekor diketahui berenang hingga Donsol, Fiipina. Selama dua minggu mereka berenang pulang-pergi di kedalaman 70 meter. Jarak Kwatisore-Donsol sekitar 2.500 km. Belum diketahui kenapa bermain begitu jauh.

Bagi kamu yang suka dengan keindahan bawah laut dan suka menyelam, kamu harus banget datang ke Kwatisore supaya bisa melihat pemandangan langka yang berbeda dan tidak ada di tempat lain.

Komentar
Memuat...