Hanya Air Mata yang Setia Menemani | Cinta Menguasai Segala Kuasa Part 1

0 99

Melelehlah air mata itu. Laki-laki di kisaran umur 40 tahun itu, seperti tidak menyadari bahwa air matanya terus mengalir membasahi seluruh mukanya. Air mata itu, bahkan menggenangkan bibir yang dia punya. Entahlah … ! Laki-laki itu tampak sangat galau. Pandangan matanya kosong. Ia duduk sendiri di teras depan rumahnya … Kepulan asap rokok yang dia hisap, kelihatannya tak mampu menyembunyikan rasa duka yang menggelora dalam tubuhnya.

Di depan rumahnya, tersedia meja kecil dan di atasnya selalu ada kerta dan pensil. Maklum dia adalah salah satu Rektor Perguruan Tinggi Swasta di negeri Penuh Angin. Tampak, sewaktu-waktu dia mencorat-coret sesuatu di atas kertas. Coretan yang menuliskan sesuatu entah untuk siapa. Tetapi yang pasti dia menulis sebuah peristiwa.

Entah berapa lembar kerta terbuang karena konsepnya merasa kurang. Sisa-sisa tulisan yang tidak terpakai, menyebabkan beberapa sobekan kertas berhamburan dan berceceran di meja dan di teras rumahnya. Ia persis seperti penyusun naskah teks proklamasi yang dibuat Soekarno-Hatta saat dalam pengasingan Pemuda Indonesia.

Mela Pembantu Rumah yang Suka Ngintip

Hanya Mela, pembantu rumahnya yang lulus SLTA, yang setia melayaninya. Ia yang memiliki kemampuan membaca dari jarak jauh sekalipun, berhasil membaca beberapa kosa kata yang ditulis majikannya. Sobekan kertas yang tampaknya tidak dia gunakan dibaca dengan seksama oleh Mela. Di antara tulisan dalam robekan kerta yang diba Mela itu adalah:

“Aku tak menyangka, ternyata cinta membuat aku larut. Larut dalam cahaya ketuhanan yang tak berhingga. Larut dalam kebahagiaan yang hampir tak pernah aku temukan. Namun, saat suasana seperti ini mengunci langkahku, sejujurnya, aku kehilangan atau merasa kehilangan atas sesuatu. Cinta sejenis ini, telah mendorong diri ku menjadi demikian cengeng. Air mata ini tak kubuat dengan sengaja. Air mata ini mengalir begitu cepat dan tak mampu kubendung”

Dalam lembaran lain, laki-laki itu juga menulis sesuatu yang dapat menghentak jiwa siapapun yang membacanya. Mela, si pembantu rumah yang suka ngintip itu, kemudian membaca tulisan tuannya. Mela juga hampir tak kuasa kecuali meneteskan air mata. Bagaimana mungkin sosok laki-laki yang tampak sangat gagah itu, tiba-tiba luruh dalam bayangan kerinduan yang tampaknya sulit dia bendung. Tulisan itu berbunyi:

Tuhan, inikah aku saat ini? Haruskah aku jatuh karena apa yang kucintai. Haruskah aku luruh karena rasa rindu yang membelenggu jiwaku. Haruskah kuakhiri semua peristiwa yang bakal kualami, karena aku merasa bersalah atas rasa cintai dan memiliki kerinduan akan sesuatu yang juga mungkin salah. Ya ,,, Tuhan, ternyata jika apa yang aku cintai pergi atau merasa berlalu dari diriku, atau dipandang menghilang, betapa aku merasa dibuat sendiri. Semua peristiwa yang kualami bersamanya, sebetatapun aku merasa bersalah atasnya, ternyata telah membuat aku ekstasi atas semua rasa yang kupunya. Kepergiannya selalu menyisakan duka yang tak mungkin mampu ditebus apapun.

Cinta dan Sensitivitas Rasa

Laki-laki yang masih gagah itu, belakangan tampak mulai sensitiv dengan tingkat sensitivtas yang sangat sempurna. Aroma keindahan dan keberpihakan pada rasa yang dia punya, telah mendorong dirinya untuk terus mengingat setiap peristiwa keindahan, tentu bersamanya, masalah yang melingkupinya.

Mela mampu mendengar sebuah kalimat yang sering diungkapkan majikannya. Kalimat itu adalah, Tuhan … aku merasa dialah yang terbaik untukku. Kupercayakan seluruh hatiku kepadanya. Apakah salah aku mencintainya? Ya Tuhan … bimbinglah aku dalam segenap ketidakmampuanku untuk menahan semua rasa ini.

Dia lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia bingung mau beranjak ke mana. Ke kantornya, ia tidak mau dan malas. Pergi ke luar kota, ia merasa bosan. Akhirnya, ia memilih mengambil jalan lain untuk mengistirahatkan tubuhnya, dengan cara masuk ke dalam kamar, lalu dia tiduran dengan selimut yang sangat tebal.

Laki-laki itu, bernama  Andhika Praja. Seorang gentlement yang dalam ukuran tertentu, memenuhi persyaratan kesempuranaan sebagai seorang laki-laki. Tetapi, ternyata ia terkapar dalam duka sebuah cinta yang tak mungkin mampu dia utas dalam pragmentasi kehidupan nyata. Andhika hanya mampu merenung dan mengenang suatu sosok yang patut untuk disebutnya sebagai cinta sejati. Cinta yang mengajarkan dirinya akan posisinya sebagai laki-laki yang sempurna.

Di kasur ia tidak mampu tidur. Kasur malah membawa dirinya terbang ke alam yang tak mungkin mampu ditepiskan. Lalu ia teringat seorang kawannya, yang dia berinama Rangga Sukma. Ia kemudian mebuka nomor telephon temannya itu, tetapi, sayang nomornya selalu mati. Tuhan kepada siapa aku mengadu selain kepadamu. Bersambung … By. Charly Siera

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.