Inspirasi Tanpa Batas

Hanya Di Indonesia 5 Kebiasaan Pengguanaan Jalan Umum Yang Sering Menuai Kontroversi

0 6

Konten Sponsor

Pernah kepikiran gak kalau hal-hal yang kamu temui saat berkendara itu kadang banyak yang janggal, ngeselin dan kadang bikin emosi naik. Ini banyak di temui di negara tercinta kita ini sobat. Beberapa di antaranya ini hanya terjadi di indonesia. Sebenarnya bukan untuk membanding-bandingkan atau menghilangkan sisi positifnya. Namun ini sesuai etika atau enggaknya, sesuai hukum yang berlaku apa nggak?  jangan sampai kesanya seperti kata pepatah yang ini “Jalan pintas dianggap patas” apa aja Kebiasaan Pengguanaan Jalan Umum Yang Menuai Kontroversi? Berikut ini beberapa diantaranya:

Penggunaan Jalan Untuk Hajatan (pesta Pernikahan) atau Kadang Menutup Jalan

Sebenarnya penggunaan jalan untuk pesta pernikahan termasuk sebagai penggunaan jalan untuk kepentingan pribadi. Jika penggunaan jalan untuk kepentingan pribadi tersebut mengakibatkan penutupan jalan, maka penggunaan jalan dapat diizinkan apabila ada jalan alternatif.

Jika penggunaan jalan tersebut mengakibatkan penutupan jalan, harus ada izin penggunaan jalan yang diberikan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. Namun, kebanyakan mereka yang mengunakan jalan untuk keperluan ini sering membuat pengguna jalan risih atau kesal. Apalagi ketika jalan alternatif sempit dan jauh.  Pernah ngerasain? Kamu bisa nilai sendiri.

Di Indonesia, Trotoar Yang Kecil itu sering di Gunakan untuk bejualan, Parkir kendaraan bermotor

Pernah gak melihat pedagang kaki lima berjualan di trotoar? pernah gak ngerasa risih dengan keadaan itu? Seperti kita ketahui trotoar adalah jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan. Fungsinya untuk meningkatkan keamanan pejalan kaki yang bersangkutan. Untuk keamanan pejalan kaki maka trotoar ini haru s dibuat terpisah dari jalur lalu lintas kendaraan.

sudah kecil, di tambah lagi banyak orang yang salah kaprah atas keberadaan trotoar ini. Perlu tidaknya trotoar dapat diidentifikasikan oleh volume para pejalan kaki yang berjalan dijalan, tingkat kecelakaan antara kendaraan dengan pejalan kaki dan pengaduan atau permintaan masyarakat. Lebar fasilitas pejalan kaki yang ideal bisa dihitung dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut:

w = P/35+1,5

Dimana: P = volume pejalan kaki (Orang/menit/meter) W = lebar fasilitas pejalan kaki (meter). Bila pada fasilitas pejalan kaki masih ditambah dengan perabot jalan atau fasilitas lainnya maka perlu ada pelebaran untuk fasilitas tersebut dari hasil perhitungan sebagaimana rumusan diatas.

Di Indonesia, Polisi tidur yang tidak sesuai aturan, ketentuan dan tidak sesuai Regulasi

Speed bump atau yang dikenal di Indonesia sebagai polisi tidur ini banyak dibuat dengan seenaknya. Pasti Anda banyak menjumpai polisi tidur dibuat sangat tinggi dengan jarak antar satu dengan yang lain yang tak berperikemanusiaan. Padahal peraturan pembuatan polisi tidur telah tertulis dalam undang-undang.

Polisi tidur tertera pada uu pasal 25 ayat (1) soal perlengkapan jalan. Namun pembuatan polisi tidur pun harus mendapat izin dari pihak yang berwenang sesuai dengan UU pasal 27 ayat (2) bahwa ketentuan mengenai pemasangan perlengkapan jalan pada jalan lingkungan tertentu diatur dalam peraturan daerah.

Menurut peraturan Menteri Perhubungan No.3/1994 Pasal 4: “Alat pembatas kecepatan kendaraan hanya bisa dipasang di jalan pemukiman, jalan lokal kelas IIIC, dan jalan-jalan yang sedang dilakukan konstruksi. Selain itu perlu didahului dengan rambu peringatan”; Pasal 5: “Pembatas kecepatan kendaraan harus dibuat dengan ketinggian maksimal 12 cm, lebar minimal 15 cm, dan sisi miring dengan kelandaian maksimal 15%”. Namun ini rupanya ini kadang diabaikan.

Padahal telah disiapkan pula ketentuan pidana bagi yang melanggar Pasal 28 ayat (1) dan (2) dengan ancaman hukuman pidana. Sebagaimana diterangkan dengan rinci pada Pasal 274 dan 275 UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Umum yaitu, “Setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan kerusakan dan/atau gangguan fungsi Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah)”.

Di indonesia Jalan Berlubang Dianggap Biasa, Akhirnya penanaman Pohon di jalan raya sudah dianggap Biasa

sering banget mendengar berita tentang jalan rusak, kecelakaan gara-gara jalan berlubang atau ngerasain sendiri bagaimana perjuangan melewati jalan berlubang. apalagi daerah yang terpencil ngeri banget. Peran pemerintah dalam menunjang kebutuhan masyarakat ini masih rendah dan kadang kurang diperhatikan. tak ayal menanam pohon di jalan dianggap biasa oleh mereka pengguna jalan yang merasa kesal akan hal ini.

lemahnya peraturan pemerintah tentang kelebihan beban kendaraan menjadi salah satu faktor pemicu cepat rusaknya jalaln. di tambah lagi perbaikan yang tidak konsisiten memperburuk rata-rata kondisi jalan di negara kita ini.

Di Indonesia Zebra Cros Hampir tidak dihargai keberadaanya

Hanya Di Indonesia 5 Kebiasaan Pengguanaan Jalan Umum Yang Sering Menuai Kontroversi. Kontroversi Hajatan di jalan, Aturan Polisi tidur, aturan Zebra Cross

Banyak sekali jasa yang dapat diberikan dari jalur penyebrangan zebra cross, bukan saja untuk sekedar ‘nyebrang’ jalan. Namun juga sebagai fasilitas penunjang tata kota tentang keselamatan dan kenyamanan warga nya di jalan raya. Mungkin masih banyak yang belum tahu, tidak tahu, tahu tapi lupa, atau tahu tapi masa bodo tentang fasilitas yang diperuntukan bagi penyebrang di jalan raya ini.

Atau mungkin juga kurangnya informasi yang didapatkan mengenai fungsi zebra cross, Sehingga hampir setiap waktu di jalan raya, terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh oknum pengemudi/pengguna jalan terhadap zebra cross, yang secara tidak sadar sedangkan hal itu adalah ilegal dan melanggar hukum.

seringkali terjadi rasa kesal yang dialami oleh penyebrang jalan, disana terdapat zebra cross namun ketika hendak menyebrang jalan, malah mendengar bunyi klakson dari kendaraan yang lewat “Sudah pakai Zebra Cross masih di klakson juga”. Ketika berhenti di persimpangan jalan ketika lampu merah rambu lalu lintas menyala dan bermaksud untuk menyeberang jalan, ternyata masih saja didapati kendaraan yang lalu lalang pada sarana zebra cross yang akan dilalui. Sehingga dapat diambil satu kesimpulan bahwa menyebrang di zebra cross masih belum bisa dikatakan aman bagi penyeberang jalan.

Pelanggaran terhadap rambu-rambu dan marka jalan dapat dikenakan sanksi sebagaimana diatur dalam UU No. 22 tahun 2009 tentang LLAJ diantaranya:

Pasal 106 (ayat 2) bahwa Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki dan pesepeda, dan Pasal 106 (Ayat 4) bahwa Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mematuhi ketentuan rambu-rambu dan Marka Jalan. Pasal 116 bahwa (ayat 1) Pengemudi harus memperlambat kendaraannya sesuai dengan Rambu Lalu Lintas, (ayat 2 huruf f) dan apabila melihat dan mengetahui ada Pejalan Kaki yang akan menyeberang.

Pasal 287 bahwa Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan Rambu Lalu Lintas atau Marka Jalan dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).

ada banyak kesalahan yang dianggap biasa dalam penggunaan jalan umum, kepekaan sosoial tentu sangat dibutuhkan. Kalau seluruh pengguna jalan dan pemerintah sadar akan fungsi janan dan aturan yang di regulasikan, ini mungkin tidak akan terjadi. [aL/dari berbagai sumber]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar