Hanya Tuhan yang Kucinta dalam Shufi Cinta Part-2

0 21

Rabiatul Adawiyah, hidup dari keluarga miskin yang penuh nestapa. Dunia khilafah Islamiyah saat itu, sedang jauh dari upayanya untuk memakmurkan rakyatnya. Ia yang sempat mengabdi di kerajaan dengan posisi sebagai “gundik”, yakni pada kerjaan Daulah Umawiyah I di Damaskus, menceburkan diri pada dunia yang penuh tipu Muslihat, sampai kemudian dia sadar dan dikabulkan do’anya oleh Allah untuk kembali ke jalan yang benar berdasarkan hukum-hukum Tuhan.

Banyak malam setelah dia insyaf dan sadar itu, dihabiskannya untuk berdoa kepada Allah agar segera ke luar dari krisis moral yang dihadapinya. Akhirnya, doanya itu dikabul karena raja memberikan kebebasan kepada dirinya. Setelah dia ke luar dari kerajaan yang banyak melakukan maksiat dimaksud, ia hanya menghabiskan dirinya bersama segenap rasa cintanya kepada Tuhan yang dia anut.

Dengan latar belakang kehidupan semacam itu, Rabiatul Adawiyah memiliki pikiran generic tentang konsep tasawuf sebagai antitesa dari kehidupan sebelumnya. Rabiatul Adawiyah mengembangkan suatu konsep hidup atas dasar Zuhud, dan mengisi kehidupan dengan jalan selalu beribadah kepada Allah semata. Allah adalah tumpuan cinta manusia yang beriman kepadanya. Salah satu bukti atas konsep semcam ini, dapat dilihat dalam phrase syair berikut ini:

“Aku tinggalkan cintanya Laila dan Su’da dengan cara mengasingkan diri. Aku kembali bersama rumahku yang pertama, yakni rumah penuh ketuhanan. Rumah ini selalu menyembulkan suatu kerinduan. Inilah tempat kerinduan cinta maha abadi … “.

Beberapa Pikiran Cinta Rabiatul Adawiyah

Siapakah sosok cinta sejati Rabi’ah Adawiyah? Ternyata cinta abadi Rabi’ah Adawiyah adalah kepada Tuhannya. Cinta kepada Tuhan inilah yang telah melebihi segala cinta yang ada dan dia miliki. Cinta abadi yang tidak takut pada apapun walau masuk ke dalam neraka sekalipun. Mari kita lihat ungkapan cintanya dalam syair berikut ini:

“Ya Tuhan …. Kujadikan Engkau teman percakapan hatiku, Tubuh kasarku biarkanlah berbicara dengan manusia pada umumnya. Biarkanlah jasadku bercengkrama dengan tulangku bersama manusia dan seluruh makhluk-Mu. Tetapi isi hatiku hanyalah tetap menyatu dengan-Mu …”.

Maqam tertinggi tentang ajaran tasawuf yang dikembangkan tokoh shufi wanita Muslimah ini adalah, cinta. Hal ini terlihat dari syair berikut: “Kucintai Engkau lantaran aku memang mencinta-Nya, Hanya karena Engkau yang patut dicintai, maka, telah terkubur semua cinta kemanusiaanku. Cintaku lah yang membuat rinduku pada-Mu, Demi cinta suci ini, bukalah… Tabir penutup tatapan-kuagar Engkau dapat tetap mencintaikuseperti apapun aku … ” Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.