Inspirasi Tanpa Batas

Hati, Mata dan Telinga adalah Alat Memperoleh Kebenaran | Takwa Part_7

0 48

HATI, Mata dan Telinga. Di bagian ke tujuh edisi ini, penulis telah menyebut bahwa ciri manusia yang beriman adalah selalu terbuka kepada kebenaran yang mungkin datang dari pihak lain. Iman yang dalam literasi keagamaan yang saya anut, selalu akan menjadi driving post kehidupan itu, adalah fondasi atau landasan utama dalam setiap bangunan kehidupan yang kita jalani. Hidup hanya akan berguna dan bermanfaat jika didalamnya mengandung terminologi keimanan, karena keimanan akan selalu menjadi cahaya kehidupan.

Karena itu, menjadi dapat difahami. Mengapa Rasul Muhammad menyatakan bahwa:

“Sebanyak apapun dosa yang dibuat manusia, sepanjang ia tidak mensekutukan Tuhan, selalu akan ada jalan menuju syurga Tuhan, sekalipun keimanan itu hanya sebesar biji sawi yang sangat kecil.”

Mengapa nabi menyatakan hal demikian? Karena ternyata dengan keimanan yang dimiliki manusia — sebetapapun jahatnya kehidupan seseorang– ia akan selalu memiliki pelita untuk mendapatkan kebenaran.

Cara Menjadi Manusia Terbuka

Teknik yang tepat untuk membuat manusia menjadi terbuka adalah, memfungsikan hati, mata dan telinga sebagai alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Dalam logika ini, maka, saya memiliki suatu asumsi umum bahwa, sejatinya hanya orang yang berimanlah yang seharusnya memperoleh dan memiliki ilmu pengetahuan. Mengapa? Karena hati, mata dan pendengaran mereka selalu terbuka. Dengan jalan terbuka atas tiga alat inilah, sejatinya ilmu pengetahuan dapat diperoleh seseorang.

Dalam nalar lain, dapat pula disebutkan bahwa mereka yang beriman, secara praksis akan selalu menempatkan ilmu pengetahuan. Sebagai jalan memperoleh kebenaran. Kebenaran diyakininya tidak mungkin didapatkan hanya dengan asumsi berasal dari orang tua, tradisi baku dan sejumlah term tdeologi lain yang mengikat. Mengapa? Karena secara empiris, ilmu pengetahuan hanya akan dapat diperoleh oleh mereka yang mampu memfungsikan hati, mata dan pendengarannya dalam fungsinya yang tepat. Jika tidak, maka, ilmu tidak mungkin diperolehnya.

Hati, mata dan telinga manusia beriman tidak terkunci. Hati, mata dan pendengaran yang terkunci, hanya dimiliki manusia kafir. Sebagaimana  firman Allah dalam al Qur’an surat al Baqarah [2]: 7. Menyatakan:

“Allah telah mengunci hati, pendengaran dan penglihatan mereka –akan suatu kebenaran– dengan kunci yang sangat kuat. Dan mereka itu akan mendapatkan adzab yang sangat pedih.” ** (Prof. Cecep Sumarna)

Komentar
Memuat...