Hermeneutika dalam Kajian Al Quran

Hermeneutika dalam Kajian Al Quran
2 149

Meski masih diragukan tingkat kebenarannya, hermeneutika diambil dari nama suatu Dewa yang populer di kalangan masyarakat Yunani Kuna. Nama dewa dimaksud disebut dengan Hermeus. Hermeus dianggap Dewa yang ditahbiskan sebagai penerjemah pesan moral para Dewa yang dibebankan kepadanya. Tujuannya agar pesan maha dewa itu dapat disampaikan kepada manusia.

Hermes sendiri menurut Seyyed Hossein Nasr (1989: 7l), karena itu layak disandingkan kepada Nabi Idris yang banyak disebut dalam al-Quran. Jika benar Hermes itu Idris, maka nama yang terakhir ini tidak lagi asing di telinga banyak orang Muslim; awam maupun terdidik. Nama ldris telah menjadi legenda menarik bukan hanya karena keunikan prilakunya dengan congkak melawan Tuhan untuk tidak meninggalkan Syurga ketika ia diberi “visa” kunjungan ke dalamnya. Lebih dari itu, ia juga dikisahkan sebagai seorang ahli dalam bidang pertenunan dan penjahitan pakaian.

Ia dikenal menggeluti pekerjaan itu dengan tertib, baik dan indah. Ia memiliki kepandaian bertutur kata yang baik dan penuh bijaksana. Oleh karena itu, di zamannya ia merupakan pusat segala informasi dan petunjuk untuk seluruh manusia meski pekerjaannya hanya sebagai tukang jahit. Pekerjaan Idris sebagai tukang jahit atau pemintal, dianggap kelompok kontekstualis sebagai kata qiyasi. Sebab seperti Vincent Crapanzano (1992: 119) katakan, kata kerja “memintal” atau menjahit dalam bahasa Latin sering disebut dengan istilah tegere yang produknya dapat disebut textus atau text.

Karena itu, kata kerja ini dapat diartikan sebagai orang yang ahli dalam menafsirkan sebuah teks. Pekerjaan Hermes yang sebenarnya adalah menginterpretasikan pesan Tuhan yang menggunakan “bahasa langit” agar dapat difahami manusia yang menggunakan “bahasa bumi”. Itulah makna metaforis dari cara kerja Idris yang ditamsilkan sebagai tukang “pemintal”, yakni memintal atau merangkai kata yang berasal dari Tuhan agar mudah difahami (dikerjakan) oleh manusia.

Jadi sejak awal, Hermes selalu berurusan dengan tugas untuk menerangkan kata-kata dan teks yang dirasakan asing (alien speech) oleh masyarakat. Kitab suci Islam (al-Quran), menyebut Idris sebagai salah seorang Nabi. Kedudukannya bahkan ditempatkan sebagai salah satu nama bersama dua puluh empat Nabi dan Rasul lainnya yang wajib diketahui umat Islam. Ia seperti para Nabi dan Rasul lain, ketika membawa teks suci agama, menurut Paul Ricoeur, selalu memunculkan masalah baru yakni bagaimana menginterpretasikan bahasa Tuhan ke dalam bahasa manusia. Dialog Tuhan dengan Para utusan- Nya akan menyulitkan para Rasul untuk mencari artikulasi yang pas dengan bahasa manusia. Kondisi itu pula tampaknya yang dialami oleh Idris, sehingga ia berada pada sosok sebagai penafsir tunggal di zamannya.

Kebutuhan Hermeneutika dalam Memahami al Qur’an

Beberapa dekade terakhir, gugatan terhadap produk-produk tafsir Al-Quran masa lalu, sudah mulai marak. Terlebih ketika muncul suatu titik temu yang menjembatani dua titik ekstrim (pro dan kontra), pada suatu keyakinan yang sama akan relativitas pemahaman mufassir. Misalnya, suatu sikap yang menyatakan bahwa hanya Tuhan lah yang benar-benar memahami maksud sejati dari teks-teks suci al-Quran. Karena itu, semua penafsiran pasti bersipat relatif.

Bahasa Arab yang menjadi bahasa al-Quran sebagaimana surat Yusuf [12: 2] menjelaskannya, adalah teks yang sarat dengan kreativitas manusia. Berbagai perbedaan di kalangan mufasir sendiri baik secara geografis, sosio kultural dan antopologis, politis dan budaya yang melingkupi masa lalu dan masa kini, akan mempengaruhi pola penafsiran teks al Qur’an.

Memposisikan penafsiran atas al Qur’an yang seperti itu, jelas terdengar tidak merdu bagi kalangan yang mensakralisasi al-Quran secara membabi buta. Bahasa al-Quran seolah menjadi wadah yang terlalu kecil untuk mewadahi realitas agung yang ingin disampaikan Tuhan.Dengan dan dalam posisi seperti itulah, kajian tentang hermeneutika dibutuhkan. By. Cecep Sumarna

 

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. lyceum berkata

    Karena creator utama al Qur’an adalah Allah, maka, yang mengerti secara utuh atas setiap kata yang dimiliki al Qur’an tentu selain Rasul-Nya adalah Allah. Selain Allah –tentu untuk saat ini, karena rasul-Nya sendiri sudah wafat, maka, yang mengerti benar hanya Allah

  2. Wahid Abdurrokhman berkata

    apa yang di maksud dengan kalimat ini pak “Asumsinya, tidak ada orang yang secara benar persis memahami benar apa yang dimaksudkan Tuhan tentang ayat per ayat al-Quran.”

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.