Inspirasi Tanpa Batas

Hermeneutika Dalam Pikiran Arkoun

0 25

Konten Sponsor

Sebagai salah satu metode tafsir dalam konteks wacana sebagaimana beberapa tulisan saya tentang hermeneutika, dalam beberapa memang patut untuk diuji efektivitas penafsirannya. Tafsir dengan pola teks ini, memang tampak memiliki relevansi yang cukup urgen bila dipakai dalam memahami pesan al-Quran agar subtilitas intelegensi (ketepatan pemahaman) dari pesan Tuhan dapat ditelusuri secara komprehensif.

Maksudnya, pesan Allah itu tidak hanya difahami dalam konteks tekstual, tetapi difahami dalam konteks yang lebih menyeluruh dengan tidak membatasi diri pada teks dan konteks.

Di sini dapat diilustrasikan bahwa hermeneutika adalah diskursus bahasa. Akibatnya, wacana dialektis antara teks dan wacana akan selalu hidup. Dalam wacana ini terdapat tiga faktor yang senantiasa dipertimbangkan. Ketiga faktor dimaksud, adalah dunia teks, dunia pengarang dan dunia pembaca. Tiga aspek psikologis ini menjadi wacana yang tidak pernah berhenti dan mesti terus dikembangkan dalam wacana tafsir hermeneutika.

Tokoh Hermeneutik Dunia Islam

Dalam dunia lslam telah dikenal dua tokoh yang sangat concern pada persoalan penafsiran hermeneutik kontekstual, meski tidak memverbalkannya dalam kata hemeneutika dalam memahami teks suci al-Quran. Dua tokoh itu adalah Fazlur Rahman dan Muhammad Arkoun. Rahman [1995: 21] menyatakan bahwa pesan moral al-Quran mesti difahami secara adikuat dan efektif, menyeluruh terhadap perkembangan kronologisnya dan bukan merupakan pemahaman parsial ayat per ayat. Itu dianggapnya sebagai sesuatu yang mutlak.

Namun jika dibandingkan dengan Rahman, Arkoun tampaknya jauh lebih liberal karena ia telah memfixasi konsep hermenutik dalam memahami al-Quran. Dalam pemikirannya, Arkoun sering memakai paradigma berfikir Paul Ricoeur dengan memperkenalkan tiga stratifikasi wahyu Tuhan dalam bentuk al-Quran. Arkoun menyatakan bahwa ada tiga level “perkataan Tuhan” atau tingkatan wahyu. Pertama, wahyu sebagai firman Allah yang transenden, yaitu wahyu yang terdapat di lauh mahfudz dan um al kitab. Kedua,wahyu yang nampak dalam proses sejarah. Merujuk pada al-Quran, wahyu dalam level ini menunjuk pada realitas firman Allah sebagaimana diturunkan kepada Nabi Muhammad selama lebih dua puluh tahun dengan menggunakan bahasa Arab. Ketiga, wahyu dalam konteks mushaf utsmani yang sampai sekarang beredar di kalangan masyarakat.

Pikiran Arkound dalam Memahami Wahyu

Menurut Arkoun, ketiga tingkatan wahyu itu akan sangat berpengaruh terhadap penafsiran ayat-ayat per ayat dalam al-Quran. Namun dalam realitas sejarah keilmuan tafsir, ketiga model ini ditafsirkan dalam satu bentuk yang sama sehingga wahyu Tuhan itu ditempatkan dalam otoritas yang sama yaitu berada pada skemaTuhan. Padahal pada masing-masing levelnya terdapat otoritas yang masing-masing berbeda.

Arkoun mengutip hadits Nabi yang berbunyi: “seseorang tidak dapat dikatakan faham sefaham-fahamnya sampai ia melihat berbagai kemungkinan pengertian al-Quran”. Berdasarkan hadits ini, ia menyatakan bahwa al-Quran dapat dibaca dan karenanya dapat ditafsirkan dengan berbagai macam cara. Dan karena itu pula tampaknya, mengapa Arkoun melakukan eksplorasi makna terhadap al-Quran. La juga menyatakan bahwa al-Quran tidak serba transenden yang menegaskan hubungan apapun dengan sejarah manusia. Pada tataran ini, Arkoun kelihatannya menggunakan paradigma berfikir seperti yang selama ini dipakai W.M. Watt yang sering menggunakan pendekatan historism fenomenologis terhadap al-Quran. Sebab baik Arkoun maupun Watt, keduanya terlibat dalam suatu wacana besar bahwa al-Quran adalah produk sejarah. Tetapi pada saat yang sama ia juga menyatakan bahwa al-Quran adalah wahyu transenden yang diterima Nabi Muhammad.

Lebih lanjut Arkoun (1987: 245) menyatakan bahwa al-Quran adalah fenomena bacaan, bukan yang dibaca. Hal ini karena, al-Quran sebelum ditulis adalah pernyataan lisan. Di sini, Arkoun hampir sama dengan Abu Zayd yang menyatakan bahwa ada proses pewahyuan al-Quran terlewati melalui tiga tahapan penting. Yaitu pembicara-pengarang (Allah), utusan penyampai (Muhammad) dan penerima kolektif yaitu manusia atau masyarakat Arab. Beda antara Arkoun dengan Abu Zayd hanya terletak pada ketiadaan perantara (Malaikat), dan perbedaaan antara Abu Zayd dengan Arkoun terletak pada ketiadaan tahapan manusia.

Cara Memahami Kebenaran

Pada tingkat pertama (Allah) disebut sebagai wahyu yang transenden dan sifatnya tidak terbatas. Wahyu pada tahapan ini tidak mungkin terjangkau oleh akal fikiran manusia dan dalam tahap ini sering juga diistilahkan dengan kata ummul kitab. Dalam istilah lain, wahyu pada tahap ini sering disebut berada di luar kategori historis manusia. Pada tahap yang kedua wahyu menjelma dalam sejarah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad dengan memakai bahasa Arab. Pada tingkat yang kedua ini, wahyu dapat disebut unik karena terjadi hanya dalam sekali saja dan tidak bisa diulang serta tidak dapat mengalaminya lagi.

Lebih dari itu, Arkoun [1986: 85] juga berpendapat bahwa ujaran wahyu itu tidak diketahui lagi apakah sama persis seperti sekarang ini atau tidak. Namun harus diakui, pada tahap ini wahyu masih menjadi wacana yang terbuka dan tidak dapat melepaskan diri dari faktor-faktor yang menyertainya yaitu ideologi, kultur dan lain- lain. Pada tahap yang ketiga wahyu termanifestasi dalam bentuk mushaf. Pada tahap ini ia menyatakan bahwa itulah teks. Pada tahap ini, wahyu menjadi corpus official close.

Karena wahyu, al-Quran, sudah terbentuk dalam bentuk mushaf yang corpus official close tadi, maka menurutnya ia telah selesai. Artinya benar-benar terbatas dalam jumlah ajaran yang membentuknya. Namun demikian, ia terbuka untuk dilakukan kontekstualisasi terhadapnya dengan sejumlah konteks yang beraneka ragam sesuai dengan yang dibawa dan ditumpangkan oleh setiap pembacaan. Dengan kata lain, teks al-Quran mengatakan sesuatu, melakukan sesuatu komunikasi dan membuat berfikir tidak peduli bagaimana keadaan wacana yang di dalamnya pembacaan terjadi. Dalam pandangan berikutnya Arkoun kemudian membagi teks menjadi dua bagian, yaitu teks pembentuk (al Nass al-Muassis) dan teks hermeneutik (al nass al tafsir). Al-Quran adalah al nass al-muassis dan kemudian melahirkan teks hermeneutik yang sangat beragam.

Fenomena Penafsiran Menurut Arkound

Lebih lanjut Arkoun menyebutkan bahwa, dalam fenomena kesejarahan tafsir al-Quran. Umat manusia melakukan tafsir terhadap al-Quran dengan tiga cara. Yaitu: Pertama, melakukannya secara ritual atau Iiturgis pada keadaan-keadaan tertentu, seperti shalat atau berdo’a dengan tujuan untuk napak tilas terhadap ajaran pada masa Nabi. Kedua, pembacaan secara eksegetis sebagaimana termaktub dalam mushaf dan Ketiga cara baca yang dilakukan dengan memanfaatkan temuan- temuan metodologis yang disumbangkan oleh ilmu-ilmu kemanusiaan khususnya ilmu bahasa (Hermmeneutik) dan pada cara yang ketiga inilah, tampaknya Arkoun berkenan menggunakannya. Titik tekan Arkoun lebih pada kajian semiotika linguistik yang berkaitan dengan yang dihadapi (objek pembicaraan). Yaitu dunia ciptaan yang sering disebut sebagai ayat Tuhan dan kitab atau teks wahyu yang merupakan himpunan tanda.

Analisis Abu Zayd, Rahman dan Arkoun di atas memang harus diakui sebagai prestasi intelektual yang sangat briliyan. Analisisnya ini telah membongkar suatu wacana besar yang selama masih unthoucable oleh akal klasik atau moderen manusia. Namun demikian, baik Abu Zayd, Rahman maupun Arkoun memang masih menyisakan masalah yang cukup krusial. Yakni terletak pada kemungkinan memunculkan pertanyaan baru berupa: Apakah kajiannya itu hanya terbatas sebagai kajian epistimologis yang tidak mempunyai implikasi praktis dan humanis? Padahal umat Islam sekarang ini sedang dihadapkan pada kondisi kejiwaan yang kritis sehingga berada pada tingkat kemunduran yang cukup tinggi yang karenanya tidak cukup hanya dipecahkan melalui perdebatan teori tanpa aksi. Seperti diketahui, ketiga pemikir tadi memang baru merupakan dekonstruksionis epistemologis tafsir keagamaan yang sudah mapan, namun mereka tidak sempat menghasilkan tafsir yang bersifat holistik. By. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar