Hermeneutika dalam Studi Al-Quran

Hermeneutika dalam Studi Al-Quran
0 83

Hermeneutika dalam Studi Al-Quran. Istilah hermeneutika dalam pengertian sebagai ilmu interpretasi, mulai dikenal pada abad ke-17. Pada abad dimaksud, istilah ini bisa dipahami dalam dua pengertian. Kedua pengertian itu adalah, hermeneutika sebagai seperangkat prinsip metodologi interpretasi dan hermeneutika sebagai penggalian filosofis dari sifat dan kondisi yang tak bisa dihindarkan dari kegiatan memahami.

Carl Braathen, dikutip penulis dari Fakhruddin Faiz, mengakomodasi kedua definisi ini. Ia membuat dua rumusan tadi menjadi satu. Ia menyatakan bahwa hermeneutika adalah ilmu yang merefleksikan bagaimana satu kata atau satu peristiwa di masa dan kondisi yang lalu bisa dipahami dan menjadi bemakna secara nyata di masa kini di mana di dalamnya sekaligus terkandung aturan-aturan  metodologis untuk diaplikasikan dalam penafsiran dan asumsi-asumsi metodologis dari akitvitas pemahaman.

Pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh hermeneutika di antaranya adalah bagaimana orang memahami teks atau sesuatu yang dianggap teks? Bagaimana orang yang berbeda, berbeda pula pemahamannya? Bagaimana orang yang sama dalam kondisi yang berbeda, berbeda pula dalam memahami teks?

Hermeneutika Teori

Bleicher merumuskan beberapa hal mengenai proses hermeneutika ini. Proses dimaksud adalah sebagai berikut:

Pertama, terdapat ekspresi-ekspresi manusia yang bermakna. Ekspresi itu kemudian tertuang dalam sebuah narasi atau teks. Kedua,  ada sebuah upaya untuk menafsirkan teks yang subjektif itu ke dalam bahasa yang objektif agar dapat ditransformasikan kepada orang lain. Ketiga, Ada pra paham yang mendahului interpretasi  tentang sasaran interpretasi itu dibuat. Dengan kata lain ada pra paham tentang sasaran pembacanya. Tiga kerja inilah yang merepresentasikan kerja Hermes dalam tradisi hermenetika: menangkap pesan dan  memediatori pesan itu ke wilayah pembaca. Tiga kerja yang kemudian menjadi triadik struktur yang tak terpisahkan dalam kajian hermeneutika.

Bleicher membagi proses perkembangan hermeneutika kontemporer menjadi tiga. Pembagian ini didasarkan pada pandangan masing-masing aliran dalam melihat hermeneutika sebagai metodologi atau tidak. Aliran pertama disebut hermeneutika teori: sebuah hermeneutika yang masih menekankan hermeneutika secara objektif-metodologis. Kelemahan teori ini adalah terdeterminasinya interpretasi pada objetivisme sejarah masa lalu, baik objektivisme psikologis Schleirmacher maupun objektivisme historis Dilthey. Hermeneutika ini merupakan hermeneutika romantisme yang tidak berniat untuk memproduksi makna tetapi hanya sebatas mereproduksinya.

Hermeneutika Filosofis

Sebagai kritik atas teori pertama, muncul aliran kedua, hermeneutika filosofis: sebuah hermeneutika yang meruntuhkan objetivistik-metodologis menjadi subjektif-ontologis. Fokus bahasannya tidak lagi mempersoalkan metodologi yang tepat dalam proses interpretasi, tetapi lebih dalam mempertanyakan hal-hal substansial dalam interpretasi. Seperti, apa yang terjadi ketika orang melakukan interpretasi? Bagaimana sikap interpretator ketika dihadapkan pada sebuah teks?

Aliran kedua menyadari pentingnya dialog antara dua cakrawala yang berbeda (the fusion of horizon) antara cakrawala masa lalu dengan sekarang (interpretator) untuk kemudian memproduksi makna sesuai sasaran pembaca (audiens). Kelemahan teori ini terletak pada pengandalannya yang berlebihan pada aspek linguistik dan berpijak pada tradisi yang seolah-olah tidak bias ideologis. Aspek ekstra linguistik berupa relasi kerja, dominasi dan ideologi tidak dibongkar oleh teori ini.

Hermeneutika Kritis

Aliran terakhir dari pembagian Bleicher adalah hermeneutika kritis: hermeneutika yang menyempurnakan hermeneutika filosofis pada aspek ekstra linguistik. Telaahnya tidak lagi berpusat pada bahasa dalam rentang historis, tetapi aspek relasi kerja, dominasi dan hegemoni yang terjadi dalam sejarah interpretasi.  Teks lebih banyak dicurigai daripada diafirmasi. Karena seringkali kesadaran palsu yang masuk lewat hegemoni menjalar lewat alat yang bernama teks. Teks secara tidak sadar menindas dengan cara halus.

Al-Jabiri menjelaskan fenomena hermeneutika jaman itu sebagai fenomena hadhârah al-fiqh dan hadhârah al-bayân: sebuah fenomena kebudayaan yang selalu mereferensi pada teks dari pada konteks. Kalaupun ada kesadaran historis, maka kesadaran itu masih deterministik-objektifistik yang romantisme. Ini bisa dilihat dalam karya ushûl fiqh Al-Syafi’î (w. 204 H) yang masih mewarisi metode tafsîr yang lekatkan pada tradisi al-bayân.

Sebenarnya, bagi umat Islam, hermeneutika bukanlah barang baru.  Ibnu Taimiyah misalnya pernah menyatakan  bahwasanya proses yang benar dalam upaya penafsiran harus memperhatikan tiga hal: yaitu; siapa yang menyabdakannya, kepada siapa ia diturunkan dan ditujukan kepada siapa.

Secara linguistik ia memang masih baru, namun secara praktis ia barang lama. Farid Esack memperkuat tesis ini dengan mangajukan tga bukti. Pertama, adanya kajian-kajian mengenai asbab al-nuzûl dan nâsikh-mansûkh. Kedua, adanya perbedaan pemahaman yang aktual terhadap Al-Qur’ân dan terhadap aturan, teori atau metode penafsiran yang mengaturnya sejak mulai munculnya literatur-literatur tafsîr yang disusun dalam kerangka prinsip-prinsip ilmu tafsîr. Ketiga, tafsîr tradisional selalu dimasukkan dalam kategori-kategori, misalnya tafsîr syi’ah, tafsîr mu’tazilah, tafsîr hukum, tafsîr filsafat dan lain sebagainya.

Hal itu menunjuukkan adanya baik kelompok tertentu, ideologi tertentu, periode-periode tertentu, maupun horison-horison sosial tertentu dari tafsîr dan itu menandakan sebuah pola hermeneutika. Dr. Ahmad Munir, M.Ag. Dosen Ushuluddin STAIN Ponorogo

Bahan Bacaan

Fakhruddin Faiz, Hermeneneutika Qur’ani, (Yogyakarta: Qalam, 2003)

Ricoeur, “The Model of Tect, Menaningful Action Consederet as Text,” dalam Hermeneutic and Human Sciences, John B. Thomson (ed). (Cambridge University Press, 1982)

Bleicher, Contemporery Hermeneutics,

Jean Grondein. Introduction to Philosophical Hermeneutics (Yale Unevercity Press, 1994)

Muhammad ‘Abid Al-Jâbirî, Bunyah al-A’ql al-Arâbî, (Beirut: Markâz Dirâsat al-Wahdah al-‘Arabiyah, 1990)

Komentar
Memuat...