Hiburan di Tengah Segenap Rasa Pilu | Misteri Sang Ksatria Cinta Part – 3

Hiburan di Tengah Segenap Rasa Pilu | Misteri Sang Ksatria Cinta-Part3
0 108

Segenap Rasa Pilu: Alberta tidak tahu apa yang sesungguhnya dirasakan Santi. Alberta tetap murung dan terus berkicau di laman-laman tertentu. Ia hampir putus asa dan tidak mau datang ke mihrab yang biasa dia kunjungi. Ia mendatangi tempat-tempat indah di mana dia dulu berjalan bersama, ke tempat yang dianggapnya nyaman seperti ke live music, ke tempat makan di mana mereka berdua biasa makan siang atau malam, tetapi ternyata ia tetap saja pilu. Hatinya tetap membeku dan tidak mampu lagi menyembunyikan semua rasa yang menghimpitnya.

Hiburan di Tengah Segenap Rasa Pilu

Di tengah segenap upaya dirinya menghibur bathinnya itu, Alberta malah teringat bagaimana masa-masa pertama berjumpa dengan Santi di sebuah kelas yang mengajarkan tentang pentingnya membangun hidup atas nalar-nalar kemanusiaan. Sambil menggigit pensil, bibir tipis kemerahan milik Santi itu, dan dengan kerlingan mata kepada dirinya, telah membuat Alberta kaku. Degup kencang jantung Alberta terasa demikian keras yang membuat dia malah tidak nyaman. Ia hanya mampu berucap dalam hati, kaulah kekasihku. Karakter Alberta yang sangat pecaya diri itu, meyakinkan dirinya sendiri, bahwa pada akhirnya, suatu saat nanti, Santi pasti akan menjadi kekasihnya. Itulah pikiran Alberta.

Waktu terus berputar demikian cepat. Alberta masih terus melamun dan mengkhayal. Memikirkan nasib cintanya yang tak pernah lekang dalam hatinya. Saat lamunan panjang terjadi, tanpa diduga, seorang perempuan muda beranama Diana datang menghampirinya. Memanggilnya dengan pelan dan mengajaknya untuk ikut gabung dalam sebuah moment diskusi. Suatu diskusi yang mirip dengan symposium gaya Aristotle di Athena abad ke IV Sebelum Masehi. Di forum itu, iringan musik Jaz yang sangat pelan, yang biasanya Alberta suka akan suasana seperti itu,  tetapi ternyata, di waktu itu, Alberta tetap diam dan menolak ajakan itu.  Ia tidak mau berdansa dan tidak mau menyumbangkan lagu atas moment yang biasanya dianggap indah.

Diana sendiri bingung, mengapa senior yang dikaguminya itu, tak mau gabung. Alberta tetap duduk sendiri dalam kesenyapan suara, kecuali desiran angin dan nyanyian bathin Alberta. Alberta berkata, Diana biarlah aku  di sini sendiri. Diana tidak bertanya mengapa. Ia berlalu meninggalkan Alberta. Alberta meneruskan lamunannya dengan mengingat bagaimana bibir sensual Santi yang dipujanya sebagai Dewi Cinta itu, mampu dikecupnya dengan pelan dalam suatu perjalanan yang penuh impian. Mata sipit Santi terpejam dengan pelan, pasrah dan luruh dalam segenap rasa cinta yang beradu dalam suasana kebathinan yang menggariskan bahwa betapa Santi demikian sayang kepada dirinya seperti betapa Alberta sangat menyayangi dan menyanjungi Santi. Ciuman itulah yang telah menjadi manuskript cinta mereka. Kenangan ini pula yang selalu menghibur Alberta termasuk ketika suasana pilu menghampirinya seperti saat ini. Itulah ciuman cinta. Bukan ciuman asmara apalagi ciuman berbau seksualitas. Ah … kau menggangguku Santi. Kata Alberta mendesah.

Cinta Tulus Hanya Milik Hati

Ciuman belasan tahun itu, telah menyimpan seluruh nokhtah cinta mereka. Cinta seorang ksatria cinta pada seorang gadis yang ditakdirkan lahir dari seorang aristokrat agama yang sangat kuat memegang tradisi keagamaan, yang salah satunya, mereka hanya dapat diperkawinkan dengan sesama aristokrat agamwan juga. Santi karena itu secara fisik tidak dapat dimiliki Alberta sebetapapun ia sangat mencintainya.  Alberta hanya memiliki jiwa Santi dan selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Ia rela tidak memiliki pedamping bathin, meski durasi waktu telah memisahkannya cukup lama. Ia selalu menanti dalam sebuah penantian yang entah kapan ada akhirnya. Aku rela dan aku suka dengan suasana ini. Biarlah ini menjadi miliku dan bukan menjadi milikmu.

Di mihrab-lah, baik Santi maupun Alberta menitipkan pesan dalam sebuah kode khusus yang tidak mungkin diketahui orang lain, kecuali oleh rakib atid dan Tuhan. Belasan tahun mereka saling menitipkan cinta mereka dalam ketulusan yang hampir tidak mungkin ditandingi siapapun atau oleh apapun. Jutaan kata yang menyemai cinta mereka dalam manuskrip cinta dengan ratusan ribu kertas, menyimpan dengan seksama bagaimana satu rasa dengan rasa yang lain beradu. Jerih pahit, manis dan duka-lara atas upaya mereka dalam mempertahankan cinta itu, telah membuat Alberta tetap harus yakin bahwa Santi adalah kekasih sejatinya.

Dalam lamunan panjang itu, Alberta akhirnya hanya mampu berdo’a, ya Tuhan jagalah Santi. Jaga marwahnya dan harga dirinya, jaga keberkahannya. Kau Maha Tahu, sebetapapun aku sendiri, tetap berada dalam kesendirian, tetapi aku tetap bahagia, tersenyum dan tetap damai sepanjang kuketahui bahwa Santi dalam keadaan bahagia, senyum dan bahagia. Selebihnya, aku pasrahkan cinta ini, karena Kau-lah pemberi semua rasa ini. Charli Siera — Bersambung

Komentar
Memuat...