Hidup Dalam Lautan Perspektif, Siapa Yang Salah? Siapa Yang Benar?

1 42

Kita hidup di tengah lautan perspektif. Apa yang kita tahu dan pahami sebetulnya bukan menurut pemahaman kita sendiri. Walaupun tidak seluruhnya, tetapi hampir sebagian besar. Terutama mengenai ide dan wawasan tentang kehidupan.

Seperti soal pendidikan. Pendidikan yang kita anut adalah pendidikan yang menurut-menurut. Walaupun kita tahu bapak pendidikan adalah Ki Hajar Dewantara dan tidak pernah tahu siapa ibunya, pemahanan kita tentang pendidikan tidak melulu menurut Ki Hajar. Masih banyak persepsi lain yang dengan gampangnya kita manfaatkan. Seperti pemahaman dari buku tentang pendidikan, ada kata Endang Syaifudin, ada kata Sam Ratulangi, ada kata Paulo Priere, ada kata Soeroso Prawirohardjo, Kartini Kartono, Anies Baswedan, Uhar Suharsaputra, dan banyak lagi.

Kita tidak bisa menyalahkan pendapat satu karena pendapat yang lain. Dan kita juga tidak bisa menggunakan salah satu paham saja dari deretan itu. Karena dalam situasi dan kondisi yang berbeda, pemahaman mereka yang berbeda itu justru sangat bermanfaat. Mereka hadir bergantian, oh begini, oh begitu. Kamu harus begini, jangan begitu.

Begitu juga tentang alam. Apa yang kita ketahui ini hanya menurut-menurut lagi. Seperti tentang udara. Saya, khususnya, tidak pernah mengetahui tentangnya dengan benar dan nyata. Yang saya rasakan hanya angin berhembus, tidak tahu bagian mana yang disebut udaranya.

Begitu juga dengan air, api, dan asap, saya tidak pernah tahu dengan sendirinya. Tentang semua itu hanya perspektif ahli yang memang konsen menelitinya. Dan tentu saja, mereka (para ahli) itu bukan bicara atas pengetahuan dirinya sendiri. Melainkan menurut ahli sebelumnya dan didukung dengan temuannya.

Belum lagi tentang bumi. Tentang lapisan-lapisan tanah. Tentang tumbuhan. Tentang unsur-unsur manusia. Saya yang terdidik sebagai calon guru agama, tahu tentang bumi hanya secuil. Hanya sepintas-sepintas dari para ahli bumi. Begitupun ilmu tentang manusia, bagian-bagian dalam organ tubuh manusia, saya sedikit tahu dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ketika sekolah. Semuanya hanya menurut-menurut.

Terakhir, adalah pemahaman saya tentang agama. Dari definisi sampai aplikasinya, agama yang saya pahami juga hasil temuan yang ujungnya masih menurut-menurut. Kita sekolah SD, belajar agama dari Pak Agus Effendi, Islam yang saya dapati tentu saja islamnya Pak Agus. Kemudian ketika di SMP, saya belajar islam dari Pak Juhana, islam saya pun menjadi ke-Juhana-an dicampur islam dari Pak Kyai di pesantren saat itu. Selanjutnya di SMK Muhammadiyah, saya memahami islam dari banyak guru yang berbeda. Dari Pak Endang yang sarat kemuhammadiyahan, ada Pak Khairul, Bu Dwi, dan yang lain. Walaupun sedikit dan tipis-tipis, ada saja pemahaman yang saya temukan berbeda.

Belum lagi semasa kuliah. Selain dari dosen agama, banyak saya temukan islam dari kilasan buku yang saya baca. Ada Islam menurut Ahmad Wahib, Caknur, Muqsith Gozali, Sayed Ameer Ali, Tan Malaka, Abou Fadl, Gusdur, Quraish Shihab, Farid Essac, Fazlur Rahman, Hamid Nasr Abu Zaid, Nasarudin Umar, Johan Effendi, Muhammad Ghazali, Ibn Rusyd, Amina Wadud, Taufik Adnan Amal, Syaikh Manna Al-Qhothon, Muhammad Fethullah Gulen, Munim Sirry, dan pemikir-pemikir lainnya.

Bahkan sering juga, islam yang saya ketahui bersumber dari ceramah-ceramah televisi, radio, ceramah nikahan, maulidan, wayang golek, ustad dalam film, dan postingan pesbuk, whatsup dll. Ada yang disampaikan KH. Jujun Junaedi, KH. Zainudin MZ (alm), Mamah Dedeh, KH. Al-Gojali, Ustad Solmed, Ustd Jefri (Alm), Ustad Hariri, Habib Rizieq, Guru Diniyah, aktivis organisasi yang baru dikader, pejabat, bahkan senior-senior yang saya dapati di rumahnya, di kantornya, di jalan, di warung kopi, dan sejenisnya.

Tentang semua itu, tidak sepenuhnya memberikan pandangan yang sama. Perbedaan selalu saja ada dan membuka cara pandang. Bahwa apa yang benar-benar menurut saya tentang semua itu sangat nihil. Sangat tidak ada. Semuanya menurut-menurut saja. Hidup saya, dan mungkin anda, ada dalam lautan perspektif yang memiliki besar kemungkinan, salah atau benar. Wallahu ‘alam. [Ceng Pandi]


Tentang Penulis

Pandi Sopandi Atau yang lebih di kenal dengan panggilan Ceng Pandi, Lahir di Kuningan, 20 Mei 1989. Sosok yang aktif berorganisasi selama menjadi mahasiswa ini, membawa penulis terlibat sebagai pemerhati sosial, cultur dan budaya. Kini penulis bekerja di sebuah media di Kota Cirebon dan Anggota aktif di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) DPD Kuningan.

  1. M fatkhurizqo berkata

    Izin comen ya bapak I like to history kenapa kita harus paham sejarah agar kita tidak mudah untuk di bodohi oleh orang lain. Dengan adanya sejarah kita juga bisa berkaca apa yang kita lakukan baik,buruk. Bayak cendikiawan-cendikiawan yang bermunculan namun di itu semua mereka tidak lepas dari menurut,menurut dan menurut. Artinya apa mereka saya memahami betul bahwa sejarah itu sangat penting mereka mampu berargumen karena mereka mempunyai dasar yang kuat yaitu pengetahuan,sejarah

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.