Hidup di Antara Relativitas dan Kepastian| Kajian Ulang Metafisika Part – 2

0 52

Ide Dasar Socrates. Narasi sebelumnya telah mendong penulis untuk menyajikan suatu pertanyaan ontologis [hakikat] tentang relasi manusia dengan alam. Misalnya, apakah alam semesta itu titik pangkal atau titik akhir? Jawaban atas soal seperti ini, di ruang kajian filsafat metafisika tentu saja berbeda satu sama lain. Pro kontra soal kefilsafatan adalah suatu yang biasa. Mengapa? Karena kebenaran dalam perspektif filsafat memang spekulatif. Ukuran kebenaran tidak pada ada atau tidak adanya keberadaan sesuatu, tetapi pada lurus atau tidaknya, logika yang dibangun.

Sebagian filosof ada yang menganggap bahwa alam semesta adalah titik akhir perjalanan kemanusiaan. Karena alam merupakan titik akhir, maka, seluruh perjalanan kemanusiaan, berakhir bersama kematiannya di dunia. Hakikat hidup dalam perspektif ini adalah dunia. Karena itu, meski mungkin kurang relevan, dalam pandangan ini, dunia dianggap sebagai makrokosmos. Manusia diletakkan sebagai mikrokosmos dari suatu alam besar yang disebut dengan alam semesta.

Berbeda dengan pandangan tadi, sebagian filosof menyatakan bahwa bukanlah alam yang menjadi makrokosmos. Tetapi, apa yang disebut dengan makrokosmos itu, justru manusia itu sendiri. Secara historis, pandangan semacam ini, tampaknya, tidak dapat dilepaskan dari pikiran Socrates, filosof transisional di Yunani Kuna. Sosok ini sering juga disebut sebagai pemindah filsafat dari langit ke bumi. Ia berani menyatakan bahwa segala dimensi kehidupan di alam ini, berpusat kepada manusia. Bukan kepada alam!

Socrates dan Ide tentang Alam di Balik Alam

Inilah yang menyimpulkan bahwa Socrates dianggap berpandangan bahwa alam semesta ini, hanya merupakan titik awal perjalanan. Manusia akan selalu berjalan dari sesuatu yang fisik dan relatif, menunju sesuatu yang metafisik dan abadi. Perjalanan ini, berputar dari mulai alam provan menuju alam keabadian. Alam yang dalam literatur Islam, disejajarkan dengan akhirat.

Asumsi semacam ini, berkembang dari keyakinan Socrates yang menyatakan bahwa tidak semua kebenaran bersipat relatif. Ada kebenaran universal. Di sisi tertentu, yang disebut universal itu, dalam konteks kemanusiaan, adalah saat manusia memasuki fase baru dalam alam lain, di luar alam semesta.

Untuk soal ini, terus terang saja, siapapun yang pernah serius membaca literatur filsafat, akan bertemu dengan apa yang pernah disampaikan Socrates, beberapa saat sebelum dia diracun. Pernyataan Socrates dimaksud, narasinya kurang lebih seperti ini:

ai???Hai … orang-orang yang akan menghukum matiku, kalian harus percaya bahwa orang yang sebentar lagi akan mati, selalu dianugerahi kemampuan meramal masa depan sesuatu. Sebentar lagi aku akan mati. Saat ini, ingin kuramalkan nasib kalian semua. Bahwa sesungguhnya anda semua akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih berat daripada hukuman yang kalian timpakan kepadaku. Hukuman itu, akan menimpa anda semua tak lama sesudah kepergianku …..

Kematian adalah tempat istirahat terindah. Bagiku [Socarets], sama dengan tidur tanpa mimpi . Kematian adalah perpindahan jiwa dari satu alam ke alam lain. Adakah yang memberatkan manusia jika ia diberi kesempatan untuk berbincang dengan Orpheus, Musaeus, Hesiodus, dab Homerus? Maka, sekiranya hal ini benar, biarlah aku mati berulang kali. Di dunia lain itu mereka tak akan menghukum mati seseorang hanya karena suka bertanya tentang sesuatu …

Melalui narasi di atas, didapati suatu keyakinan bahwa alam fisik [form] adalah cermin dari alam yang tidak fisik. Patut diduga bahwa terdapat keberadaan yang jauh lebih berada di balik yang fisik ini. Lepas dari soal penamaan apa yang ada di balik yang fisik ini, maka, saat perbincangan semacam itu dilakukan, maka, di situlah kajian metafisika berlaku. Bersambung –Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.