Beranda » Blog » Filsafat » Filsafat Ilmu » Hiduplah Seperti Anomali Air

Share This Post

Filsafat Ilmu / Hikmah / Sains

Hiduplah Seperti Anomali Air

Hiduplah Seperti Anomali Air, Belajarlah Menjadi air, Filosofi air, Hikmah di Balik Proses Pembekuan Air, Fenomena Anomali Air

Tidak ada tanah yang subur tanpa air. Tidak ada tanaman yang dapat bertumbuh dengan subur tanpa air. Tidak ada makhluk bernafas yang dapat meneruskan kehidupannya tanpa air. Yang lapar hanya mnyebabkan makhluk bernafas menjadi busung dan jarang yang mati karenanya. Tetapi yang kehausan akut dapat menyebabkan dehidrasi kemudian tidak lama mati.

Fungsi air yang demikian strategis itu, telah menjadi perhatian yang sangat serius.  Karena itu, hiduplah seperti seperti air agar mampu menghidupkan seluruh makhluk hidup. Air juga selalu membentuk dirinya sesuai dengan wadah air itu sendiri. Ini penting diulas dan semestinya wajib diajarkan kepada anak-anak kita yang masih kecil sekalipun. Pendidikan dimaksud, bukan hanya sekedar mereka mencintai dan melindungi air, tetapi, belajar hidup seperti air.

Fenomena Anomali Air

Air memiliki fenomena yang sangat luar biasa. Wajar jika seorang fisikawan yang lahir 1942, dan menjadi Profesor di University of Cambridge tahun 1979-2009, meneliti secara khusus tentang air. Ia berhasil mengembangkan science melalui teori air. Buku berjudul A. Brief History of Time telah menjadi best-seller dan kemudian mendapatkan Nobel dari pegiat ilmu. Namanya ilmuan itu adalah Stephen  Hawking.

Ia menemukan, salah satunya tentang teori fisika di dalam air. Dalam sebuah catatan yang ditemukannya, ia menyebut bahwa air adalah hidup dan ditujukan untuk kepentingan kehidupan seluruh makhluk hidup. Air yang hidup dan menghidupkan itu, diteliti dia, ternyata karena air memiliki salah satu tipikal khusus yang disebutnya dengan anomali.

Dalam dunia ilmu pengetahuan dikenal beberapa istilah untuk menunjukkan masalah serius yang terjadi, seperti: anomali –salah satunya digagas Stephen Hawking, dan konsep tentang paradigma yang sebagiannya telah digagas Thomas S Kuhn. Hawking mengatakan bahwa air memiliki anomali khusus dan hampir berbeda dengan ciptaan Tuhan yang lain.

Lihat misalnya dalam proses pembekuan dan pencairan air. Cobalah anda berkunjung ke belahan dunia lain yang kebetulan sedang memasuki musim dingin, khususnya di Belahan Eropa. Air laut dan air-air lain di danau, di kolam dan di sungai, selalu membeku dari permukaan. Air tidak pernah membeku dari dasar lautan. Proses pembekuan itu, teorinya ternyata belum ditemukan ilmuan, pun sampai hari ini.

Hikmah di Balik Proses Pembekuan Air

Proses itu tampaknya untuk memberi jaminan bahwa kehidupan apapun di sekitar air harus tetap terselamatkan. Menjadi apapun itu air, ia tetap memberi jaminan ketentraman bagi kehidupan yang ada di sekitarnya. Sulit dibayangkan bagaimana kalau air itu membeku dari dasar laut dulu. Berapa milyar plora dan fauna lautan yang mati karena pembekuan air.

BACA JUGA:  Menelaah Lebih Dalam Apa sih Geometri Itu?

Air bukanlah gincu atau liftstik. Sebab warna apapun itu, (hijau, kuning, merah, hitam atau ungu) justru minta dilarutkan oleh air. Tanpa air, warna apapun tidak akan pernah menjadi sebuah keindahan. Fungsi warna-warna tadi, akan terjadi justru di saat air berkenan digunakan.

Ya …. dan tampaknya situasi seperti itu juga yang telah “menje bak” Thales –filosof Yunani pada awal abad ke 6 Sebelum Masehi— yang menyebut bahwa air adalah asas kehidupan. Ia adalah tokoh pertama dunia yang mengawali nalar dengan mengubah pola pikir sebelumnya yang cenderung mitologis. Salah satu upaya untuk membungkam gerakan mitologis itu adalah penyebutannya bahwa air adalah asas kehidupan seluruh makhluk Tuhan.

Nalar di atas jika dijadikan sandaran dalam menganalisis fenomena kehidupan manusia hari ini, yang bertifikal mencari kedamaian dengan peperangan, yang membangun inklusivisme dengan karakter ekslusive, yang mencitrakan agamawan untuk penipuan, yang membangun demokrasi dengan anarki, yang membangun moralitas dengan kekejian, yang membangun tempat ibadah untuk memperoleh dukungan politik, yang bercita-cita membangun birokrasi bersih dengan cara yang koruptif, maka, filosofi air ini mesti segera dihidupkan.

Sebab jika tidak, maka apa yang pernah ditulis Rosihan Anwar (1961) –wartawan kawakan Republik Indonesia sejak pra kemerdekaan sampai melintasi empat jaman setelahnya—, bangsa ini akan kembali dihinggapi penyakit paranoid. Suatu penyakit psychosomatic yang membahayakan kehidupan.

Penyakit dimaksud, kata Rosihan Anwar adalah: rasa kesal, rasa teralienasi, rasa cemburu, rasa curiga, merasa diserang, merasa dibuntuti, merasa dihantui, merasa harus mempersiapkan pasukan agar tetap berkuasa, akan terus menjangkiti bangsa Indonesia. Ujungnya, secara personal individu-individu ban gsa ini, akan terkena penyakit bukan hanya sekedar exim dan kurapan, tetapi, juga memasuki penyakit akut seperti jantungan, paru-paru, diabetes, asam urat dan kolesterol serta jenis penyakit lain yang cukup banyak dan kompleks.

Filosofi air adalah Kesederhanaan

Menyederhanakan persoalan, hidup di alam realitas-empiris, mampu bersanding dan berbuat di tengah kesemrawutan persoalan serta realistis menghadapi persoalan, menurut saya itulah ideologi air. Ideologi ini, patut segera dibangun agar setiap komponen bangsa, segera tersadarkan bahwa apapun yang menjadi pilihan hidup manusia di dunia, selalu bersipat sementara.

BACA JUGA:  Problem Hermeneutika dalam Peralihan Bahasa

Tidak ada keabadian karena abadi hanya milik mutlak Tuhan. Siapapun yang bercita-cita hendak membangun keabadian di alam yang prophan, sama saja dengan mengambil sipat Tuhan, dan Tuhan pasti marah atas mereka yang memiliki cita-cita seperti itu. Ia akan menjadi Fir’aun baru dan Tuhan akan memberikan kutukan terhadap siapapun yang memiliki ciri ini.

Ideologi lain yang hendak dibangun air, adalah, kemampun neutralitas di alam realitas yang plural. Pluralitas adalah takdir terbesar Tuhan yang kedua setelah takdir akal bagi manusia. Sipat tunggal, sama seperti sipat keabadian –yang hanya merupakan ciri Tuhan–.

Siapapun yang hendak dan bercita-cita untuk membangun peradaban dalam ketunggalan wajah, maka, ia akan menjadi Mushalini baru, Nazi baru dan Fidel Castro baru. Dalam jangka pendek, mungkin benar mereka dapat berkuasa dan dapat mempertahankan kekuasannya, tetapi, pasti dan yakinlah bahwa setelah generasi itu, akan lahir antitesis baru. Air hanya menginginkan sintesa dan tidak memiliki hasrat untuk terus menerus melahirkan antitesa.

Air selalu meminta manusia untuk terus menerus bekerja dan berkarya agar mampu memberi kehidupan kepada setiap makhluk hidup. Air menyadarkan manusia bahwa dirinya adalah sementara dan karena sementaranya itu, tidak ada cara lain yang mesti dilakukan manusia, kecuali berbuat kebaikan. Kebaikan yang mampu mengabadikan diri manusia dalam hati manusia lainnya dan tersimpan dalam setiap tetes darah manusia dan ditransformasi melalui berbagai alur cerita kepada generasi setelahnya.

Belajarlah Menjadi air

Hanya jika hidup seperti airlah segala sesuatu dapat dipertahankan. Segala hal dapat dijinakan dan segala sesuatu dapat direngkuhkan dalam rengkuhan-rengkuhan kehidupan yang tak berbatas. Air wataknya mengabdi. Yang seperti air itulah yang akan selalu hidup dan memberi kehidupan kepada orang lain. Dialah satu-satunya manusia yang dapat mempertemukan hidup yang ideal ke dalam kehidupan realistis.

Jika kamu memiliki kesadaran seperti ini, maka, bumi ini masih memiliki harapan untuk dilanjutkan. Perjuangan dan cita-cita kemanusiaan kita akan terbentuk dengan baik. Mari kita jalani situasi kehidupan yang penuh dengan nuansa cinta. Cinta yang mendamaikan seluruh keadaan ke dalam rengkuhan cinta itu sendiri. Dicuplik dari Menemukan Tuhan di Altar Keabadian Cinta karya Prof. Cecep Sumarna

Share This Post

Foto Profil dari lyceum
Lyceum.id merupakan situs pengembangan budaya dan ilmu pendidikan terlengkap menyajikan kajian filsafat, pendidikan, sosial, agama, sastra dan budaya, ekonomi dan bisnis, kesehatan dan gaya hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>