Hiduplah Seperti Spiral | Essential Skill for an Excellent Career dalam Slowdown to Speed Up Part – 6

Hiduplah Seperti Spiral | Essential Skill for an Excellent Career dalam Slowdown to Speed Up Part - 6
0 13

Januari 2007, saya bertemu dengan promotor utama, namanya Prof. Dr. A. Sanusi. Kurang lebih sudah 3 kali kami bertemu dengan membawa konsep disertasi yang menurut ukuran saya tentu saja waktu itu, lengkap dan memenuhi syarat untuk diuji. Sebelum saya disuruh duduk, ia bertanya, apakah anda sudah membaca spiral dynamic?

Saya katakan, belum Prof. Ia katakan lengkapi disertasi anda dengan masukan berbagi teori nilai dari spiral dinamic. Oke prof. Nggak masalah. Berapa lama anda menemukan teori nilai kira-kira dalam spiral dynamic dimaksud. Saya katakan, semoga tiga hari cukup. Dia tersenyum, semoga kamu bisa.

Saya pulang dan langsung masuk ke ruang kerja saya. Hampir 30 jam saya berada di depan computer mencari teori tentang nilai dalam spiral dynamic dimaksud. Ketemulah saya dengan tulisan yang disusun Clare W Grave. Jadilah disertasi itu sempurna menurut saya dan dibawa kepadanya. Dia tersenyum, dan mengatakan:  “You are brilliant”.

Setelah itu, kami  minum teh bersama dan diskusi cukup panjang, di pagi hari Kota Bandung yang sangat dingin. Banyak hal tentu saja yang dipesankan dirinya kepada saya, bagaimana kita menjalani hidup dan memberi arti atasnya. Salah satu yang dipesankannya itu adalah, bagaimana manusia mengkostruk dirinya memalui hati dan pikirannya. Ia mengatakan bahwa dalam spiral dinamik, soal-soal tadi, sudah banyak dan mudah didapatkan.

Hidup itu tidak lurus, bahkan hanya sekedar bengkokpun tidak. Hidup itu seperti per motor yang spiral, melingkar dan melebihi dari hanya sekedar bengkok tadi. Karena itu, menurutnya, menikmati perjalanan, mampu membaca keadaan dan tidak reaktif pada segenap situasi, akan menjadi jalan bagi diri  kita untuk menjadi kokoh dalam menjalani hidup. Per dalam mobil biasa ada kemungkinan patah. Tetapi, per mobil atau motor yang spiral, diberi bobot sebanyak apapun, ia akan tetap tidak patah.

Essential Skill for an Excellent Career

Harus diakui, memang sangat banyak tulisan dalam web dimaksud. Bagi saya sendiri waktu itu, terdapat ratusan tulisan lain yang tidak dipakai tapi diambil untuk keperluan disertasi, namun menyimpannya dalam file pribadi, khususnya berkaitan dengan motivasi hidup. Tulisan itu, saya buka lagi hari-hari ini dan membandingkannya dengan tulisan dalam web dimaksud beberapa tahun lalu dengan tujuan agar saya dapat melihat aspek kekinian. Di web ini, saya membuka essential skill for an excellent Career yang kalau diterjemahkan bebas memiliki arti keterampilan penting untuk memperoleh karir yang sangat baik.

Apa yang diperoleh dari tulisan tadi? Saya menemukan dua hal penting. Pertama, suatu kerangka berpikir bahwa manusia secara umum, tidak sadar bahwa melakukan stereotip terhadap apapun, itu berbahaya. Mengapa? Sebab ia dapat menjadi salah satu manifestasi yang paling jelas yang memungkinkan kita untuk melompat pada suatu kesimpulan yang belum pasti benarnya. Sementara, benak kita akan menyimpulkan bahwa dengan cara itu, kesimpulan yang kita ambil justru benar.

Stereotip akan mendorong kita menjadi sangat premature (terburu-buru) dalam memahami dunia dan kebenaran yang dianutnya tentu saja, termasuk kita menjadi prematur dalam “mengisi kekosongan” pandangan akan sesuatu yang diakibatkan karena sikap kita yang terlalu reaktif tadi.

Kedua, kita sering kali melupakan masa lalu sebagai sesuatu yang sangat penting dalam hidup kita. Harus diingat bahwa masa lalu, tidak selalu dapat melayani kita, tetapu, ia sering menjadi penguasa kita. Masa lalu akan menjadi suatu pola bagi diri kita untuk membingkai dimensi kekinian dan masa depan kita, terlepas apakah masa lalu itu positif atau negative. Masa lalu, akan menjadi salah satu bahan baku dari mana kita dapat menafsirkan dunia yang kita jalani. Jika kita hendak menjadi kreatif dan dinamis dalam hidup, maka, mulailah membuat komitmen untuk mencari, belajar dari, dan menantang pola yang ada dengan mencoba membandingkannya dengan apa yang terjadi di masa lalu itu. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...