Hilangnya Konsep Ibadah Dalam Pendidikan Modern

0 60

Pendidikan modern menderita sekumpulan pengaruh buruk yang ditimbul dari hilangnya konsep ibadah dalam bentuk yang telah dijelaskan sebelumnya. Kita bisa membagi pengaruh ini –berdasarkan lingkungan sampah yang berpusat kepadanya- menjadi dua bagian.

Hilangnya Konsep Ibadah di Masyarakat Barat dan Kritik Manusia Modern

Pemikiran gereja mengarahkan pendidikan pra-kebangkitan modern dan menawarkan konsep ibadah yang tidak orisinal terhadap aspek agama dan tidak ada eksistensi aspek sosial dan aspek alam. Karena ambiguitas dan kekurangan ini muncul reaksi yang bertentangan dan pendidikan memiliki karakter sekuler yang tidak ada pengaruh ibadah di dalamnya.

Kemunculan konsepsi sekuler terhadap fungsi pendidikan dan akibatnya ini diawali oleh Francis Bacon yang mengatakan bahwa tujuan pengetahuan adalah bahwa ia harus bermanfaat, dan bahwa sebab kemrosotan dan keterbelakangan adalah sibuknya manusia dengan pemikiran dan masalah-masalah yang keliru.

Kemudian penjelasan dan percabangan berlanjut sampai abad kedelapan belas di tangan semisal Fontanel, Saint Beer dan Conts de Vollen. Ringkasan pandangan mereka adalah bahwa pemikiran ilmiah menggiring kepada kemajuan akal dan kemajuan peradaban yang masih dalam masa kanak-kanaknya, dan bahwa masa keemasan menggiring kepada masa depan yang tidak ada peperangan, kokohnya hukum dan menghantarkan manusia kepada derajat kesempurnaan, dan manusia menyatu dalam satu masyarakat, dan mereka memasuki masa keemasan yakni mendirikan surga di bumi.

Lalu muncul San Simon dan lain-lain pada abad kesembilan belas dan mengatakan bahwa gereja menjalankan perannya pada abad pertengahan. Sekarang telah muncul peran ilmu dan para ahli untuk mengarahkan kemajuan dan pendidikan umum.

Kemudian muncul mazhab yang mengacaukan Counts yang mengajukan penawaran bagi perkembangan sejarah sebagaimana yang ia lihat dengan mendasarkan pada perkembangan sejarah Eropa. Ringkasan pandangannya adalah bahwa sejarah berjalan dengan tiga era. Pertama adalah era agama ketika gereja mengendalikan pemikiran dan pendidikan. Era ini berakhir sekitar tahun 1400 M. Era kedua adalah era filsafat metafisika yang mengkritik gereja dan meminimalisir pengaruhnya, dan ini adalah tahapan penting jalan kemajuan dan nyaris berjalan menuju akhirnya pada era Counts sendiri. Era ketiga adalah era filsafat realisme yang memfasilitasi Counts sendiri.

Urgensi Internalisasi Ilmu Sosial

Bertolak dari peran yang diklaim Counts sendiri, ia menyerukan urgensi internalisasi ilmu sosial dan saling membantu antara ilmu Biologi dan Kimia untuk memberikan kontribusi kepada peletakan ilmu sosial ilmiah, dan menyebutkan bahwa di antara keistimewaan era ketiga adalah: mengorganisasi masyarakat melalui ilmu sosial ilmiah, dan bahwa alam akan dibimbing oleh hukum alamiah dan para ahli yang benar-benar memahami hukum ini, memberlakukan sistem pendidikan global, meletakkan norma etika bagi spesies manusia, dan ilmu ini akan lebih mampu menjaga hak kelas-kelas di dunia dibandingkan gereja. Terakhir mengajak kepada agama baru yakni ibadah kemanusiaan.

Adapun di Inggris dan Amerika, Darwin, Spencer dan Marx membuka periode pemikiran baru pada tahun 60-an dari abad kesembilan belas (1860-an pentj.) dan pemikiran memulai era baru yang terpisah dari perkataan gereja dan berjalan di alur yang telah kita ikuti pada bab pertama sehingga menimbulan filsafat-filsafat di mana yang paling menonjol adalah filsafat pendidikan pragmatisme yang dipimpin oleh William James dan John Dewey.

Buah Aplikasi Sekularisasi Terhadap Pendidikan

Kemudian masuk abad kedua puluh dan buah dari aplikasi sekularisasi terhadap pendidikan mulai muncul untuk pertama kalinya. Dan surga dunia yang dijanjikan oleh para pemikir abad kedelapan belas dan kesembilan belas semisal Fontanel dan Saint Beer belum juga terwujud, dan kedamaian belum terealisir bahkan neraka dunia telah menyalakan di dalamnya rangkaian perang dunia yang pengaruhnya menimpa militer dan sipil, konflik kelas, masalah-masalah sosial dan akibat buruk terhadap pendidikan mulai menyebabkan keluhan –sebagaimana dikatakan John Brubacher- bahwa pendidikan umum telah menjadi mahal dalam menghindarkan dari fanatisme keagamaan sehingga lebih banyak mengabaikan agama daripada yang seharusnya, dan mulai pertanyaan-pertanyaan sekitar watak agama dan pengajaran agama sebagaimana kami jelaskan pada awal pembahasan ini, dan rangkaian pengaruh negatif terhadap pendidikan modern dan menguat serta meluasnya kritik yang terus berlanjut mencapai tingkat yang membahayakan. Philip Reif mengomentari perkembangan ini dengan mengatakan:

“Para teknologis mengharapkan di abad kedelapan belas dan kesembilan belas dan pada awal-awal abad ini agar hati manusia berkembang. Benjamin Franklin lebih mengharapkan perkembangan ini daripada orang lainnya. Maka ia dan kolega-koleganya mendirikan universitas Amerika yakni Universitas Pennsylvania dan berwatak duniawi sekuler yang di dalamnya tidak menetapkan agenda kemajuan agama atau filsafat, akan tetapi memusatkan pada disiplin teknik dan oleh karena itu tujuannya teknologi. Menurut pendapat saya perkembangan hati manusia ini tidak terjadi dalam realitas manusia”.

Kelemahan Sisi Ibadah

Telah dijelaskan sebelumnya tentang –Maslow- mengenai perkembangan ini ketika mengatakan bahwa “Atheis abad kesembilan belas membakar rumah alih-alih merenovasinya. Ilmu telah melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan agama dan sekaligus jawabannya dan menolak setiap pernyataan agama. Karena orang yang mendasarkan pada agama memberikan jawaban yang tidak bisa diterima. Dan tidak didasarkan pada bukti-bukti yang bisa dicerna oleh pemilik ilmu yang menghargai dirinya sendiri”.

Di antara akibat yang disimpulkan Richard van Skotter dan kolega-koleganya dalam pembahasan mereka yang khusus –Sumber Pendidikan dan Data Sosial- adalah kelemahan sisi ibadah dalam sumber ini dan di antara yang mereka katakan dalam hal ini adalah:

“Terdapat kepentingan yang besar agar kita mendirikan –agama sekuler- di sekolah dan masyarakat kita. Bukan melalui permusuhan tertentu terhadap agama –sebagaimana dinyatakan hakim Klark- akan tetapi karena kita mengabaikannya. Dalam kebudayaan kita, kebanyakan orang melihat agama secara umum sebagai penghalang terhadap kemajuan. Dan menganggap ilmu, rasionalisme dan nalar sebagai asas kemajuan. Agama adalah sesuatu yang kita remehkan seakan-akan ia adalah anggota keluarga yang lemah”.

Teriakan yang disautkan oleh sebagian penduduk pada tahun-tahun terakhir terhadap pernyataan agama dan spiritualitas menunjukkan bahwa kita telah berpihak selama satu abad penuh kepada data ilmiah”.

 Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Bahan Bacaan

J. B. Bury, The Idea of Progress (New York: Dovex Publication, Inc., 1960)

Urban dan M. Glenny, Can We Survive our Future? (London: The Bodley Head Ltd., 1972)

Richard D. van Scotter, dkk., op. cit.,

Komentar
Memuat...