Inspirasi Tanpa Batas

Hitam Putih Cinta, Mendobrak Makna Mencari Yang Terbaik

Hitam Putih Cinta, Mendobrak Makna dan Mencari Yang Terbaik
0 241

Hitam Putih Cinta – Selama manusia hidup di dunia selama itu pula manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan hidupnya. Dalam usahanya manusia akan terus berusaha  mencari yang terbaik untuk memenuhi kebutuhannya. Sebagai makhluk sosial, maka dalam usahanya manusia pasti membutuhkan pihak lain dan tidak mungkin bisa mencapainya sendirian.

Dalam tingkatannya secara garis besar  kebutuhan manusia itu dapat dikelompokan  menjadi beberapa bagian yaitu kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Menurut Abraham Moslow dalam teori hirarkinya manusia itu memiliki lima kebutuhan yaitu : fisiologis, keamanan, cinta, harga diri dan aktualisasi diri, salah satu kebutuhan dasar dari manusia adalah cinta oleh karena itu manusia baik itu laki-laki maupun perempuan ketika hasrat cintanya tidak terpenuhi maka kehampaan dan kegelisahan akan terus menghantui.

Apa Sebenarnya Makna di Balik Cinta?

Cinta merupakan kebutuhan dasar manusia maka dalam perjalanannya haruslah mencari yang terbaik baginya. Hal yang luar biasa tidak akan bisa didapatkan dengan cara yang biasa begitulah kiranya ungkapan para bijak. Tetapi pada kenyataannya pasar menggiring kita kedalam situasi naif dan budaya instan.

Berapa ratus bahkah ribu film (sinetron) bajingan menyodorkan tema cinta dari mulai cerita cinta anak SD sampai kakek-nenek. Dari kisah yang berujung bahagia ataupun luka derita. Tidak hanya film, lagu-lagu tentang cinta pun tak kalah hebohnya. Tapi sedikit dari kita yang berusaha memikirkan apa sebenarnya makna di balik cinta? bagaimana cara kita mendapatkannya ?

Cintaku jatuh pada pandangan pertama, aku mencintaimu tanpa tanda tanya, dan bahasa bahasa lebay yang terkonstruk dari tontonan menurutku itu semua bullshit, bangunan budaya seperti demikian hanya ilusi, tipuan yang menutupi realita.

Dalam kasus ini, seorang individu sudah kehilangan kesadarnya dan ia hanya menjadi budak nafsu, aktivitas cintanya hilang dan yang ada hanyalah pasifitas karena ia terpengaruhi, terdorong oleh tontonan misalnya dan ia hanya sebatas pelengkap penderitaan bukan aktor utama.

Lantas Seperti Apa dan Bagaimana Cinta itu?

Menurut fromm cinta itu merupakan tindakan, dan sifat dari tindakan adalah aktif, dan cinta itu sama sekali bukan kekuasaan pasif, relasi yang dibangun harusnya “bertahan di dalam” (standing in) bukan (falling for) “jatuh” Karena cinta adalah tindakan aktif maka dalam prakteknya adalah memberi bukan menerima, setelah kita memberi maka konsekuensinya adalah menerima.

Tidak sesederhana itu, sering terjadi kesalahpahaman dalam pemaknaan “memberi”, kebanyakan dari kita (orang yang tidak punya karakter produktif) selalu beranggapan bahwa memberi berarti menyerahkan, kehilangan, mengorbankan, dan pasti akan selalu merasakan kerugian ketika tidak mendapatkan ganti yang setimpal.

Berbeda dengan individu yang berkarakter produktif, ia beranggapan memberi adalah salah satu perwujudan nyata dari eksistensi dan potensi diri, ketika memberi ia akan merasakan bahwa dirinya mempunyai kuasa,berguna dan bahagia. Kebahagiaan itu didapat ketika memberi bukan ketika menerima karena ketika memberi ia akan meraskan bahwa dirinya benar-benar ada.

Ketika individu telah merasa kebutuhannya terpenuhi (cinta). Maka, ia harus standing in (bertahan di dalamnya). Individu yang tidak memiliki kemampuan untuk bertahan di dalamnya, maka cinta akan kembali lenyap dari dalam dirinya. Ketika individu berkonflik tajam dengan pasangannya atau memiliki visi dan pandangan hidup yang sangat bertolak belakang dengan pasangannya tak jarang kebuntuan menghampirinya.

Cinta dalam Teori Slavoj Zizek

Jika kita membaca tulisan Reza A.A Wattimena, teori mencintai yang ditawarkan oleh Slavoj Zizek seorang filusuf psikoanalitik asal Slovenia. Ketika kita mencintai sesorang maka, jangan hanya mencintai sisi baik yang nampak dan terduga saja. Melainkan harus bisa mencintai sisi traumatis yang tidak terduganya.

Cintailah seseorang secara utuh baik buruknya itu, mencintai yang terduga berarti tidak mencintai sama sekali. Karena yang dicintainya hanya yang nampaknya dan telah terkalkulasi oleh kita. Mencintai baru bisa dikatakan mencintai dan bisa bertahan didalamnya.

Ketika kita bisa mencintai yang tidak nampak, tidak terduka, mencintai sisi yang tarumatisnya, mencintai segala yang tidak bisa kita terima oleh kesempitan dan keterbatasan keinginan dan fikiran kita, ini semua  tidak cukup dengan pandangan pertama dan ketika kita tidak bisa menerima sisi traumatisnya jelas cintanya masih tanda Tanya. [ Fajar Rahmawan]

Komentar
Memuat...