HTI Akhirnya Dibubarkan

0 30

Hizbut Tahrir Indonesia. Nama suatu organisasi yang kadang membuat saya bingung, meski juga kadang kagum. Organisasi ini diikuti sejumlah aktivis Muslim yang tingkat kesalehan individunya, menurut amatan saya cukup baik. Misalnya, bagaimana mereka menjaga hubungan laki-laki dan perempuan dan praktik-praktik keagamaan sehari-hari. Mereka cenderung lebih berhati-hati dibandingkan dengan organisasi mapan lain yang diikuti aktivis mahasiswa Islam.

Kemampuan mereka dalam membaca al Qur’an yang biasanya murattal juga bagus. Pakain gamis dengan celana agak sedikit pendek, rapih dengan sedikit jenggot di dagu mereka, menunjukkan bahwa memang secara tampilan fisik, mereka berbeda. Itulah bagian kecil yang melegitimasi mereka, yang menjadi bagian dari anggota HTI.

Aktivis perempuannya kebanyakan memakai pakaian yang cenderung rapih meski longgar. Mereka lebih banyak tinggal di Masjid dan berbagai tempat lain yang lebih teduh. Membentuk lingkaran-lingkaran kecil  untuk berdiskusi terkait dengan persoalan keagamaan dan kebangsaan. Sesekali mereka melakukan seminar dan semiloka dan kadang terdengar beberapa event besar di kota-kota besar Nusantara. Di sekitar mereka selalu tersedia buku-buku Islam baik di saku atau di tasnya. Di sinilah istimewanya HTI dan berbagai elemen yang ada di sekitarnya. Mereka sangat tampak sebagai kaum terpelajar yang memukau. Mengapa? Karena pembicaraan keagamaan mereka cenderung akademis dan ber nash.

Namun ketika mereka masuk di dalam kelas, yang kebetulan saya mengajar mata kuliah Civic Education, yang mengkaji justru soal mengapa Indonesia memilih dan menetapkan Pancasila sebagai ideologi negara, yang dalam anggapan saya final untuk corak Muslim Indonesia, diskusi kelas mulai sedikit hangat. Mereka cenderung menganggap bahwa konsep Khilafah Islamiyah yang pernah dipraktekkan sahabat sampai beberapa generasi setelahnya, adalah final sebagai bentuk negara Islam. Saya sendiri, sulit masuk ke dalam pikiran dan logika mereka. Mengapa? Karena keyakinan mereka bahwa khilafah Islamiyah itu bentuk negara Islam, itu final sudah terbentuk dalam covert behavior mereka secara ideologis.

Sejak saat itu, beberapa teman menyebut bahwa, mereka mentamsilkan diri saya sebagai JIL dan beberapa sebutan lain seperti Syi’ah yang cenderung pejorative. Tetapi tak mengapa? Sebab, penyebutan itu sendiri, saya menganggapnya sebagai bagian dari ranah diskusi ilmiah yang pasti menarik. Saya bahkan menganggapnya sebagai iklan gratis.

Menelusuri Sejarah HTI

Dari serangkaian diskusi dalam kelas yang seperti itu, akhirnya telah mendorong saya penasaran. Apa dan bagaimana sesungguhnya HTI ini. Setelah saya membaca dengan seksama, memperhatikan dan mendiskusikan soal ini dengan mereka yang ahli, dari situ beberapa hal dapat disimpulkan tentang HTI. Kesimpulan inipun, tentu sangat mungkin salah dan keliru.

Pertama. HTI sejatinya organisasi yang lahir dalam kultur warga masyarakat yang sakit. Lahir dari suatu negara yang tidak pernah kunjung merdeka atas aneksasi Israil [Yahudi]. Ia didirikan pada tahun 1953  oleh Syaikh Taqiuddin al-Nabhani. Organisasi ini beraliran Sunni yang tumbuh di Yerusalem. Pendirinya adalah seorang sarjana hukum dan hakim pengadilan banding di Palestina. Suatu negara yang selalu terkoyak oleh kepentingan zionisme dan terlantar karena memiliki daya hidup yang kuat. Barat dan berbagai sekutunya, dianggap hanya membela kepentingan Yahudi di Palestina.

Kedua. Fakta bahwa setelah beberapa tahun berdiri, HTI menyebar ke hampir lebih 50 negara dunia dengan jutaan anggota didalamnya. HTI kemudian aktif juga di negara-negara Barat, terutama di Inggris. Tentu jangan tanya di negara-negara Arab dan Asia Tengah. Mereka bergerak di kelompok masyarakat swasta yang selalu berhasil menampung ribuan orang, khususnya kalau mau menggerakan demontrasi, terlebih jika menyangkut Palestina.

Ketiga. “Dasar” atau platform ideologis “konstitusi” mereka adalah system kekhalifahan. Mata uang yang rencana dibentuk dalam sistem khilafah itu, logam mulia seperti perak dan emas yang dianggap bakal bebas inflasi. Bahasa yang harus digunakan Tunggal, yakni bahasa Arab. Mereka anti zionisme dan menganggap bahwa Israel adalah negera illegal dengan “entitas ilegal” juga. Mereka harus “dibongkar”  atau “dihancurkan” tanpa kompromi.

Sudah lama mereka tinggal di Indonesia dengan ideologi semacam itu. Beberapa jam terakhir, tersiar kabar bahwa HTI dibubarkan Pemerintah Indonesia. Adakah mimpi HTI berakhir bersama pembubaran ini? Saya khawatir, malah secara ideologis, mereka akan semakin menguat. Mengutif David Mc. Leland [1991], ideologi tidak pernah mati. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.