Hubungan Cobaan: Kerancuan Pengertian Dalam Lembaga Pendidikan Islam

0 20

Adil kiranya mengatakan bahwa lembaga pendidikan Islam tidak memberikan hubungan cobaan perhatian penuh yang seharusnya diberikan baik pada masa lalu atau pun saat ini.

Pada masa lalu, sekolah-sekolah kependidikan Islam membagi hubungan cobaan kepada dua konsep yang fragmentaris yang saling berjauhan.

Pemahaman yang melihat hubungan cobaan sebagai aspek-aspek keburukan semata. Oleh karena itu ia menegaskan bahwa kehidupan seluruhnya buruk sehingga harus sabar dan zuhud kepadanya dan membiarkannya untuk pemiliknya sampai datang keputusan Allah.

Mereka mentakwilkan ayat-ayat Qur`an dan hadits-hadits yang berhubungan dengan tema ini dan dengan keyakinan akan qadha dan qadar dengan takwil yang mendukung negativisime yang muncul dari konsep ini.

Mereka menyeru kepada pilihan kedua yakni, menyerah kepada keburukan- bukan mengambil kebaikan untuk memerangi keburukan.

Pemahaman yang melihat hubungan cobaan dari sisi baik saja. Oleh karena itu yang memiliki pemahaman seperti ini mentakwilkan ayat-ayat Qur`an dan Hadits yang berbicara tentang kebaikan dengan takwil yang menjustifikasi adanya hubungan antara manusia dan kehidupan sebagai hubungann menikmati dan mengkonsumsi bukan mengambil kebaikan untuk memerangi keburukan.

Pemahaman yang Keliru dan Fragmentaris

Kedua jenis pemahaman yang keliru dan fragmentaris ini menyebabkan timbulnya dua aspek kehidupan di antara mayoritas Muslim! Aspek yang dialami oleh sebagian besar yang teraniaya dan mereka umumnya memilih menyerah kepada keburukan dan tidak mengambil kebaikan untuk menolak keburukan, dan mereka mentakwilkan istilah-istilah yang berkaitan dengannya dengan takwil yang mendukung sikap menyerah dan menjustifikasi.

Membalik Makna Shabar

Mereka misalnya membalik makna shabar dan menjadikannya sebagai kesabaran atas kehinaan, kemiskinan, kesakitan, kezhaliman, kekalahan dan keteringgalan, padahal makna yang sebenarnya adalah sabar atas pertempuran melawan keburukan-keburukan ini ketika konflik menguat dan pengorbanan semakin banyak.

“Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan” (Qs. Al Baqarah [2]: 177)

Penggantian kurangnya jumlah dalam konforntasi dan pertengkaran.

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (Qs. Al Baqarah [2]: 249)

Merubah Makna Zuhud

Mereka merubah makna zuhud dan menjadikannya sebagai kelemahan orang miskin dan orang-orang yang tidak melakukan pekerjaan apapun yang rela dengan bencana-bencana. Padahal arti yang sebenarnya adalah zuhudnya orang kaya dengan mengeluarkan banyak harta dan menganggap remeh kekayaan dalam hal untuk membela prinsip, dan pengorbanan jiwa untuk memenangkan kebenaran.

Merubah Makna Tawakal

Mereka merubah makna tawakal dan menjadikannya sebagai justifikasi atas kemalasan dan kelemahan, padahal arti yang sebenarnya adalah diam dan menunggu setelah menggunakan persiapan dan menyempurnakan keluasan dan kemampuan.

Merubah makna “Menyerahkan Diri Kepada Kehendak Allah”

Mereka merubah makna “menyerahkan diri kepada kehendak Allah” yakni perkataan insya Allah mereka menjadikannya sebagai tanda melepaskan, membatalkan dan tidak memenuhi janji, padahal arti yang sebenarnya adalah tanda penolakan terhadap segala sesuatu selain Allah, dan tanda kebulatan tekad untuk mengalahkan semua bentuk halangan selain “kehendak Allah”.

Merubah Makna Faqr

Mereka merubah makna faqr dan menjadikannya sebagai keutamaan dan kemuliaan, padahal arti yang sebenarnya adalah salah satu akibat dari mencurahkan kedermawanan untuk kepentingan prinsip dan menyelesaikan krisis.

Menduga Kebaikan Sebagai Kemuliaan Dan Bukan Cobaan

Aspek kedua adalah yang dilakukan oleh minoritas yang bermewah-mewahan yang menduga bahwa “kebaikan” adalah sebagai kemuliaan dan bukan cobaan. Oleh karenanya mereka jatuh sebagai korban kemewahan dan menjustifikasi kehidupan yang penuh kenikmatan. Mereka merubah makna nash-nash Qur’an dan hadits-hadits Nabi. Kemudian mereka mencari apa yang Allah berikan kepada mereka berupa dunia dan melupakan tuntutan akhirat. Mereka mentakwilkan makna bahwa Allah senang melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya. Mereka menyatakan bahwa itu adalah justifikasi atas kenikmatan dan konsumsi. Mereka melupakan bahwa Allah menyukai bekas nikmat-Nya untuk memberikan infak sebagaimana ditunjukkan oleh Abu Bakr, Umar, Utsman dan lain-lain.

Pada saat ini, lembaga-lembaga pendidikan yang ada tidak menjelaskan “hubungan cobaan”. Orang-orang modern di negera-negera Arab dan Islam masih hidup di bawah pengaruh dualisme pendidikan. Juga orientasi yang saling bertentangan satu sama lain; jenis yang memajukan sekolah Islam, masjid dan pers Islam. Juga univeritas Islam dan ini kadang-kadang menunjukkan sisi “kebaikan” dan menjustifikasi kenikmatan dan menerima dunia. Kadang-kadang menunjukkan sisi “keburukan” dan mereka mengajak kepada penolakan terhadap dunia dengan menantikan akhirat.

Dan jenis yang terlihat dalam kemajuan sekolah modern, universitas modern, radio, televisi dan pers modern dan semuanya menyampaikan bahwa kehidupan itu adalah kesenangan dan bahwa dunia adalah sigaret dan makanan yang lezat dan bahwa keluarga yang bahagia adalah keluarga yang memiliki mobil begini…, memiliki rumah yang begini… perlatan begini… makan di restoran begini… mengunjungi tempat hiburan begini… dan mengaplikaksian kehidupan yang berlaku adalah merealisasikan semua iklan ini dan itu….

Manusia Modern Di Negera-Negara Islam Mengagungkan Pusaka Spiritual

Di antara akibat semua itu adalah bahwa manusia modern di negera-negara Islam mengagungkan pusaka spiritual dan nilainya yang immaterial. Akan tetapi dalam kenyataannya menyelam dalam lautan dunia sembari menolak –juga- dengan simpul kekurangan yang dihasilkan orang Barat. Hal ini dilakukan dengan kecerdikan untuk membeli dengan harga murah hasil-hasil produksinya. Yakni bahwa kemajuan diukur dengan apa yang dikonsumsi manusia pada saat orang Barat menjelajah bumi. Mencari arti kehidupan yang lebih banyak kebanggan dan kegembiraan.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.