Hubungan Penundukan Dan Konflik Dengan Alam Dalam Filsafat Pendidikan Modern

0 34

Hubungan Penundukan Dan Konflik Dengan Alam Dalam Filsafat Pendidikan Modern; Objektif kiranya jika kita mengatakan bahwa nalar Barat modern telah melakukan inovasi dalam menemukan hukum-hukum alam. Spesifikasi komponen dan unsurnya; juga telah melakukan dengan baik ketika mentransformasikan hukum-hukum ini menjadi aplikasi ilmiah dan teknologis.

Akan tetapi inovasi ini terbatas pada dua langkah pertama dari langkah-langkah penundukan yang telah dijelaskan di muka. Langkah pemanfaatan yang baik terhadap kemampuan pendengaran, penglihatan dan akal; dan langkah pandangan yang tajam pada komponen langit dan bumi dan mentransformasikan hukum-hukum yang ditemukan menjadi praktek dan aplikasi”.

Lemahnya Nalar Barat Modern Dalam Mempraktekkan Langkah Penundukkan

Akan tetapi nalar Barat modern masih lemah dalam mempraktekkan langkah ketiga dari langkah-langkah penundukan. Yakni “pemanfaatan dengan baik atas buah pengamatan dan penelitian.” Selanjutnya tidak sampai kepada “tujuan agung” dari penundukan. Yaitu “bersyukur kepada Allah” yang pada dasarnya nikmat-Nya tidaklah terhitung jumlahnya.

Kita saat ini melihat pengaruh keterbatasan dalam hubungan penundukan pada peradaban modern. Aplikasi yang buruk dalam bidang ilmu dan teknologi atom dan hidrogen dan ilmu ruang. Yakni di tangan manusia yang tidak mendapatkan petunjuk dari hubungan penundukan. Semua itu berubah menjadi ketakutan, teror dan bahaya “yang menundukkan” manusia. Yang mengancam akan kehancuran kehidupannya secara sempurna di muka bumi. Alih-alih “ditundukkan” yang dengannya bisa meningkat kepada pemanfaatan nikmat-nikmat Allah. Pengetahuan yang mendalam tentang-Nya dan bersyukur kepada-Nya. Sebab dan pengaruh keterbatasan ini berupa dua hal, yaitu:

Manusia Berkonflik Dengan Alam Untuk Menguasainya

Pertama, hubungan manusia dengan alam dalam filsafat pendidikan yang terpengaruh Darwinisme sosial keluar dari konsep penundukan. Ia merubah hubungan ini menjadi hubungan konflik dengan dan menguasai alam. Sehingga manusia berkonflik dengan alam untuk menguasainya dan mengeruk kekayaan dan harta simpanannya; tanpa tujuan dan maksud. Kecuali tujuan konsumsi dan kesenangan duniawi. Terdapat banyak terikan yang dilontarkan secara berulang-ulang tentang akibat konsepsi yang keliru ini. Khususnya setelah kemajuan ilmu tabayyu` (ilmu ekologi). Di antara peringatan ini adalah tulisan seperti Rene Dubos yang mengatakan:

“Kita tidak akan bisa merubah alam selama kita tidak menjauhkan dari nalar sosial kita konsep yang mengatakan: “Bahwa tujuan manusia adalah memaksa dan menundukkan akal manusia. Dan untuk mencapai orientasi ini bukanlah masalah yang mudah karena upaya untuk menundukkan alam dan pengembangan yang tidak terbatas mempengaruhi udara yang hampir-hampir menjadi memabukkan, sementara usulan-usulan untuk mengembalikan stabilitas dianggap sebagai hal yang bodoh. Oleh karena itu kita tidak bisa merubah cara kita kecuali jika kita membangun etika sosial yang baru, bahkan agama sosial yang baru. Mungkin bentuk agama baru ini akarnya harus sesuai dan selaras dengan manusia dan alam alih-alih penceburan diri yang tidak hati-hati untuk menguasai dan menundukkan”.

Tidak Adanya Hubungan Ibadah Yang Benar Dalam Filsafat-Filsafat Pendidikan

Kedua, kesalahan tafsir terhadap hubungan penundukan dalam pendidikan modern adalah tidak adanya hubungan ibadah yang benar dalam filsafat-filsafat pendidikan ini. Konsep yang dilontarkan oleh gereja tentang ibadah adalah konsep manusia yang berkelas-kelas. Membelenggu akal dan tidak sesuai dengan hakikat dan fitrah. Oleh karena itu nalar Barat menceburkan diri dalam bidang ayat ufuk dan jiwa bukan dengan basha`ir dari ayat-ayat kitab.

Dengan kemampuan dan penghormatan kita terhadap kesungguhan, ketabahan dan kesabaran atas tuntutan penelitian dan studi yang merupakan sifat nalar Barat. Semisal Rene Dubos dan Abraham Maslow yang mengkritik konsep konflik dengan alam dan mendekati tafsir Islam, dan yang menghasilkan semisal Maurice Bukady, Raja Jarwady kepada cahaya Islam. Maka kita menyatakan dengan lantang kepada nalar Barat bahwa telah datang waktu bagi mereka untuk membebaskan diri dari ikatan kejiwaan yang mengikat nalar para pendahulunya. Pada abad pertengahan dan menjadikan mereka melihat kepada Islam. Pandangan negatif yang menjauhkan objektivitas.

Termasuk melecehkan terhadap pemikiran dan pemilik pemikiran. Jika membiarkan pemikiran dan pemilik pemikirannya meminta upah untuk kepentingan para pemilik harta dan nafsu yang mengendalikan dan membentuk posisi para pemikir positif dan negatif untuk kepentingan yang beraneka ragam dan berubah-ubah.

Kedzaliman Nalar Barat

Nalar Barat menzhalimi diri sendiri dan masa depan generasinya, menzhalimi Qur`an dan menzhalimi Rasul Islam ketika melihat sebab keterbelakangan Muslim modern adalah karena keterbelakangan keyakinan dan pemikirannya. Adalah buta jika perhatian nalar Barat hanya terbatas kepada menyaksikan kekayaan materi yang tersimpan di perut bumi Arab dan Islam atau alam di atasnya kemudian tidak mencari kekayaan pemikiran dan keyakinan yang tersimpan di perjalanannya khususnya dan bahwa kebutuhan Barat terhadap kekayaan keyakinan dan pemikiran ini lebih besar daripada kebutuhannya akan kekayaan materi.

Nalar Barat menzhalimi diri sendiri dan masa depan generasinya, menzhalimi Qur`an dan menzhalimi Rasul Islam ketika menjadikan Islam sebagai agama nasionalisme yang khusus milik Arab, atau agama Asia atau Afrika yang termasuk dalam daftar agama Timur. Sifat global gamblang sekali dalam risalah Islam dan perjalanan orang-orang Islam. Barat banyak menzhalimi diri sendiri dan lebih banyak lagi menzhalimi Islam ketika mencitrakan bahwa hubungannya dengan Islam adalah hubungan perseteruan yang terus menerus.

Qur`an menyebut-nyebut nama pendahulu Barat –dari Romawi- dalam salah satu surahnya dan memulai dengan kabar gembira kemenangan Romawi yang akan menyebabkan kegembiraan orang-orang Mu’min dengan keislamannya. Rasul Islam memberikan kabar gembira kepada orang-orang Islam –sebagaimana terdapat dalam sejarah Nabi- bahwa Syuhaib adalah di antara orang Romawi yang pertama-tama Islam.

Beliau memuji hal positif Barat dan mengarahkan orang-orang Islam agar mempercayai mereka ketika beliau bersabda:

وَالرُّوْمُ ذَاتَ الْقُرُوْنِ, كُلَّمَا هَلَكَ قَرْنٌ خَلْفُهُ قَرْنُ أَهْلِ صَبْرٍ, وَأَهْلُهُ أَهْلٌ لِآخِرِ دَهْرٍ, هُمْ أَصْحَابُكُمْ مَا دَامَ فِي الْعَيْشِ خَيْرٌ

“Orang-orang Romawi memiliki generasi-generasi, ketika telah hancur satu generasi maka diikuti oleh generasi yang dipenuhi oleh orang-orang yang sabar, dan orang-orangnya adalah orang-orang yang ahli pada akhir masa, mereka adalah sahabat-sahabat kalian selama dalam kehidupan ada kebaikan”.

Nalar Islam Dalam Sisi Positif Nalar Barat

Ketika salah seorang sahabat Nabi bertanya tentang kelompok mana yang dimaksud dengan sabdanya “umat dan generasi” sebelum orang-orang Islam, dan apakah mereka adalah orang-orang Persia dan Romawi! Maka Rasulullah SAW menjawab: “Apakah manusia hanya mereka?”.

Dalam hadits lain al Mustaurid al Qurasyi berkata kepada Amr bin Al Ash: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Kiamat akan datang dan Romawi adalah orang yang terbanyak”. Maka Umar bertanya kepadanya: “Jika engkau mengatakan demikian maka pada mereka terdapat empat karakteristik: Mereka adalah orang yang paling sabar terhadap bencana, mereka adalah yang paling cepat bangkit untuk menghindari bencana, yang paling cepat menyerang setelah mereka memiliki kekuatan, orang yang terbaik terhadap orang miskin, yatim dan lemah. Dan kelima mereka elok dan menawan: dan paling mencegah dari kezhaliman raja”.

Nalar Islam –di sini- melihat pada Barat sisi positif dan mengakui bahwa mereka adalah orang yang paling sabar dalam menghadapi masalah, paling cepat mengikuti kita setelah mereka mengalami kemunduran, paling dekat mengadakan penyerangan dan penuntutan balas setelah mengalami kekalahan, yang paling baik dalam menyediakan tunjangan sosial terhadap orang-orang miskin, yatim dan lemah.

Keempat sifat ini dimahkotai dengan sifat kelima yakni keelokan yakni kerinduan mereka akan kebebasan dan demokrasi dan imunitas mereka terhadap tirani raja dan penguasa! Dan sifat-sifat ini dimahkotai oleh pernyataan Rasul Islam akan kemampuan orang-orang Barat yang berhasil menjalani perlintasan perkembangan manusia sehingga mereka akan menjadi orang yang terbanyak ketika berakhirnya kisah kehidupan dunia dan mulainya kehidupan akhirat! Ini adalah sifat yang menunjukkan kemampuan mereka menghadapi bahaya kehancuran dari dalam dan luar!!

Peran Besar Nalar Barat Dalam Menunjukkan Aspek Kemukjizatan Al Quran

Saya percaya bahwa nalar Barat memiliki peran besar dalam menunjukkan aspek dari mukjizat teragung dalam Qur`an yakni kemukjizatan ilmiah. Hal itu karena aspek-aspek kemukjizatan dalam Qur`an sejajar dengan munculnya perkembangan-perkembangan yang dilalui masyarakat manusia. Dengan kemampuan dan kesiapan yang diperlukan untuk menunjukkan kemukjizatan ini dan yang dengannya umat dan ras manusia dibedakan.

Pada masa era ilmu, umat-umat yang memiliki karakter pandangan ilmiah memiliki peran dalam menjelaskan kemukjizatan ilmiah Qur`an, sebagaimana umat yang memiliki sifat karakter pemahaman bahasa dan sastra memiliki peran dalam menjelaskan kemukjizatan bahasa dan sastranya.

Setiap aspek dari aspek-aspek kemukjizatan adalah sisi yang menjadi –daya tarik- dan mengikat hubungan cinta antara Qur`an dan manusia yang memiliki sifat superioritas dalam memahami aspek ini. Cinta ini semakin meninggi sehingga mendorong pemiliknya untuk mencurahkan diri dan harta mereka demi kepentingan risalah Islam.

Ketika Qur`an menyentuh perasaan akan keindahan sastra di dalam masyarakat Arab yang semasa dengan kebangkitan risalah Islam. Maka ia membuat di dalamnya cinta dan daya tarik terhadap Qur`an. Seperti pandangan atau senyuman dari kekasih yang cantik bagi pecinta yang sedang terkena penderitaan. Bahkan Qur`an lebih dahsyat dari itu.

Dalam tulisan seperti Maurice Bukady misalnya menyajikan bahwa era ilmu adalah milik barat Modern. Ketika mereka menyaksikan kemukjizatan ilmiah dalam Qur`an karena penyaksian akan mukjizat ini diberikan oleh Qur`an seperti yang diberikan kepada orang Arab ketika terbitnya risalah Islam.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Bahan Bacaan

Rene Dubos, So Human an Animal (London: Spheve Books, Ltd., 1968), hal. 19.

Kanz al Ummal, jilid 12, hal. 303, no. 35127.

Musnad Ahmad, Tashnif as-Sa’ati, jilid 24, hal. 42, no. 112, juga dalam Shahih al Bukhari.

Shahih Muslim, jilid 18, bab fitnah (Cairo: Al Mathba’ah al Mishriyah wa Maktabatuha), hal. 22.

Komentar
Memuat...