Hutang Budi Kemanusiaan| Menata Ulang Konsep Dzikir Part – 1

0 48

Inilah serial tulisan penulis tentang teori Hutang Budi Kemanusiaan. Tulisan ini dihadirkan sebagai bentuk pertanggungjawaban intelektualisme penulis atas ragam dan dinamika kehidupan sosial yang melingkari penulis sendiri. Serial tulisan ini sebenarnya, telah sipublish di Jurnal terakreditasi B di kisaran tahun 2007, beberapa saat sebelum penulis menjadi seotang Guru Besar. Guru Besar dalam bidang yang relatif pelik, yakni: Filsafat Ilmu.

Sejujurnya harus diakui bahwa tulisan ini, sangat dipengaruhi logika deduktif, fakta empiris dan suasana kebatinan [intuitif] penulis sendiri. Berbagai dinamika tadi telah melingkari otak kiri-kanan penulis dalam merefleksi suatu dinamika sosial tadi. Pengalaman yang dihasilkan dari setiap pergulatan dalam soal dinamika ilmu pengetahuan baik di sekitar kampus maupun di sekitar kehidupan sosial. Salah satu instrumen yang mempengaruhi pikiran- pikiran dimaksud, karena itu tentu saja dunia pendidikan. Suatu dunia, yang menurut ukuran subjektif penulis, patut dianggap belum mampu memartabatkan manusia.

Bagi penulis, tugas utama pendidikan adalah menjaga manusia agar tetap menjadi manusia. Manusia yang memiliki sejumiah kemauan dan kemampuan (fisik- rasio) sekaligus perasaan dan kecenderungan batiniyah (fitrah). Suatu kecenderungan yang mendorong manusia untuk selalu bertindak baik. Tujuannya, agar tetesan kebaikan mampu menjadikan manusia selamat baik dalam konteks dunia maupun akhirat.

Karena itu, tulisan yang akan hadir secara berseri ini, tidak akan mengabaikan dimensi dunia yang profan. Dalam banyak kasus, dimensi provan ini didorong melalui upaya penguatan segenap kemampuan artifisalnya sebagai manusia. Namun demikian, yang artifisial fisis ini, harus juga didorong pada dimensi psikis. Karena itu selalu butuh pada pemenuhan dua kebutuhan tadi.

Hutang Budi Kemanusiaan

Penulis akan mengawali tulisan ini dengan menmgutif Kazuo Murakami (2006:23). Ilmuan asal Jepang yang sangat khas membahas dinamika psikologis manusia temporer. Ia misalnya, memandang bahwa setiap manusia selalu dan pasti memiliki hutang budi terhadap generasi sebelumnya. Logikanya, karena manusia selalu memiliki hutang budi, maka, setiap manusia wajib menitipkan hutang budi baru kemanusiaan pada generasi sesudahnya.

Dalam analisa penulis apa yang ditulis Kazua Murakami di atas, salah satu hutang budi yang harus dibayarkan dan sekaligus dititipkan itu adalah membangun jiwa kemanusiaan. Pembangunan jiwa kemanusiaan itu, hanya menurut Kazua Murakami, hanya dapat dilakukan melalui apa yang disebut dengan ilmu pengetahuan. Apapun sumber, metode, sarana, alat dan media yang digunakan manusia untuk mentransformasikan ilmu, ia selalu memiliki hutang moral untuk menitipkan hal itu kepada generasi sesudahnya.

Ditinjau dari sudut pandang filsafat, apa yang disampaikan Ilmuan abad 21 tadi, memang sejalan. Mengapa? Sebab dalam kaidah filsafat, ilmu selalu berkembang secara dinamis. Ilmu selalu dipengaruhi sejumiah faktor dan aktor yang selalu melingkari setiap manusia dan setiap episode kemanusiaan.

Selalu terdapat sejumlah variabel yang tidak bersifat tunggal. Ilmu berkembang dari satu item ke item lain. Ilmu tidak pernah berdiri sendiri dan seolah terlepas dari variabel lain. Karena itu, setiap ilmuan selalu juga memiliki hutang budi. Hutang budi semacam ini, harus dibayar dengan bayaran yang mungkin tidak dapat diukur secara fisik apalagi material oleh manusia.

Paradigma Positivistik

Amdil contoh kasus paradigma positivistik. Ia tidak mungkin hanya berdiri dalam landasan teori Agust Comte. Teori yang melakukan kongkritisasi terhadap segala hal dengan sejumlah ukuran didalamnya, sejatinya lahir atas kuatnya perkembangan ilmu pengetahuan yang berbasis pada pendekatan mistik. Jadi, betapapun dianggap keliru pendekatan mistik dalam basis ilmu, ia tetap memberi konstribusi atas lahirnya jenis paradigma pengetahuan positivistik tadi.

Tampaknya, sampai hari ini dunia ilmu masih kesulitan mencari rumusan baku tentang pentingnya penerapan basis ilmu pengetahuan yang mengkompromikan basis epistemologi yang beragam dalam rumusan iluminatif dan gnostik. Hilangnya dua dimensi mistik atau apapun istilah yang disandingkan kepadanya, termasuk dalam bangunan pendidikan, secara langsung akan mengaburkan makna, tujuan sekaligus sasaran dari pendidikan itu sendiri, yakni manusia. Seringkali, dunia pendidikan, termasuk dunia pendidikan Islam, mengabaikan dimensi kemanusiaan yang memiliki dimensi artifisial-fisik sekaligus dimensi ruhiyah yang immateri.

Harus diakui bahwa paradigma positivistik telah mampu mendorong manusia untuk sedikit progresif dan menuntun setiap manusia untuk terus lebih jauh menelusuri pentingnya penguasaan dunia fisik-empiris dan rasional-sensual. Tetapi hal ini hanya sebagai dasar dan pijakan dalam menata kehidupan manusia di dunia. Suatu sikap di mana manusia dituntut menciptakan Syurga di alam fisik dengan logika bahwa dunia dihadiahkan Tuhan hanya kepada jenis makhluk bernama manusia dan harus diakses atas segalanya oieh manusia.

Akhirnya, ilmu seolah hanya diciptakan manusia dan berjarak kalau bukan sama sekali tidak ada hubungan pertaliannya dengan Tuhan. Dalam banyak kasus, antara ilmu dengan kekuasaan Tuhan malah seperti sedang bertanding untuk saling mengalahkan. Mestinya, apapun hasil yang diperoleh ilmu pengetahuan, tidak akan mengecilkan keberadaan Tuhan. Ilmu justru akan dan harus memperkuat eksistensi Tuhan di mata manusia sejatinya berasal.

Kegunaan Ilmu Pengetahuan

Dalam bahasa al-Ghazali (tt:12), yang tampaknya dikutip dari Imam Ali, ilmu hanya bermanfaat, jika ilmu dimaksud mendorong manusia untuk mendekati Tuhan. Mendekati kesempurnaan hakikiat manusia sebagai manusia yang ideal. Begitupun sebaliknya. Ketika manusia berada dalam titik nol pasrah pada kekuatan dan kekuasaan Tuhan, didalamya terdapat sejumlah ilmu pengetahuan yang dibutuhkan bagi kehidupan manusia di dunia.

Ilustrasi semacam di atas, jika membaca Novel-novel filsafat Dan Brown (2000:345) sebetulnya bukan hanya dirancang al-Ghazali, tetapi juga telah diteorikan, tentu setelah al Ghazali oleh tokoh semacam Galileo Galilei. Tokoh kontroversial abad pertengahan ini menyatakan bahwa, ilmu bukan musuh agama. Ia adalah rekanan yang sama-sama terus berusaha untuk menciptakan simetri keseimbangan.

Jika agama menceritakan adanya siksa dan pahala kubur, Syurga dan neraka, menunjukkan adanya siang dan malam, pagi dan petang, hujan dan kemarau, maka sains dan sejumlah metode yang dilahirkannya, akan menunjukkan ritme alam sebagai fondasi lahirnya ilmu. Ilmu dan agama dengan demikian, selalu bersama-sama bergembira dalam simetri Tuhan.

Dengan kata lain, pertandingan [agama versus ilmu] tidak akan pernah berakhir antara terang dan gelap, antara ilmu dan agama. Keduanya, harus menang secara bersama. Bergembira sebagai pembawa berita akan adanya wahyu Tuhan. Inilah yang jika mengutif tulisan Mehdi Ghulasani (2004:123), Rabindranat Tagore (2003:23), dan Sayyed Hossein Nasr (1970:131), alam harus dipahami sebagai ayat sekaligus simbol eksistensi Tuhan yang mendampingi wahyu tertinggi Tuhan dalam bentuk nash (al-Qur’an, Injil, Taurat dan Jabur). Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.