Satu Juni Menjadi Hari Sakti Baru Bangsa Indonesia

0 51

Satu Juni Menjadi Hari Sakti Baru Bangsa Indonesia. Joko Widodo kembali membuat kejutan. Presiden ini menerbitkan Keputusan Presiden Nomor  24 Tahun 2016, ia menandatangani Keppres tentang Hari Kelahiran Pancasila pada tanggal 1 Juni. Tanggal dimaksud sekaligus ditetapkan sebagai hari libur nasional. Kepres untuk hari libur dimaksud berlaku mulai hari ini, 1 Juni 2017.

Mengapa disebut mengejutkan? Sebab sebelumnya, rakyat Indonesia kebanyakan mengenal Pancasila lahir pada tanggal 18 Agustus. Ia ditetapkan sebagai ideologi dan dasar negara sehari setelah proklamasi kemerdekan Indonesia di tahun 1945. Susunan sila yang dihasilkan tim kecil ini, disampaikan pada tanggal 18 Agustus.

Lima sila terdiri dari kata panca [lima] dan sila  [dasar, prinsip atau asas], harus dijadikan sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Jadi kalau ingin disebut sebagai bangsa Indonesia, ia bukan saja dituntut mengerti tentang Pancasila, tetapi, juga dituntut mengamalkan prinsip-prinsip di dalamnya. Yang tidak tunduk pada ketentuan Pancasila, maka, ia tidak memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai bangsa Indonesia.

Susunan lima sila dimaksud adalah: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Susunan sila ini, tercantum juga dalam Preambule UUD 1945 yang terletak di paragraf ke IV.

Soekarno dan 1 Juni

Mengapa harus satu Juni, bukan delapan belas Agustus. Tentu banyak masyarakat tidak tahu. Tetapi kalau membaca sejarah lahirnya Pancasila, maka, penempatan 1 Juni ini memiliki alasan juga. Mengapa? Sebab pada tanggal 1 Juni inilah, untuk pertama kalinya Soekarno menyampaikan pidato tentang asas negara. Meski susunan Pancasila Soekarno berbeda dengan Pancasila yang kita tahu hari ini.

Susunan Pancasila Soekarno adalah sebagai berikut: Kebangsaan Indonesia; Internasionalisme atau Peri-Kemanusiaan; Mufakat atau Demokrasi, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan; Kesejahteraan Sosial, dan; Ketuhanan. Inilah Pidato Soekarno 1 Juni itu dengan mengatakan:

“Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan. Lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa – namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar. Atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi”

Sebelum Soekarno, April 1945, BPUPKI yang diketuai Dr. Kanjeng Rd. Tumenggung [KRT] Radjiman Wedyodiningrat, telah mengajukan pertanyaan kepada seluruh anggota Konstituante. Dalam Rapat itu, Radjiman bertanya: “Apa dasar Negara Indonesia yang akan kita bentuk ini?”

Mohamad Yamin 29 Mei 1945 dan Jakarta Carter

Setelah itu, secara pribadi-pribadi, misalnya Muhamad Yamin berpidato pada tanggal 29 Mei 1945, menyampaikan lima dasar negara. Kelima dasar dimaksud adalah: Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat. Dia menyatakan bahwa kelima sila yang dirumuskan itu berakar pada sejarah, peradaban, agama, dan hidup ketatanegaraan yang telah lama berkembang di Indonesia. Meski dalam berbagai sumber, Hatta meragukan pidato Muhammad Yamin ini.

Setelah itu, BPUPKI membentuk Panitia Kecil. Panitia yang diisi  9 orang mewakili berbagai faksi masyarakat Muslim Indonesia. Maka, melalui Panitia Sembilan ini, dikenal Pancasila dengan susunan sebagaimana dapat kita baca hari ini. Hasilnya disampaikan di Konstituante pada tanggal 22 Juni 1945. Pancasila hasil Panitia Kecil ini, dikenal pula dengan sebutan Jakarta Carter [Piagam Jakarta]

Karena ada keberatan dari sebagian masyarakat Indonesia Timur melalui usulan AA. Maramis, maka, 7 kata dalam piagam Jakarta di sila pertama yang berbunyi: Ketoehanan, dengan kewajiban mendjalankan sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja dihapuskan menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Inilah yang kemudian disebut sebagai Pancasila. Kelima susunan pancasila dimaksud, dibacakan pada sidang Konstituante tanggal 18 Agustus 1945.

Setelah itu, Pancasila masuk ke dalam Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat,27 Desember 1949, UUDS pada 15 Agustus 1950 dan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Menelusuri Makna Penetapan 1 Juni

Apakah penempatan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila mengandung makna akan kemungkinan perubahan susunan Pancasila sebagaimana biasa hari ini kita baca? Tentu mungkin tidak seperti itu. Lalu apa maknanya jika demikian? Kita tidak tahu. Mungkin yang mengetahui persis adalah Presiden sendiri dan beberapa pejabat publik, ilmuan dan tokoh-tokoh kebangsaan Indonesia yang ada di sekitar istana. Yang pasti, bagi bangsa Indonesia hari, ya lumayan menambah jumlah hari libur nasional. By. Prof. Cecep Sumarna –diambil dari berbagai sumber

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.