Ibadah Haji dalam Nalar Filsafat

0 71

Haji adalah perjalanan menuju Sang Khalik. Perjalanan kemanusiaan menuju suatu hakikat primordialisme kedua sebelum perjalanan menuju hari akhir. Hajji dalam kasus tertentu, akan memerankan fungsi napak tilas manusia-manusia shaleh. Manusi terpilih sejak kenabian Adam alaishi sallam sampai kepada Nabi terakhir, Muhammad.

Pergumulan dan perjalanan para shalihin yang diagungkan Tuhan dengan tugas menyampaikan risalah ketuhanan, dipragmentasi di sekitar Ka’bah. Karena itu, tidak salah juga jika ada yang menyebut hajji adalah perjalanan menujuAi??ai???rumah Allahai??? [Baitullah]. Suatu tempat yang selalu menjadi saksi bisu bagaimana para salihin mengumandangkan asma Allah di sekitarnya.

Hajji dalam makna itu, berarti kegiatan suci untuk melaksanakan salah satu ritual keagamaan. Pelaksanaan Hajji didasarkan atas perintah Allah melalui ayat-ayat al Qur’an yang jelas mengharuskan setiap Muslim untuk melaksanakanannya. Minimal satu kali dalam seluruh perjalanan hidupnya di dunia.

Diketahui bahwa dalam pelaksanaan ibadah haji, seperti ihram, thawaf di Baitullah [Al-Haram], Saai??i??i antara bukit Shafa dan Marwa, wukuf di Arafah, dan melempar jumrah di Mina, serta ritual-ritual lainnya, secara langsung dicontohkan Rasulullah baik melalui perbuatan, perkataan dan hal ihwalnya.

Deklarasi Ketauhidan dan Sikap Kemanusiaan

Semua pelaksanaan ritual haji adalah deklarasi sikap manusia atas ketauhidan Allah. Karena itu, banyak keterangan yang menyebut bahwa bagi mereka yang beribadah haji, yang tidak rafas, fusuq dan jidal, kepadanya diberi jaminan ampunan atas segala dosa. Inilah yang disebut dengan kemabruran hajji.

Di sisi lain, secara sosiologis, Hajji dapat berfungsi menjadi sarana saling perkenalan antara satu manusia dengan manusia lain. Antara satu peradaban dengan peradaban lain. Antara satu budaya dengan budaya lain. Tentu selain haji dapat menjadi media pembelajaran penting tentang bagiamana masing-masing negara Islam di dunia, melaksanakan hukum Islam. Haji dalam makna tertentu, karena itu dapat diterjemahkan sebagai bentuk kepulangan manusia kepada Allah SWT.

Kepulangan kepada Allah merupakan gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai dan fakta-fakta sosial kemanusiaan. Dengan melakukan perjalanan menuju keabadian ini, tujuan manusia bukanlah untuk binasa, tetapi untuk berkembang. Tujuan ini bukan untuk Allah, tetapi untuk manusia itu sendiri. Hajji akan mampu mendekatkan sipapun yang melaksanakan kepada-Nya.

Makna-makna tersebut dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji, dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan non ritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangan, nyata atau simbolik. Semua itu, pada akhirnya, mengantarkan seorang haji hidup dengan pengamalan dan nilai kemanusiaan universal.

Sebut misalnya, bagaimana pelaksaan ihram. Sessi kegiatan haji ini, telah menanggalkan seluruh pakaian biasa, untuk memakai pakaian dan seragam tertentu. Hal ini akan memberi makna universal akan nilai-nilai kemanusiaan secara hakikiyat. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.