Ibnu Arabi Tulisan yang Didikte Tuhan dalam Intelektual Muslim Part-21

2 80

Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah al-Hatimi at-Tha’i al-Mursy al-Andalusy atau popular dengan sebutan Ibnu Arabi, adalah ahli tasawuf falsafi (theosof) yang dimiliki masyarakat Muslim dunia. Ia dikenal dengan sebutan Muhyidin (penghidup agama), al syeikh al akbar (Profesor), alkibrit al akhmar atau dzu al mahasis (pemilik kebaikan) dan beberapa gelar lain yang cukup kompleks dan banyak. Gelar yang dimilikinya, sebanyak karya shufi yang dihasilkannya. Inilah tokoh besar, yang makamnya sampai hari, masih banyak dikunjungi umat manusia dari seluruh penjuru dunia.

Sosok fenomenal ini, lahir pada tahun 560 Hijriah, tepatnya tanggal 17 ramadlan atau 28 Juli 1165 di Kota Murcia, lalu pindah ke Isbiliya. Dua kota ini terletak di Andalusia atau Spanyol hari ini. Ia dilahir di tengah kuatnya tradisi masyarakat Muslim akan dunia suluk atau dunia tasawuf, meski syarat dengan dunia falsafi. Masa di mana ia dilahirkan, pemerintahan Islam sedang dipimpin oleh dinasti kecil Muwahidun (kelompok shufi yang melahirkan gerakan politik) dan berhasil menjadi khalifah. Di sisi lain,  dunia Islam sendiri bukan saja sedang berada dalam keterpecahan politik dalam bentuk dinasti-dinasti kecil, tetapi, secara ekonomi juga sedang berada dalam masa surut.

Hanya 30 tahun ia tinggal di Spanyol. Sebab pada usianya yang ke 30, Ibnu Arabi telah menjadi sufi darwis dan suka melakukan perjalanan spiritual ke berbagai penjuru yang dikuasai dunia Islam. Perjalanan itupun membuat dia tidak kembali ke Spanyol. Ia mulai melakukan perjalanan ke Kairo, Mesir, lalu Syria atau Damaskus, dan tentu ia berkunjung ke dua Kota suci umat Islam –yang didalamnya ada dua masjid yang disucikan– yakni Mekkah dan Medinah. Di Mekkah itulah, Ibnu Arabi menyusun karya spiritual yang dialaminya ke dalam suatu buku yang diberi judul al-Futuhat al-Makiyyah, Tarjuman al-Asywaq, fushush al Hikam dan Ruh al-Quds.  Inilah karya-karya monumentalnnya yang luar biasa hebatnya dalam telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa. Ia meninggal di Kota Mekkah dalam usianya yang ke 78 tahun, tepatnya pada tahun 638 Hijriyah.

Perjalanan Ibnu Arabi

Karya-karya Ibnu Arabi, secara umum banyak menggunakan menggunakan simbol, sehingga mengesankan ambigu (kacau) bagi mereka yang membacanya. Banyak pihak menganggap bahwa tulisannya itu, dimaksudkan agar hanya sedikit yang dapat memahaminya karena khawatir salah difahami. Atau ada juga yang menganggap bahwa tulisannya yang seperti itu karena ia seorang shufi. Karenanya, tulisan yang terlalu banyak simbol, dimaksudkan agar syarat makna.

Menarik untuk disebut bahwa setiap kali dia mengawali tulisan,  selalu diawali oleh sumpahnya yang menyatakan bahwa substansi tulisannya itu, merupakan pengalaman langsung bersama Tuhannya. Ia menyatakan bahwa seluruh ilmu yang ada dalam berbagai tulisannya itu, langsung didiktekan melalui kalam-kalam Tuhan. Ilmu yang disampaikan Tuhan itu selalu bersipat bi-ghayri washithah (tanpa pelantara). Ia langsung berkomunikasi dengan Tuhan  secara langsung.

Ia menyebut bahwa setiap kali ia menulis, selalu bersimpuh, menengadah ke langit, menghadap ke kiblat. Aku memang bukan Nabi dan juga bukan rasul. Tetapi, Tuhan tidak akan pernah menghentikan pancaran ilhamnya sampai kapanpun, termasuk kepada diriku sendiri. Indah memang, jika saat ini ada penulis yang menulis tulisannya didasarkan atas pengalaman spiritualnya bersama dengan Tuhannya. Semoga kita bisa.** Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. SITI ROHMAH berkata

    Alhamdulillah, Prof Cecep menyajikan filsafat ilmu dalam bentuk novel, aku senang membacanya, mudah-mudahan Prof. Cecep diberikan umur panjang dan selalu sehat. Amiin.

  2. ghopul berkata

    sosok filsuf yang membuka wawasan banyak orang

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.