Ibnu Rusyd Penulis Produktif dalam Intelektual Muslim Part-17

1 35

Filosof, dokter spesialis dan hakim Agung Cordova pada masa pemerintahan dinasti bani umayah II yang dipegang Ibnu Rusyd, tidak mengakibatkan dirinya berhenti menulis. Ia tetap produktif menghasilkan karya-karya original, di tengah kebekuan pemikiran masyarakat Muslim. Ia tetap produktif dengan sejumlah karya monumental. Banyak pihak mengatakan bahwa dia di pagi hari dikenal sebagai pekerja pemerintah, di sore hari dikenal sebagai pemikir dan penulis kreatif dan produktif, di malam hari sebagai filosof taat beribadah.

Sebagai bukti bawa dia adalah penulis produktif, terlihat dari setidaknya 20 karya dalam bidang kedokteran. Dalam bidang sosial dan filsafat serta keagamaan, tentu jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan karyanya di bidang kedokteran. Salah satu karya monumentalnya dalam bidang kedokteran adalah al-Kulliyyat fi al-Thibb, terbit tahun 1255 Masehi. Inilah karya monumental yang dihilangkan dari tradisi kemusliman masyarakat Muslim di Spanyol dan bahkan pada tingkat masyarakat Muslim global.

Karya monumental lain yang dimiliki dan dihasilkan Ibnu Rusyd adalah “Tahafut at-Tahafut”. Inilah karya dialektis antara dirinya dengan al Ghazali yang memiliki rentang jarak sekitar satu abad dalam masa kehidupan masing-masing. Kita tahu kalau Ibnu Rusyd hidup pada kisaran tahun 1126-1198 Masehi, sedangkan al Ghazali pada kisaran tahun 1058-1111 Masehi.

Saat al Ghazali tumbuh sebagai pemikir, ia menyusun suatu karya berjudul: “Tahafut al-Falasifah”, khususnya pada filsafat al-Farabi dan Ibn Sina, dalam dua puluh persoalan. Ke-20 masalah dimaksud, diurai dalam kritik pedasnya secara detil. Al-Ghazali menganggap bahwa karya filosof itu bertentangan dengan al-Quran. Tema ini pula yang kemudian dianggap menjadi sebab, menurunnya minat intelektual Muslim, dengan menyandingkan al Ghazali sebagai sumbu utamanya.

Ibnu Rusyd dalam karyanya di se abad kemudian itu, berpandangan filsafat tidak bertentangan dengan ajaran agama, terlebih dengan al Qur’an. Dalam kasus tertentu, ia bahkan menyebut al Qur’an sebagai landasan penting yang mendorong lahirnya pemikiran filosofi, terlebih terhadap masyarakat yang mengimaninya.

Menulis dalam Budaya Dialektika

Seperti pernah saya tulis dalam pokok pikiran al Ghazali tentang apa yang menjadi “ketidaksetujuan” al Ghazali terhadap karya filsafat itu, yang paling utama terletak  dalam tiga soal. Ketiga soal dimaksud adalah: “Tuhan tidak mengetahui hal terperinci (particular), Kekekalan (kekadiman) Alam, dan Tidak Adanya Kebangkitan Jasmani di yaumul hisab”. Ketiga corak berpikir inilah yang disebut al Ghazali, bahwa filosof telah menentang agama dan bahkan layak untuk disebut kafir. Tuduhan al ghazali terhadap cara kerja filosof tadi, dianggap semakin kuat, karena menurunya, filosof Muslim, cenderung lebuih memilih filosof Yunani, seperti: Aristoteles, Phytagoras dan Plotinus dibandingkan dengan berkhidmat terhadap ayat suci al Qur’an.

Nalar-nalar al Gazali semacam ini pula, yang menjadi landasan penting bagaimana Ibnu Rusyd. Justru kembali menghangatkan pikiran filosofi Muslim yang Aristotalian, sekalipun bertentangan dengan pikiran al Ghzali. Dari sini justru terlihat bagaimana Ibnu Rusyd menggunakan nalar Aristoteles untuk membantah argumentasi al Ghazali yang dalam kasus tertentu, terlalu kuat dianggap berbau Platonik.

Bagi kita hari ini, tidak penting soal polemiknya. Tetapi, yang menginspirasi kita itu justru dialektikanya dan keberanian melakukan proses keabadian dialektika dimaksud, ke dalam sistematika tulisan, yang saya kira masing-masing sangat genius.**


Penulis         : Prof. Dr. H. Cecep Sumarna
Penyunting  : Acep M Lutvi
Diterbitkan  : www.lyceum.id

  1. Hendri setiawan berkata

    saya sangat setuju bila landasan ilmu filsafat kita adalah Al-Qur’an. karena di dalam Al-qur’an berisi firman Allah swt dengan segala kebenaran firmannya. tetapi Itulah perbedaan antara pemikiran filsafat barat dan filsafat timur, sehingga imam Al ghazali tidak setuju dengan pemikiran filsuf2 barat walaupun berbeda kita sebagai mahasiswa harus tetap menggali apa yang menjadi dasar kebenaran baik menurut filsafat barat maupun filsafat timur tetapi selalu berpegang teguh dengan agama dan keyakinan kita.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.