Ibnu Sina Filosof Dunia dalam Sosok Intelektual Muslim Part-4

0 91

Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina adalah filosof dan saintis yang dimiliki dunia. Sosok ini, dalam dunia Islam, lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Sina. Sedangkan di kalangan masyarakat Barat dan Eropa, ia lebih dikenal dengan nama Avisena. Tokoh ini lahir pada tahun 980 Masehi, di Asfahana, dekat dengan Kota Intelektual yakni Bukhara. Di Kota inilah, lahir tokoh hadits yang hari ini dikenal dengan nama Imam Bukhari. Tokoh ini dikenal sangat hati-hati dalam mengumpulkan hadits sekaligus dikenal sangat teliti dalam menetapkan hadits shahih. Belakangan, tempat ini, pernah berada dalam wilayah kekuasaan Rusia.

Di Kota inilah, Ibnu Sina lahir dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Ia dikenal sebagai filosof dunia Muslim yang paling fenomenal. Ia juga dianggap sebagai satu-satunya filosof yang memiliki sistem kefilsafatan yang lengkap dan terperinci. Karena itu, menjadi wajar, kalau dia mendapat banyak penghargaan baik dari kalangan masyarakat Muslim, maupun non Muslim sebagai sosok intelektual yang sangat cemerlang.

Sistem Kefilsafatan yang Khas Ibnu Sina

Apa yang membuat dirinya dikenal begitu cemerlang dibandingkan dengan filosof lainnya. Ternyata, ia dikenal sebagai tokoh yang mampu mengkombinasikan gaya pemikiran rasional yang original dengan tradisi pemikiran Yunani Kuna yang dianggap Helenism. Gabungan ke dua corak filsafat ini, dikombinasikan Ibnu Sina menjadi satu system kefilsafatan baru yang patut dianggap mampu menunjukkan watak dasar filosofinya yang khas keagamaan, yakni Islam. Suatu sistem keagamaan yang dia anut dan tentu dia banggakan yang karena corak filsafatnya menjadi khas Ibnu Sina.

Saat di mana Ibnu Sina dilahirkan dan berkembang secara keilmuan, di sekitar dirinya sedang tumbuh dengan kuat suatu kultur rasional di kalangan masyarakat Muslim. Perkembangan rasionalisme Islam ini, didukung oleh system Khilafah Islamiyah yang waktu itu dikuasasi dinasti bani Abbas. Inilah suatu dinasti yang sempat membawa dunia Islam ke puncak peradaban. Khilafah ini dikenal sangat konsen terhadap perkembangan filsafat Yunani dan temuan-temuan praktis dalam konteks ilmu pengetahuan dan teknologi. Inilah fase di mana dunia Islam, dianggap telah hadir dalam dinamika keilmuan yang tidak ada tandingnya.

Ibnu Sina Dokter yang Hafal Al Qur’an

Tokoh rasionalis Muslim yang dikenal sebagai bapak kedokteran dunia ini, dicatat dalam berbagai literasi sejarah sebagai sosok yang telah mampu menghafal al Qur’an secara keseluruhan pada usia 10 tahun.Karena itu, ia bukan hanya dikenal sebagai filosof kering tanpa nilai agama, tetapi, bahkan memiliki kecakapan lebih dalam memahami literasi keagamaan.

Ibnu Sina diketahui juga telah mempelajari ilmu logika, khususnya saat dia memasuki masa remaja. Guru ilmu logika Ibnu Sina adalah Abu Abdellah Natili. Inilah pelajaran penting yang membawa dirinya, akhirnya memiliki kemampuan untuk mempelajari logika secara mendalam. Berkat kemampuannya ini pula, ia kahirnya merasa termudahkan untuk mempelajari buku Isagoge dan Porphyry, Euclid dan Al-Magest-Ptolemus. Setelah itu, ia mempelajari metafisika, yang secara khusus di abaca dari karya Plato dan Arsitoteles.

Dari 18 karya yang dimiliki Ibnu Sina, ada satu karya fenomenal yang tidak pernah berhenti dirujuk dunia kesehatan, yakni kitab As-Syifa’ atau Sanatio dan Sufficienta dalam bahasa Italia. Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam  bahasa Inggris dengan nama The Book of Recovery or The Book of Remedy. Buku ini terdiri dari 18 jilid,  naskah aslinya tersimpan di Oxford University, London, bukan di perpustakaan dunia Islam. Buku ini disusun mulai tahun 1022 Masehi dan berakhir, tentu bukan berarti tuntas pada tahun 1037 Masehi, saat yang bersangkutan meninggal dunia akibat sakit ambiven. ** Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.