Ibnu Thufail dan Novelat Sastra Alegoris | Intelektual Muslim Part-12

0 26

Ibnu Thufail yang memiliki nama lengkap Ibnu Thufail adalah Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdul Malik bin Muhammad bin Thufail al-Qaisi al-Andalusi. Dia adalah seorang filosof, praktisi kesehatan (dokter) dan pejabat pengadilan Arab Muslim di Andalusia, sekarang masuk dalam kekuasaan Spanyol. Ia lahir di Guadix, Spanyol pada tahun 1105 dan meninggal di Marrakesh, Maroko pada tahun 1185. Inilah filosof Muslim Spanyol yang sangat kuat dipengaruhi filsafat Ibnu Sina, al Ghazali, Al Farabi, Aristoteles dan Plato

Hayy Ibn Yaqzhan
Hayy Ibn Yaqzhan

Karya Novelat Filsafat berjudul Hayy Ibn Yaqzan, berhasil menyihir para intelektual Muslim dunia, bukan saja pada generasinya, tetapi juga generasi sesudahnya, bahkan mungkin sebagiannya sampai saat ini. Novel ini, mengalahkan popularitas karyanya yang lain. Ia dianggap sebagai filosof berpengaruh pada kelas dunia, setingkat dengan Ibnu Bajjah dan Ibnu Rusyd. Mereka adalah filosof yang dilahirkan dunia Islam di Spanyol pada abad ke 12 Masehi.

Novel Alegori Theosofi

Inilah Novel alegori theosofi karena syarat dengan term filosofis-mistis. Melalui karyanya ini pula, ia dianggap telah pernah sampai pada maqamat ekstacy yang mengasumsikan bahwa dirinya pernah bersatu dengan Tuhan yang dianutnya.

Kisah yang digagas dalam Novel filsafat ini, bercerita tentang terdamparnya seorang bayi di sebuah hutan belantara yang tidak ada satupun manusia didalamnya. Bayi itu kemudian diasuh dan didik oleh seekor rusa hingga tumbuh dan berkembang menjadi dewasa.

Karena bayi itu manusia, maka, sekalipun ia didik dan dilatih dalam dunia binatang, tetap saja memiliki nalar dan kemampuan berpikir. Bayi itu tetap diberi karunia oleh Allah dalam bentuk intelegensi yang tinggi. Dengan intelegensi yang tinggi itu pula, sekalipun ia berada di hutan dan tidak mengenal peradaban selain peradaban binatang, akhirnya ia tetap mencapai kebenaran layaknya manusia. Karena itu, dalam analisa filosofi atas kisah ini, Ibnu Thufail ingin menunjukkan bahwa, media untuk memperoleh kebenaran, tidak bersipat tunggal. Untuk mendapatkan apa yang disebut dengan kebenaran, selalu memiliki jalan dan media yang tidak tunggal. Novel ini mengisyahkan bahwa jika hanya sebatas ingin mengetahui ada Tuhan, manusia, tidak memerlukan wahyu. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.