Take a fresh look at your lifestyle.

Mengembangkan Motif Spiritual dalam Politik

0 42

Bagian ini akan diawali dari ilustrasi menarik yang pernah disampaikan Prof. Djawad Dahlan (alm) dalam sebuah diskusi kelas di Program Doktor UIN Bandung. Ilustrasi itu adalah: Kenapa orang Islam tidak mau makan dan tidak mau minum saat mereka berpuasa? Padahal makanan dan minuman yang dibutuhkan dalam suasana lapar dan haus itu, sangat mudah ia dapatkan dirumahnya. Selain itu, dirumahnya juga sepi. Tidak ada orang lain yang melihatnya, jika dia berbuka puasa.

Ia dapat makan dan minum, selain itu ia dapat pula berpura-pura berpuasa kembali, tentu setelah ia makan. Umat Islam- tentu yang imannya kuat- rela menahan lapar dan haus sampai waktu Maghrib tiba padahal rasa lapar dan haus demikian menyiksa. Menahan lapar dan haus itu, menurut Prof. Djawad Dahlan, didorong sebuah motif besar dalam bathinnya. Motif itu, melewati batas-batas biologis kemanusiaan. Motif itu mem-blok aktivitas biologis manusia. Karena itu disebut motif spiritual. Sebuah motif di mana manusia harus meyakinkan dirinya bahwa Allah adalah tujuan akhir dari seluruh aktivitas manusia di dunia.

Nilai Ideal ada dalam Motivasi

Nilai Ideal ada dalam Motivasi
Nilai Ideal ada dalam Motivasi

Sejalan dengan hipotetik di atas, riset juga menunjukkan bahwa motivasi telah menempati posisi penting dalam setiap aktivitas manusia. Dunia modern bahkan telah menempatkan motivasi sebagai ilmu yang berdiri sendiri sebagai bagian dari ilmu psikologi.

Penempatan motivasi sebagai ilmu kejiwaan, didasarkan atas asumsi bahwa persoalan ini sangat terkait dengan persoalan jiwa manusia. Motivasi baik yang bersifat intrinsic (dari dalam diri sendiri) maupun ekstrinsik (dari luar dirinya) yang timbul dari interaksinya dengan orang lain, telah menjadi bagian penting dalam ilmu kejiwaan. Disebut demikian, karena motivasi menjadi mata rantai dari sebuah aktivitas yang bersifat ruhaniyah (bathin). Motivasi terbentuk dalam “bathin” –yang karenanya tidak tampak –. Ia hanya akan terlihat melalui ekspresi atau tingkah laku seseorang dalam aktivitas kesehariannya.

Mengapa perlu ada pendidikan dan pembelajaran, termasuk kegiatan pembekalan seperti hari ini, di sini di Kantor PDIP Kabupaten Cirebon? Tujuan sebenarnya adalah sederhana, yakni mendorong semua elemen dalam suatu institusi atau komunitas agar menjadi insan al kamil yang syaratnya adalah penerimaan yang total terhadap eksistensi Tuhan yang tunggal dan pengakuan pada hukum Tuhan yang teratur melalui berbagai hokum sosialnya di muka bumi. Mengapa dengan hukum Tuhan? Karena setiap hukum Tuhan pasti menjadi hukum kemanusiaan. Atau sepanjang terdapat nilai-nilai kemanusiaan, maka, di situ hokum Tuhan tersedia. Hukum yang memblok aktivitas biologis sehingga melahirkan motive spiritual.

Berbagai tulisan, teman-teman kita di PDIP Kabupaten Cirebon yang terlansir dalam dunia maya, menurut saya, telah memiliki kesan bagaimana manusia –khususnya tentu saja kader PDIP– harus dodorong supaya mampu memanfaatkan sumber ragawy insaninya dengan baik. Mengapa? Karena setiap agama yang benar –tentu saja Islam didalamnya– mengajarkan bahwa perubahan tidak terjadi dengan sendirinya. Perubahan adalah sebuah proses yang terus berkembang. Karena perubahan tidak terjadi dengan sendirinya dan terus mengalami perkembangan, maka dalam perspektif ini perubahan harus diusahakan.

Allah berfirman: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Hasyrat Biologis Manusia

Hasyrat Biologis Manusia
Hasyrat Biologis Manusia

Di sini dan dalam perpektif ini, harus diakui jika manusia sama dengan makhluk hidup lain selalu memiliki seperangkat hasrat dan tujuan. Perbedaannya hanya terletak pada dimensi kesadaran. Inilah yang memberikan kelebihan, keunggulan serta membedakan satu diri manusia dengan manusia lainnya. Sasaran akhir perjalanan manusia sesungguhnya adalah menuju Allah agar terbentuk menjadi manusi bijak, yang mampu meletakkan segala hal secara proposional dan pada tempat yang sebenarnya.

Bagaimana kita meletakkan nilai etik kehidupan? Nilai ini seharusnya bermuara kepada konsep ketuhanan (uluhiyah&rububiyah). Nilai dimaksud harus menjadi semacam ghayah (tujuan) semua aktivitas masyarakat yang terumuskan dalam pendidikan. Semua amal shaleh harus dijadikan alat dan pra syarat untuk meraih nilai positif-nya di hadapan Tuhan. Nilai amanah, kejujuran, kesabaran, keadilan, kemanusiaan, etos kerja dan disiplin adalah nilai instrumental ketuhanan yang berfungsi untuk menunjang   pelaksanaan dan penempatan Tuhan sebagai wujud hakiki dan tempat segala “persembahan” manusia.

Hal lain yang perlu di tegaskan menurut saya adalah, bagaimana kader PDIP terus mempertahankan posisi dan eksistensinya untuk memelopori nilai-nilai etis universal. Contoh nilai etis yang demikian adalah cinta, damai, HAM, keadilan, demokrasi, kepedulian sosial dan kemanusiaan. Nilai-nilai itu, meski secara persis tidak diatur dalam AD dan ART partai secara persis, tetapi nilai universalnya pati terdapat di dalamnya. Kondisi ini perlu dilacak dalam sebuah konstruk yang lebih baru dan mendorong ke arah kebijakan yang lebih praktis.

Ilustrasi di atas telah menggambarkan bahwa nilai etis dapat mengartikulasi konsep universal. Misalnya tentang teori kebebesan yang menjunjung tinggi keanekaragaman. Bagaimana partai ini mampu melakukan uniformitas dalam pembentukan watak manusia yang dalam paradigma positivis dianggap fisik dan materil.

Spiritualitas Motif Politik

Spiritualitas Motif Politik
Spiritualitas Motif Politik

Dari berbagai ilustrasi filosofi di atas, saya menyimpulkan bahwa jika dalam berbagai kegiatan social –termasuk di ranah social politik—jika hanya memiliki motif material seperti berkarier dan memperoleh pendapatan tinggi sebagai tujuan, maka pelaksanaan kader pasti gagal. Oleh karena itu pula, perlu ada motif lain, seperti motif tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan hubungan seksual saat umat Islam melakukan puasa, yaitu motif spiritual. Motif spiritual dianggap penting untuk memberikan jembatan agar praktisi politik tidak terjebak oleh filsafat hidup yang hedonis, materialis dan individualis, meski kebutuhan akan dimensi itu bukan berarti tidak perlu. Mengapa? Karena kita tidak berada di ruang hampa.

Soal ini penting diingat kembali, sebab posisi politisi hari ini, sudah beralih menjadi profesi, bukan hanya semata sebagai pengabdian dan pemilik cita idealism tinggi. Hanya yang diperlukan adalah bagaimana asumsi-asumsi kebendaan sudah menjadi target aktivitas kependidikan, maka ia akan kehilangan ruh sejati politisinya karena memikul beban berat dalam hidup.

Tetapi memang masalahnya muncul, bagaimana kaum terdidik masih mengimanai dan merasa takut dengan Tuhan, padahal bukan saja peran serta Tuhan telah dinafikan dan telah dibuang dalam skema atau paradigma positivistic yang syarat empiric, rasional sensual dan keterukuran, tetapi Dzat Tuhan itu sendiri dianggap tidak lagi eksis dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Di letak inilah, seharusnya memiliki kontribusi yang besar dalam melahirkan motif tidak terbatas ini.    By. Prof. Dr. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar