Ideologisasi Pancasila Era Reformasi

0 156

Ideologisasi Pancasila Era Reformasi. Kalimat apa yang paling tepat untuk menyebut kata jenuh saat mengikuti sekolah di zaman Orde Baru? Ternyata kalimat menjenuhkan banyak siswa di rentang tahun 1970-1990-an adalah kalimat P4. Singkatan dari Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila.

Inilah pelajaran yang paling membosankan. Mengapa? Sebab di SD di ajarkan PMP. Masuk SLTP, harus ditatar P4 melalui penerimaan siswa baru. Calon siswa SLTP, minimal harus mengikuti penataran selama 45 jam. Pada saat masuk ke SLTA juga sama. P4 ditatarkan kepada seluruh siswa minimal untuk 45-60 jam. Masuk Perguruan Tinggi, tentu tidak ketinggalan. Penataran ini dilakukan. Minimal seorang mahasiswa harus mengikuti penataran selama kurang lebih 75 sampai dengan 100 jam. Jika tidak lulus pada masing-masing jenjang ini, otomatis tidak layak untuk menjadi siswa atau mahasiswa.

Di luar penataran itu, sekolah diwajibkan mengajarkan Pendidikan Moral Pancasila mulai dari sekolah dasar sampai dengan Perguruan Tinggi. Minimal dua jam pelajaran per minggu. Bahkan menjelang akhir tahun 1980-an, ditambah dengan pelajaran lain bernama Pendidikan Sejarah dan Perjuangan Bangsa [PSPB]. Intinya sama! Bagaimana dua mata pelajaran ini, mampu menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dan kejuangan bangsa Indonesia kepada seluruh pelajar Nusantara.

Reformasi dan Cita-cita Mengembalikan P4

Reformasi menghapus banyak peristiwa sebagaimana diajarkan di masa Orde Baru itu. Seolah-olah semua produk Orde Baru jelek dan tidak berguna. Terlebih jika sesi-sesi pendidikan dimaksud, mengarah kepada kehebatan Soeharto. Semua harus dianulir demi pembangunan berjangka panjang.

Jadilah pelajaran kebangsaan era reformasi kehilangan akar  historis dan nilai luhur kebangsaannya. Bahkan dalam banyak kasus, sudah mulai mencopoti nilai-nilai Pancasila itu sendiri yang seharusnya menjadi nilai luhur kebangsaan. Bertumbuhlah kelompok kanan dan kiri. Ideologi menjadi demikian terbuka dan membuncah mengelilingi dan mengurangi kesaksaralan Pancasila.

Benturan antara satu ideologi dengan ideologi lain menjadi terbuka ke luar. Saling menyalahkan dan menyudutkan di antara berbagai faksi ideologi juga menjadi lebar. Indonesia kembali ditantang untuk menata nilai-nilai kebangsaannya. Upaya dan semangat itu muncul kembali melalui semangat sosialisasi 4 pilar kebangsaan. Tetapi, rupanya tetap gagal. Pancasila tetap berada di ambang keruntuhan moral dan kehilangan nilai esensialnya.

Saat situasi itu terjadi, Jokowi kemudian melahirkan sebuah kebijakan baru dalam apa yang disebut dengan Unit Kerja Presiden dalam Bidang Pembinaan Ideologi Pancasila.  Unit ini diketuai Yudi Latif yang pernah menulis Buku Revolusi Pancasila. Semoga saja unit baru ini, nantinya tidak membuat siswa mengantuk kalau menyampaikan pelajarannya di sekolah. Semoga pula, kabinet Jokowi tidak merasa sedang menghidupkan ideologi Soeharto. Toh tidak semua produk Orde Baru jelek. Salah satunya ya ideologi Pancasila ini.  Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.