Take a fresh look at your lifestyle.

Idiologi Entrepreneur

0 3

Konten Sponsor

Idiologi Entrepreneur. Mengapa para salihin, salikin, awliya dan para Nabi selalu menjadi manusia terpandang, selalu lebih baik dan selalu berada di depan dalam membina ummat? Karena mereka sesungguhnya telah menjadi duta Besar Tuhan di muka bumi. Fakta menunjukkan bahwa sangat sedikit orang alim yang disegani tanpa penguasaannya dalam bidang ekonomi. Nabiyullah Muhammad yang dianggap sebagai sosok sahaja sekalipun, ternyata ia menjadi Direktur Utama perusahaan Multinasional yang mampu melakukan ekspor barangnya ke 16 negara di Timur Tengah dan Sekitar jika wilayah yang dikuasai perniagaannya itu diukur hari ini.

Menjadi wajar, jika kemudian Nabi terakhir jaman itu, berdiri dalam lakonnya sebagai pemilik unta dan kuda terbaik, serta pedang yang juga terbaik. Tidak mungkin ia memiliki barang-barang dimaksud dalam dimensi yang terbaik, jika ia tidak memiliki keberlimpahan kekayaan. Empat sahabatnya yang selalu mendapat petunjuk Tuhan, juga sama. Mereka bukan saja dianggap cakap dan shaleh, tetapi, patut disebut sebagai kelompok kaya, meski tetap bersahaja. Umar bin Khatab, sebelum meninggal bahkan mewakafkan 7000 property miliknya kepada baitul mal. Siapa di antara kita hari ini yang mampu menyumbang ke baitul mall sebanyak Umar menghibahkannya.

Mereka mewakili kelompok penyayang yang tidak menyukai eksploitasi. Mereka adalah pecinta sejati yang memungkinkan dirinya dapat dicintai, termasuk dicintai dunia. Harus disebutkan bahwa kata mencintai –termasuk terhadap dunia—memiliki ruang eksploitasi, sedangankan yang dicintai lebih mengutamakan proses pemeliharaan, pengembangan dan penyuburan agar dapat lebih berdaya guna. Semangat itulah yang mendorong mereka akhirnya untuk dicintai.

Secara psikologis, sosok yang mencintai pasti rela memberikan apapun pada objek yang dicintainya. Karena itu, ketika dunia diterjemahkan sebagai subjek yang mencintai dirinya, maka, dunia akan memberikan apapun kepada dirinya. Segala kebutuhannya pasti akan dipenuhi. Dunia tunduk pada kepentingan objek yang dicintainya itu.

Entrepreneur dengan demikian, akan menyayangi apapun yang menjadi garapannya. Ia rela mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran sebagai balas jasa atas apa yang telah dilakukan orang lain atas rasa cinta mereka kepada dirinya. Seorang entrepreneur, karena itu, akan meletakkan segala bisnisnya pada ruang dinamis yang juga kompleks. Keberhasilan bisnisnya tidak diukur oleh keberpengalamannya, pendidikannya dan oleh strategis atau tidak strategisnya tempat  di mana dia berwirausaha, tetapi pada kesanggupannya untuk mempertahankan para pecinta dirinya agar tetap mencintai dirinya itu untuk selamanya.

Entrepreneur  adalah mereka yang rela menahan nafas panjang untuk mendengarkan denyut nadi objek-objek cinta mereka, dengan kesanggupannya untuk terus menerus melakukan pembelajaran.  Ia sadar bahwa masalah yang dihadapinya terus berubah.
Karena itu, mereka terus berupaya melakukan pembelajaran tanpa henti. Hal inilah yang menyebabkan saya harus menyimpulkan bahwa entrepreneur dapat disebut sebagai pelaksana perintah Nabi Muhammad  agar terus menerus belajar, bahkan bila perlu sampai mereka masuk ke liang lahat.***Cecep Sumarna