Idzinkan Aku Menangis | Mencari Tuhan Di Kaki Ka’bah Part- 18

Kucari Air Mataku di Ka'bah | Mencari Tuhan Di Kaki Ka’bah Part- 17
0 127

Idzinkan Aku Menangis. Crhonos yang tak bisa menangis, pada hari itu masuk ke kamar. Ia menulis berbagai peristiwa spiritual yang mampu dia lihat dan dia dengar dari seluruh jama’ah. Ia mengambil sikap menyendiri. Paling hanya ditemani Shofi yang semakin hari, sakitnya tampak semakin parah. Sewaktu-waktu, ia bolak balik ke apotik untuk membeli obat bagi kesehatan bapaknya. Hari-harinya yang seperti ini, terus ia jalani dengan baik dan sempurna. Tanpa arah subaha sedikitpun.

Di malam hari, ia menghabiskan waktu setidaknya satu jam untuk membaca dan menulis. Siang harinya, kadang ia mencari toko buku, yang didalamnya ternyata banyak yang menjelaskan tentang Mekkah masa lalu dan Mekkah masa kini. Ia melahap bacaan dimaksud secara tuntas. Ia jarang mengikuti kegiatan belanja seperti banyak dilakukan jama’ah lain. Selain karena memperhitungkan biaya, ia sadar, Shofi butuh ditemani secara khusus. Ia tidak ingin melewatkan masa indahnya bersama Shofi. Entah mengapa, Crhonos melihat suatu tanda bahwa bapaknya, sedang berada dalam krisis hebat.

Dalam satu sessi tulisannya, Crhonos menulis. Aku tahu ya Allah, nama lain dari Mekkah adalah Bakkah. Hal ini tercermin dari firman-Mu dalam al Qur’an surat Ali Imran [3]: 96 yang artinya:  “Sesungguhnya rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia ialah Baitullah yang letaknya berada di Bakkah. Tempat ini diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam”. Aku mencari kata Bakkah. Kutemukan terjemahan dari kata dimaksud yang dalam makna tertentu dapat difahami sebagai air mata.

Di kalangan scholarship Muslim, Bakkah mengandung makna tempat di sekitar Ka’bah. Inilah tempat di mana manusia berkerumun sehingga menjadi tempat yang sesak dan macet. Kemacetan terjadi di mana-ma di sekitar Ka’bah. Di sini terdapat tempat suci pertama yang ditunjuk Tuhan untuk menjadi tempat yang diberkati. Di sinilah berbagai titah-Mu yang menjadi pedoman bagi masyarakat dilahirkan.

Mekkah dalam makna lain, sering juga disebut sebagai induknya semua pemukiman. Makanya, aku menyebut Mekkah sebagai alam primordial manusia ke dua setelah alam Rahiem. Ya Allah aku percaya dengan surat al An’am [6]: 92 dan surat Asy Syura [42]:  5 yang menyatakan bahwa Bakkah adalah induk pemukiman [Umm al-Qura] umat manusia di muka bumi. Aku juga ingat, kata Crhonos, tempat inilah yang bakal menjadi tempat berkumpul [alam mahsyar] kelak, setelah manusia dibangkitkan. Tetapi mengapa aku tak mampu menangis.

Idzinkan Aku Menangis

Dalam tulisan lebih jauh di X Filenya, ia menuliskan sebuah keinginan agar dirinya bisa menangis. Idzinkan aku menangis. Bagaimana caranya, aku tidak tahu. Dalam soal kesulitannya dalam menangis, Crhonos mendeskripsikan ke dalam bentuk tulisan sebagai berikut:

“Ya Allah … aku sadar, aku tahu dan aku mengerti. Menangis tidak dimaksudkan untuk menjadi hakikat haji. Jauh dari itu! Tetapi mengapa jama’ah lain dapat menangis, sementara aku tidak! Apakah harta kekayaan yang kubawa ke sini tidak halal? Kini setelah aku menghitung semua uang yang kugunakan, kupastikan semuanya halal. Aku tahun Engkau tahu. Ya Allah aku ingin menangis. Aku ingin merasakan bagaimana nikmatnya menangis saat dimensi spiritual ini, menghinggapiku.”

Di hari berikutnya, ia mengajak kembali Vetra untuk mengunjungi Ka’bah. Merekapun berangkat dari Maktab sekitar pukul 16.00 waktu setempat. Namun karena jalan sangat macet, lalu lintas tidak mungkin menjangkau Ka’bah, akhirnya ia melaksanakan shalat maghrib di Masjid Abu Hurairah. Setelah itu, ia berjalan kaki menuju Ka’bah. Dengan desakan manusia yang sangat padat, akhirnya ia dapat juga masuk ke dalam pelataran Ka’bah.

Crhonos dan Vetra kembali thawaf. Ia melakukan niat di tempat yang sama. Ia mengawalinya dengan menyisir tempat dekat dengan Hajar Aswad. Ia memegang batu-batu yang menjadi dinding Ka’bah. Sebenarnya ia ingin mencium, menyapu atau hanya sekedar memberi isyarat kepada batu yang diletakkan Adam. Crhonos memilihnya dengan mengangkat tangan lalu menyatakan niatnya:

“Bismilllaahi Allaahu akbar. Allaahumma iimaanan bika watashdiiqan bikitaabika, wawafaa’an bi’ahdika wattiibaa’an li sunnatin nabiyyi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. [Dengan nama-Mu ya  Allah,   Allah yang Maha Besar, Ya Allah, demi keimanan kepada-Mu, dan membenarkan kitab suci-Mu [alqur’an], memenuhi janji dengan-Mu serta mengikuti sunnah Nabi-Mu Muhammad SAW] aku kembali berniat untuk melaksanakan thawaf.”

Saat ia melingkari Ka’bah yang berputar menuju ke arah kiri, tiba-tiba Crhonos kembali menjadi filosofis ketika melihat Ka’bah. Ia kembali membacakan do’a Nabi Adam saat melakukan thawaf. Ia bergumam dalam hatinya, bahwa air mataku, seharusnya diteteskan di bumi pertiwiku. Suatu gugusan indah yang dihadiahkan Tuhan yang Maha Indah. Hanya sayang tidak dikelola dengan baik. Di sini aku tak boleh sedih. Di sini justru aku hanya boleh bahagia. Bahagia karena aku dapat menyaksikan keagungan Tuhan.

Ketika thawaf dilangsungkan dalam putaran yang ketiga, adzan isya dikumandangkan Muadzin. Jama’ah tetap melaksanakan thawaf dengan sempurna. Namun begitu iqomat dikumandangkan, seluruh jama’ah seperti terkunci. Tidak ada satupun yang bergerak. Mereka sama-sama menunggu komando imam Ka’bah untuk memimpin shalat isya.

Imam Mendorong Crhonos Menangis

Dengan penuh spirit, Crhonos mengikuti imam. Ia mengawalinya dengan takbirat al ihram. Lalu mendengarkan dengan seksama bacaan imam yang membaca surat al Fatihah. Ketika imam membaca Surat setelah al fatihah di rakaat pertama, ia mulai merinding. Imam shalat isya itu membaca surat al Baqarah [2]: 124-130 yang artinya sebagai berikut:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan). Ibrahim menunaikannya dengan baik. Lalu Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku [Allah] akan menjadikanmu [Ibrahim] sebagai imam seluruh manusia”. Ibrahim kemudian berkata: “(Dan saya mohon juga), agar keturunanku menjadi pemimpin”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang Dhalim”.

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim ini menjadi tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang melaksanakan thawaf, i’tikaf, rukuk dan sujud”.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan damai.  Berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara. Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membangun) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami, terimalah amalan kami) ini. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu. Jadikanlah anak cucu kami umat yang tunduk patuh juga kepada-Mu. Tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami. Terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri. Tugasnya membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh.”

Inilah ayat yang membuat aku, kata Crhonos menangis. Entah mengapa, saat ayat demi ayat yang dibacakan sang imam, seolah aku melihat Ibrahim dan Ismail, bersusah payah membangun Ka’bah. Ia hanya ingin meletakkan symbol ketauhidan Tuhan di sini, di tempat ini. Setiap ayat yang dibacakan imam ini, telah membuat aku harus menangis dengan sangat sulit dibendung.

Do’a Crhonos kepada Tuhan di Maqam Ibrahim

Setelah selesai melaksanakan shalat yang penuh tangisan itu, ia bangkit dan berdiri. Gemuruh jama’ah persis seperti suara burung yang hendak terbang. Takbir, tahmid dan bacaan talbiyah begitu menggema. Dan saat dia berdiri, dia baru nyadar, bahwa ternyata tempat dia melaksanakan shalat, di situlah maqam Ibrahim. Ia mengangkat kedua tangannya dan kemudian berdo’a:

Ya Allah, ya Rahman, ya rahiem … Aku sadar, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui rahasiaku. Banyak dosaku yang tersembunyi atau kusembunyikan. Kau mengetahuiNya dengan baik. Terima kasih Kau telah menyimpannya dalam arsy-Mu yang tertutup untuk manusia. Amal perbuatanku yang nyata, banyak sekali mengandung dosa. Karena itu, terimalah ratapanku dan ampunilah dosaku.

Ya Allah Engkau Mengetahui apa yang kuperlukan. Karena itu, aku bingung memohon apa kepada-Mu. Tetapi, di tengah segenap kebingunangku, kabulkanlah permohonan dan cita-citaku. Engkau Maha Mengetahui apapun yang terkandung dalam hatiku.

Ya Allah, ya razzaq, ya halim ya Alim. Jagalah keimananku kepada-Mu. Lekatkanlah iman atas ketunggalanMu di hatiku selamanya. Keimanan yang dapat mendorong keyakinanku sehingga aku dapat mengetahui bahwa tiada suatu yang menimpa daku selain dari yang Engkau tetapkan. Jadikanlah aku sebagai makhluk-Mu yang tetap rela terhadap apapun yang Engkau berikan kepadaku.

Ya rafiq yang quddus ya salam … jadikanlah aku kekasih-Mu seperti Rngkau telah menjadikan Ibrahim. Dengan Dzat dan sifat-Mu Yang Maha Pengasih dari segala yang Pengasih, lindungilah aku. Lindungilah aku atas fitnah-fitnah baik di dunia maupun di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah kami kedalam orang-orang shaleh. Jadikanlah aku pemimpin orang-orang yang bertakwa. Tentu aku berharap keturunanku dapat melahirkan generasi yang shaleh. Amiiin …

Selesai berdo’a, ia melangkahkan kakinya. Bergerak kembali untuk menyelesaikan kegiatan thawafnya yang tinggal 4 kali putaran lagi. Ia menangisi Ka’bah sebagai alam primordia yang baru dijumpainya. Ia kemudian, berkata: “Ya Allah idzinkan aku menangisi, salah satu keagungan karyaMu, yakni Ka’bah. Ia berjalan ke luar dan menundukkan kepala. Terima kasih wahai imam Ka’bah. Melalui bacaanmu aku ingat dengan tulus, inilah alam primordialku. Charly Siera –bersambung–

Komentar
Memuat...