Inspirasi Tanpa Batas

Ikhlas Adalah Bertauhid| Kajian tentang Makna Ikhlas Part – 2

Ikhlash adalah bertauhid
0 307

IKHLAS baru dapat saya temukan maknanya, justru setelah saya dewasa. Itupun baru merupakan pemikiran bebas yang belum tentu benar seutuhnya. Ternyata Ikhlas itu identik dengan sikap ketauhidan. Ikhlas adalah puncak sikap keimanan seorang hamba Tuhan untuk menyerahkan diri hanya kepada satu-satunya Pencipta. Merelakan dan mengorbankan apa yang kita miliki untuk siapapun yang membutuhkannya.

Ikhlas adalah suatu sikap di mana Tuhan harus ditempatkan sebagai pusat segala persembahan, pusat segala permintaan dan pusat segala tujuan. Itulah mengapa, salah satu surat dalam al Qur’an [QS 114: 1-4) yang ayat-ayatnya nenerangkan tentang sikap ketauhidan disebut dengan surat al Ikhlas. Hal ini mengandung semangat bahwa ketundukkan yang total kepada wujud yang absolut akan mendorong manusia menjadi sikap yang mukhlishun.

Di letak ini, Tuhan berposisi sebagai wujud misteri dari segala wujud. Absolutisme-Nya tidak mungkin mampu dikalahkan absolutisme raja Namrudz, raja Jalut dan Raja Fir’aun. Apalagi raja-raja bumi sekarang yang dibatasi ruang geografisnya seperti era moderen sekarang ini. Tuhan adalah nukleus segala nukleus yang tidak mungkin menjadi fosil atau difosilkan. Tuhan adalah eksistensi segala eksistensialisme. Tetapi mungkin, sekaligus Tuhan adalah relativitas di atas relativitas nihilisme absolut.

Karena demikian misteriusnya, Tuhan bukan saja harus diyakini sebagai pusat segala kesemestaan. Tetapi, Ia menjadi tuntutan logis yang tidak mungkin dilogikakan. Logika yang un logik memang hanya milik Tuhan. Kesemestaan Tuhan tidak terbatas dan bahkan tidak berhingga. Alam yang demikian luas –seperti digambarkan Albert Einstein dalam penelitiannya yang tidak mungkin dijangkau manusia— tidak akan pernah mewakili ketidak berhinggaan Tuhan. Kumpulan berbagai makhluk ciptaan Tuhan, tidak mungkin menjadi bagian yang mewakili setetes dari ketidakberhinggaan Tuhan.

Ketidakberhinggaan Tuhan itulah, yang akan mendorong umat manusia yang beriman pada-Nya merasa bahwa dirinya adalah provan yang sangat terbatas. Manusia bertauhid akan menerima apapun yang menjadi skenario Tuhan. Tuhan diakui bukan hanya menjadi penulis skenario kehidupan, tetapi Ia juga menjadi sutradara sekaligus photograper setiap gerak dinamis ciptaan-Nya.

Pemahaman teologis semacam ini, tentu tidak harus membuat manusia menjadi pesimistis, jumud dan bahkan apatis terhadap kehidupan. Tetapi, justru ia akan tumbuh menjadi wujud makhluk yang sangat dinamis. Ia menyatukan seluruh ruh kehidupannya pada ruh Tuhan. Ia terus menerus menempatkan Tuhan sebagai mitra yang bukan hanya akan memberi dan memenuhi segala permintaan manusia, tetapi akan menjadikan Tuhan sebagai penjaga dan pemelihara terhadap segala hal yang telah diberikanNya kepada hamba-hamba-Nya.

Orang-orang yang demikian itu, akan selalu menggetarkan nafasnya dalam nafas Tuhan. Ia akan tenang dalam mengerjakan dan berbuat apapun yang menjadi cita-cita hidupnya. Ia menjadi tidak takut terhadap apapun, karena ia hanya takut sama Tuhan. Ia tidak akan malu mengerjakan apapun –tentu dalam makna positif—karena ia hanya berharap Tuhan yang memberi penilaian. Ia juga tidak akan pernah merasa berbesar hati yang penuh angkara murka, karena Tuhanlah wujud yang paling pandai untuk berbuat kesombongan. Ia tidak akan pernah merasa menjadi agniya, karena disadari sepenuhnya bahwa kekayaan tertinggi hanya ada pada Tuhan.

Tipikal keberhasilan hidup seseorang

Mukhlisun, dengan demikian, tentu akan menjadi tipikal keberhasilan hidup seseorang. Bukankah berbagai penyakit yang tumbuh dalam diri kita sendiri, pada hakikatnya terlahir dari gerak dinamis nafas yang kadang tidak berimbang. Jantung menjadi demikian tinggi support-nya, justru ketika datang berbagai harapan, berbagai impian dan berbagai keinginan yang sulit untuk dijangkau dan dimiliki.

Karena itu, menjadi benar apa yang disabdakan Nabi Muhammad: “setiap manusia pasti akan rusak, kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu, semuanya pasti akan rusak, kecuali orang yang beramal. Dan Setiap orang yang beramal pasti semuanya akan rusak, kecuali orang-orang yang mukhlisun”. Mukhlishun dengan demikian berarti tuntas. Yang tuntas itulah, yang akan memperoleh keuntungan.

Mari kita sedikit renungkan terhadap situasi yang sering kita hadapi. Jika dalam hidup ini, muncul berbagai impian, berbagai harapan dan berbagai keinginan, kita akan merasakan nafas kita menjadi demikian pendek. Orang dengan dengan tipe yang demikian, pasti akan memasukkan oksigen dengan nafas yang pendek, tetapi mengeluarkan nafas dengan cara yang panjang. Dalam pendekatan psikologi, orang yang demikian mewakili kepentingan mereka yang sedang atau sering mengalamai stress. Semakin sering hal demikian terjadi, stresnya akan semakin tinggi. Dan tingginya tingkat stress itu akan melahirkan berbagai penyakit di dalam tubuh tubuh.

Coba rasakan bagaimana ketika nafas kita  yang masuk dan keluarnya dengan cara yang seimbang. Pasti kita itu sedang dalam posisi tenang. Ketenengan dengan indikator nafas yang demikian itu, hanya akan lahir dari mereka yang pasrah. Sikap tenang itulah yang dapat membawa kesuksesan bagi diri, keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Narasi di atas, telah menjelaskan dengan gamblang bahwa semakin tinggi tingkat keimanan seseorang kepada Tuhan, semakin tinggi tingkat kebergantungan seseorang kepada Tuhan, maka ia pasti akan semakin dekat dengan sikap pasrah diri atau keihlashan. Pintu keberkahan pasti akan selalu terbuka bagi mereka yang mukhlishun. ** (cecep sumarna)

Komentar
Memuat...