Ilmu Kealaman Perspektif Pendidikan Islam| Eksistensi Pendidikan Islam Par – 3

0 35

Misi LPI akan menempatkan manusia sebagai pusat kesemestaan. Selain tentu ia akan menjadikan manusia sebagai titik tolak (starting point) dan titik tujuan (ultimate goal). Missi kemanusiaan semacam ini, secara langsung akan menuntut lembaga pendidikan Islam untuk mampu melahirkan peserta didik yang handal. Ukurannya mereka [output] itu, mampu membedakan mana tindakan benar-salah atau baik dan buruk.

Pandangan kebaikan dan keburukan dimaksud, harus menjadi conduct (pedoman perilaku), virtues (watak peribadi terpuji), practical values (moral praktik), dan sekaligus living values (nilai moral hidup). Semua tindakan tadi, harus didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan. Konsep ini penting dikaji untuk menjadi landasan dalam membangun epistemologi pendidikan Islami yang dalam beberapa hal, harus dianggap gagal memerankan fungsinya dalam memanusiakan dan memartabatkan peserta didik.

Ketika manusia ditempatkan sebagai pusat kajian, maka. lembaga pendidikan ini harus mampu menyusun sebuah kurikulum pendidikan yang mengkombinasikan dimensi ketuhanan dan kealaman. Sikap ini perlu diambil untuk meletakkan garis juang dan sekaligus garis gerak bahwa dalam dimensi Islam, manusia adalah satu-satunya produk Tuhan yang paling sempurna. Tugas kemanusiaan, salah satunya adalah mengelola alam. Sikap sempurna yang terdapat dalam al- Qur’an ini, mengharuskan seluruh segi dan bangunan keilmuan lembaga pendidikan Islam agar selalu berorientasi kepada Tuhan.

Al Qur’an sebagai Rujukan Utama

Misi pendidikan Islam yang demikian, dilatari oleh sikap pandang al-Qur’an -sebagai rujukan utama. Pendidikan Islam menganggap bahwa cosmos (alam) adalah simbol terendah dari realitas yang Maha Tinggi [Allah]. Oleh karena itu, dalam prinsip Islam, struktur kosmos mengandung pesan spiritual dan karenanya hanya dengan sikap yang demikianlah alam dapat dipandang memiliki akar ketuhanan. Pada dimensi ini, LPI harus mampu mengkonstruksinya dalam bentuk satuan pembelajaran yang mencoba mengkomparasikan sekaligus mengkombinasikan berbagai kepentingan tadi.

Al-Qur’an dalam berbagai ayatnya telah banyak menyebut bahwa alam bagi manusia merupakan sebuah wahyu . Sumber asalnya sama dengan agama itu sendiri, yakni Allah. Agama dan alam, keduanya merupakan manifestasi dari intelek universal [Allah]. Logos dan kosmos sendiri merupakan bagian integral dari seluruh alam makna, tempat manusia hidup dan mati. Alam dalam makna seperti itulah, yang saat ini tidak ada dan tidak berlaku dalam kehidupan manusia. Kondisi ini, seharusnya menjadi tanggung jawab utama bagi LPI untuk mengembalikan citra alam yang mengandung pesan spiritual tersebut.

Dengan demikian, asumsi- asumsi positivistik yang menganggap alam sebagai benda mekanik yang mati tanpa makna, mesti dikembalikan pada citra azalinya. Setiap fenomena alam pasti memiliki makna. Dalam istilah al-Qur’an, hal tersebut disebut dengan ciri atau ayat Tuhan.

Jika fenomena ini dikaitkan dengan kajian Inti Ada (being) filsafat, sebagaimana dapat dipahami dari pikiran Stephen Palmquis [2002: 7], alam sebenarnya memiliki pertalian dengan dimensi metafisik (sebagai realitas puncak). Pengkajiannya dilakukan melalui dimensi ontologis (yang mengkaji tentang makna Ada). Mungkin atas asumsi seperti itu pula, gagasan Nasr yang menyebut disharmoni antara manusia dan alam, diakibatkan karena menjaraknya manusia dengan Tuhan, menjadi benar.

Muatan Kurikulum LPI

LPI memiliki kewajiban untuk memberitahu, melatih dalam praktek dan mengajak generasi Muslim agar mereka mampu memandang bahwa realitas yang dinamik di alam ini, harus bermuara kepada wujud absolut Tuhan. Atau setidaknya, diajari tentang sikap manusia yang memandang bahwa alam memiliki ruh ketuhanan (Nasr) dan mengandung dimensi realitas puncak atau metafisik (Palmquis). Dengan kata lain, LPI harus mampu mendorong peserta didik agar semakin dekat dan bersimetri dengan Tuhan, bukan sebaliknya, di mana pelaksanaan pendidikan justru berujung pada menjaraknya manusia dengan Tuhan,

Muatan kurikulum LPI dengan berbagai kerangka berpikir tadi harus mencerminkan pemahaman bahwa semua ilmu, termasuk ilmu eksakta merupakan produk Allah (QS. al-Kahfi: 109 dan al-Isra’: 85). Semangat ini ditujukan untuk mendorong tercapainya tiga orientasi pengembangan pendidikan.

Pendekatan yang digunakannya harus bersifat terpadu (integrated approach), yaitu: 1). kurikulum mesti berorientasi kepada sifat “ketuhanan”. Rumusan muatan kurikulum yang demikian harus memadukan atau setidaknya berkaitan dengan dimensi ketuhanan, mengenai dzat, sifat, dan perbuatan-Nya dalam relasinya dengan manusia dan alam semesta; 2) kurikulum mesti berorientasi pada sifat dan dimensi “kemanusiaan”.

Rumusan kurikulum yang demikian ini, mesti berkaitan dengan haliah pribadi manusia, baik manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk berbudaya, dan makhluk berakal, dan; 3) kurikulum mesti berorientasi kepada dimensi “kealaman” sebagai cikal bakal lahirnya ilmu sains itu sendiri.

Pemikiran model ini, senafas dengan apa yang pernah disampaikan Murtadha Muthahhari (1997:14). Ia menyebut bahwa dewasa ini, dibutuhkan tiga persoalan dalam pengembangan pendidikan Islam. Ketiga persoalan dimaksud adalah; 1) perlunya melakukan interpretasi spiritual tentang alam semesta; 2). pemberlakuan kemerdekaan spiritual, dan; 3) memberlakukan prinsip-prinsip pokok yang memiliki makna universal yang mengarahkan evolusi masyarakat manusia dengan berbasiskan ruhani.

Tranformasi Nilai Inti Pendidikan Islam

Maka inti dari makna pendidikan Islam adalah adanya transformasi nilai-nilai Islam dari satu generasi kepada generasi selanjutnya. Berdasarkan argumen ini dapat pula disebutkan bahwa pendidikan Islam, ternyata tidak sama pengertiannya dengan Pendidikan Agama Islam. Sebab Pendidikan Agama Islam hanya merupakan salah satu bagian dari pendidikan Islam.

Pendidikan Agama Islam adalah satu mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan besar dari pelaksanaan pendidikan Islam. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang menghendaki tercapainya cita dan citra kemanusiaan yang memiliki potensi besar dalam posisi sebagai khalifah dan ‘abdullah. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.