Implementasi Kompetensi Guru dalam Pembelajaran

0 3.152

Implementasi Kompetensi Guru dalam Pembelajaran. Kompetensi dan kompeten adalah dua kata yang semakin sering diucapkan dalam berbagai dimensi kehidupan kita. Saking seringnya, makna hakiki kedua kata itu pun cenderung dipersamakan dan sederhana. Kompeten dan kompetensi, kadang dianggap sama artinya dengan keahlian atau kemampuan. Padahal, kompetensi individu sesungguhnya tidak bisa berdiri sendiri hanya sebatas pada kebiasaan atau kemampuan seseorang, tetapi sangat erat berkaitan dengan tugas dan profesi yang dijalankannya.

Kompetensi diakui sebagai faktor yang memegang faktor penting dalam keberhasilan seseorang menyelesaikan tugasnya. Undang- undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menyebutkan  bahwa guru wajib memiliki kompetensi, kualifikasi akademik, memiliki sertifikat pendidik, sehat jasmani maupun rohani, serta memiliki kecakapan dan kemampuan dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya Menteri Pendidikan Nasional RI melalui Peraturan Menteri Nomor 16 Tahun 2007 menetapkan Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi profesional guru. Identifikasi kompetensi profesional guru yang tepat selalu dianggap memiliki nilai prediksi yang cukup valid dalam keberhasilan guru menyelesaikan pekerjaannya. Pemahaman yang mendalam tentang pengertian kompetensi akan memberikan dasar dalam upaya menjadi guru yang mampu mengimplementasikan nilai- nilai pembelajaran berdasarkan pada standar kompetensi yang ditetapkan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan kompetensi sebagai kewenangan, atau kemampuan menguasai gramatik suatu bahasa secara abstrak atau batiniah. Dalam bahasa Inggris, competence dimaknai sebagai kecakapan atau kemampuan. Kompetensi juga diartikan sebagai bentuk pemilikan, penguasaan, ketrampilan dan kemampuan yang harus dimiliki berkaitan dengan jabatan seseorang, Maka, seorang guru diharuskan menguasai kompetensi guru agar dapat melaksanakan kewenangan profesionalnya.

Profesi berasal dari bahasa latin “Proffesio” yang mempunyai dua pengertian yaitu janji/ ikrar dan pekerjaan. Maka, bila pengertian dimaksud dibuat dalam pengertian yang lebih luas menjadi: kegiatan (apa saja dan siapa saja) untuk memperoleh sesuatu (hasil) yang dilakukan dengan suatu keahlian tertentu. Sedangkan dalam arti sempit profesi berarti kegiatan yang dilakukan dengan berdasar pada keahlian dan dituntut untuk melaksanakan norma sosial dengan baik. Berkaitan dengan profesionalisme guru, makna yang dapat dipahami penulis adalah seorang guru, yang ahli dalam bidang keilmuan yang dikuasainya sehingga ia dituntut bukan hanya sekedar mampu mentransfer keilmuan ke dalam diri peserta didik, tetapi juga ia mampu untuk mengembangkan segala potensi yang ada dalam diri peserta didik.

Kompetensi profesional seorang guru berkaitan dengan sejumlah kemampuan yang wajib ada dan dimiliki oleh setiap pendidik agar  dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Kompetensi dimaksud, tentu berkaitan dengan sejumlah kompetensi yang berhubungan dengan profesi yang menuntut berbagai kemampuan di bidang pendidikan. Kompetensi profesional merupakan suatu kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru berkaitan dengan pengetahuan tentang belajar, tingkah laku manusia, bidang studi yang di ampunya, sikap yang tepat dalam menyikapi  lingkungan dan mempunyai berbagai macam ketrampilan dalam teknik mengajar. Adapun kompetensi yang harus dimiliki guru, terdiri dari 4 (empat), yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial serta kompetensi profesional. Keempat kompetensi dimaksud, tentu dengan penekanan pada kemampuan mengajar akan menentukan berhasil tidaknya seorang guru mengimplementasikan peran dan fungsinya dalam pembelajaran.

Macam- macam Kompetensi Guru

  • Kompetensi Pedagogik

Pedagogik dimaknai sebagai sebuah pendekatan pendidikan berdasarkan tinjauan psikologis anak. Muara dari pendekatan ini adalah dalam rangka membantu siswa melakukan proses pendidikan (kegiatan belajar). Dalam implementasinya, pelaksanaan pembelajaran  dapat menggunakan suatu pendekatan yang disebut dengan pendekatan kontinum. Pendekatan dimaksud yakni melakukan proses pembelajaran dimulai dari pedagogi dan diikuti oleh pendekatan andragogi. Bisa pula sebaliknya, dimulai dari pendekatan andargogi dan diikuti pedagogi.

Kompetensi pedagogik merupakan seperangkat kemampuan guru yang berkaitan dengan ilmu maupun seni mengajar. Rumusan kompetensi ini, sejalan dengan  Standar Nasional Pendidikan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 pasal 28, ayat 3. Peraturan dimaksud menyebutkan bahwa kompetensi adalah kemampuan mengelola proses pembelajaran yang meliputi;

  1. Pemahaman terhadap peserta didik
  2. Perancangan serta pelaksanaan proses pembelajaran
  3. Evaluasi hasil belajar
  4. Pengembangan peserta didik dalam mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
  • Kompetensi Kepribadian

Guru, wajib menguasai berbagai macam pengetahuan tentang apa yang akan disampaikan dan diajarkan kepada peserta didik secara benar, utuh dan bertanggungjawab. Ia diharuskan memiliki pengetahuan penunjang berkaitan dengan kondisi fisiologis, psikologis, dan pedagogik para peserta didik. Menurut pasal 28 ayat 3 butir b Standar Nasional Pendidikan menyatakan bahwa kompetensi ini merupakan kemampuan kepribadian yang arif, stabil, berwibawa, dewasa, berakhlak mulia serta menjadi teladan peserta didik. Beberapa kompetensi kepribadian yang harus dimiliki seseorang guru, mencakup:

  1. Kepribadian yang utuh, meliputi : berbudi luhur, jujur, dewasa, beriman, bermoral;
  2. Kemampuan mengaktualisasikan diri seperti tanggung jawab, disiplin, luwes, objektif, peka serta berwawasan luas;
  3. Dapat berkomunikasi dengan orang lain;
  4. Mampu mengembangkan profesi, seperti : kritis, kreatif, reflektif, serta mampu belajar sepanjang hayat dan dapat mengambil keputusan.

Jadi kemampuan kepribadian menyangkut jati diri seseorang guru sebagai pribadi yang baik, bertanggung jawab, dan terbuka sekaligus mempunyai pengetahuan tentang perkembangan peserta didik dan memiliki kemampuan memperlakukan mereka secara individual.

  • Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial guru merupakan kemampuan guru untuk memahami dirinya sendiri yang tidak terpisahkan dari masyarakat sekaligus mampu mengembangkan tugas sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Kompetensi ini menyangkut kemampuan berkomunikasi dengan peserta didik dan juga lingkungan mereka (orang tua, tetangga, maupun sesama teman). Mulyasa (2009), menyatakan bahwa tujuh kompetensi sosial yang harus dimiliki seorang guru agar mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif, meliputi :

  1. Pengetahuan tentang adat istiadat, baik sosial maupun agama;
  2. Pengetahuan tentang budaya (termasuk tradisi);
  3. Pengetahuan tentang demokrasi;
  4. Pengetahuan tentang estetika;
  5. Memiliki apresiasi serta kesadaran sosial;
  6. Memiliki sikap yang baik terhadap pengetahuan dan pekerjaan; dan
  7. Setia kepada harkat dan martabat manusia.

Dalam rangka pengembangan kompetensi sosial guru, ia dituntut memiliki life skill, yang meliputi: (1) kerja tim; (2) melihat peluang; (3) berperan serta dalam setiap kegiatan kelompok; (4) bertanggung jawab sebagai warga; (5) leadership; (6) relawan sosial; (7) kedewasaan dalam hal berkreasi; (8) berbagi; (9) berempati; (10) kepedulian kepada sesama, toleransi, kerjasama, dan komunikasi.

Berkaitan dengan kompetensi sosial ini, seorang guru harus mampu menguasai beberapa hal, seperti : (1) bersifat terbuka dan bertindak obyektif serta tidak diskriminatif; (2) berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun terhadap sesama pendidik, maupun kepada orang tua dan masyarakat; (3) beradaptasi di tempat tugas di seluruh wilayah Indonesia yang memiliki keragaman sosial dan budaya; (4) berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri  dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain

  • Kompetensi Profesional

Secara umum, kompetensi profesional dapat diidentifikasi dari ruang lingkupnya, meliputi:

  1. Mengerti dan dapat mengimplementasikan landasan pendidikan
  2. Mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik
  3. Mampu menangani dan mengembangkan bidang studi yang diampunya
  4. Mengerti dan mampu menerapkan metode yang bervariasi
  5. Mampu mengembangkan dan menggunakan berbagai alat, media dan sumber belajar yang sesuai.
  6. Mampu mengorganisasikan sekaligus melaksanakan program pembelajaran
  7. Mampu melaksanakan evaluasi hasil belajar pada setiap peserta didik
  8. Mampu menumbuhkan kepribadian dalam diri peserta didik (Mulyasa, 2009)

Dengan memperhatikan paparan diatas, dapat di tarik sebuah kesimpulan bahwa untuk menjadi pendidik profesional dibutuhkan tekad dan keinginan yang kuat dalam diri setiap pendidik untuk melaksanakan tugas profesinya dengan baik dan sempurna.

Oleh: Neneng Ibad Nurlaela

Bahan Bacaan:

Undang- undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, Tentang Standar Nasional Pendidikan

Peraturan Menteri Nomor 16 Tahun 2007 menetapkan Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi profesional guru

Mulyasa, E. 2008. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Mulyasa, E. 2009. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sardiman A.M. 1996. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta. Rajawali Pers

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.