Inspirasi Tanpa Batas

Implementasi Makna Ikhlas | Ikhlas Part – 1

0 90

Konten Sponsor

MAKNA ikhlas sampai sekarang belum dapat difahami secara tuntas. Padahal, kata ikhlas sudah terdengar sejak penulis mengeja huruf-huruf Arab di Surau. Kandungan makna yang terkandung dalam kata dimaksud, tetap tidak ketemu makna hakikinya meski sudah ikut “ngederes” kitab yang agak tebal. Yang muncul ke permukaan, kata Ikhlas malah sering muncul menjadi kalimat semu yang kurang bermutu.

Sering pula terdengar, guru ngaji berkata, semua santri harus Ikhlas dalam mempelajari berbagai ilmu. Ilmu hanya akan menempel kepada mereka yang memiliki tingkat keIkhlasan yang tinggi. Banyak ilustrasi yang digambarkan kyai dimaksud, bagaimana teman-temannya sewaktu sama-sama di Pesantren, kini telah berhasil mengarungi hidup dengan modal utamanya terletak pada satu kata yang disebut dengan Ikhlas.

Ikhlas adalah menerima cobaan yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai manusia. Ikhlas adalah sikap menerima berbagai keputusan Tuhan, apapun itu kondisinya. Bahkan, Ikhlas dapat diartikan menerima berbagai peraturan yang ditetapkan institusi di mana penulis belajar.

Ibu bapak juga sama. Mereka selalu bilang, Ikhlaslah dalam belajar. Ikhlaskan dalam berikhtiar. Hanya dengan keikhlasanlah, semua ilmu dan semua usaha yang dilakukan akan tercapai. Ikhlas, menurut bapak penulis, harus berbuat dengan tidak ada beban sedikitpun. Berbuat Ikhlas persis ibarat kita membuang kotoran di sebuah kali. Tidak ada seorangpun yang mau melihat kotoran ke bawah dan akan ke mana kotoran itu berlalu.

Kalau kita berbuat kebajikan, jangan pernah diingat kebaikan yang dilakukan itu. Apalagi menuntut balas yang sama dengan mereka yang kita beri kebaikan. Ikhlaslah dalam berbuat, agar tidak ada kelelahan yang mengotori pikiran. Keikhlasahan akan mendorong anda tetap tegar, tenang, optimis dan sekaligus agresif. Orang Ikhlas, tidak akan pernah gampang lelah, letih dan lesu. Hidupnya selalu bersemangat karena selalu merasa ada`sesuatu yang harus kita lakukan untuk menolong umat.

Sewaktu masih kecil dan bahkan pada saat sudah remaja, penulis sering menggerutu. Bagimana dapat Ikhlas. Pada saat senja di mana semua orang dapat bermain bola volley, saya justru harus menghafal i’rab yang dalam bahasa kampung kami sering disebut dengan “ngerab”. Bapak hanya menyediakan waktu bebas di hari Sabtu dan Minggu, di mana saya dapat bergaul dengan teman sebaya. Bagaimana dapat Ikhlas, di saat semua orang sedang tertidur pulas, penulis harus bangun membaca tarhiman di Surau.

Lebih sering menggerutu, di saat usia sudah remaja. Kebiasaan mendengar kata Ikhlas itu menjadi lazim dan hampir menjadi menu harian. Kebiasaan bapak kami yang suka mendahulukan kepentingan orang lain, dan cenderung mengabaikan kepentingan diri dan keluarganya, membuat kami kadang-kadang tidak habis pikir dan putus asa. Lebih gilanya lagi sering merasa dianaktirikan.

Contoh sederhana yang biasa bapak dan ibu kami lakukan dan membuat kami cemburu adalah: ketika bapak-ibu menyembelih ayam, kami begitu bersemangat, karena sebentar lagi akan makan enak. Maklum di paruh akhir tahun tujuh puluhan, ayam menjadi makanan yang paling sulit ditemukan. Namun, di tengah-tengah rasa gembira itu, tiba-tiba ada rombongan tamu ke rumah. Entah mengapa, daging ayam malah sering suka disodorkan sama mereka ketimbang anak-anaknya.

Akhirnya, kami dan bahkan bapak kami sendiri, sering kali hanya kebagian kaki, kepala, jeroan atau paling banter ujung dari sayap ayam yang kecil. Tamu memang lahap, tetapi membuat kami selalu gagap penuh keheranan. Heran karena situasi yang demikian menjadi lebih dominan dalam aktivitas keluarga sehari-hari.

Ketika tamu berlalu, bapak selalu bilang, Ikhlaskan semua. Semoga ayam kita yang lain cepat tumbuh dan membesar. Yang tersisa dan terinvestasikan dalam hidup kita, hanya sesuatu yang mampu kita berikan. Investasi atau tabungan yang bukan hanya akan kita petik di akhirat, tetapi juga dapat kita petik di dunia ini.

Jangan Menghitung Diberikan kepada Orang Lain

Dengan keIkhlasan yang anda berikan hari ini, kelak suatu hari anda tidak mungkin mampu menahan jumlah potongan ayam untuk dimakan. Karena banyaknya daging ayam yang mampu anda beli. Lupakanlah semua. Jangan pernah menghitung apa yang telah diberikan kepada orang lain. Biarlah semua berlalu seperti angin meniup butiran-butiran pasir yang sangat lembut.

Sikap yang ditanakan sama bapak kami itulah yang telah membentuk kami sekeluarga. Hari ini, hampir semua di antara anak-anaknya, memiliki tipikal yang plus minus sama dengan bapak kami. Misalnya, di keluarga kami, hampir tidak ada rumus makanan tersisa. Seberapapun banyaknya makanan itu, pasti akan habis di makan atau diberikan pada orang lain. Ada satu rumus yang selalu ditanamkan orang tua kepada kami, yakni: jangan malu memberikan sesuatu kepada orang lain, sebetapapun kecilnya pemberian itu.

Jangan biarkan orang lain menanti pemberian anda. Dahulukan mereka. Cintai dan sayangi mereka. Hanya dengan mencintai dan menyayangi mereka secara tulus, anda akan memperoleh cinta dan kasih sayang yang tulus. Hanya dengan pemberian Ikhlas anda kepada mereka, anda akan memperoleh segala hal yang anda butuhkan dari mereka. Wasiat-wasiat itulah, yang dulu sering merangsang untuk melakukan pemberontakkan, tetapi itu semua, kini telah menjadi kenangan yang abadi. Thank you … my father ** (Cecep Sumarna)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar