Implikasi Misi Gospel Sebagai Kajian Terhadap Sejarah kolonial Belanda di Indonesia

Sejarah Kolonial Belanda di Indonesia

0 190

Jika ditelusuri lebih dalam mengenai maksud Belanda menjajah Indonesia, ternyata memang tidak hanya untuk mengekploitasi kekayaan alam Indonesia saja. Melainkan untuk menyebarkan ajaran Kitab Injil. Seperti yang sudah diuraikan dalam buku a�?Avonturisme : NUa�? bahwa maksud Belanda untuk menjajah Indonesia ternyata tidak hanya bersifat fisik, tetapi lebih dari itu. Mereka akan menjadikan bangsa Indonesia yang mayoritas Islam sebagai pengabar Injil.

Sebagaimana tujuan pokok dari imperialisme yakni selain gold yang diartikan sebagai cara untuk memperoleh kekayaan. Juga glory yang diartikan sebagai cara untuk memperluas wilayah. Kemudian yang ketiga atau terakhir yakni gospel, yang diartikan sebagai cara untuk menyebarkan agama.

Dari misi Gospel itu, kesadaran-kesadaran mulai tumbuh dari para pemuka agama Islam di Indonesia yang disebut juga sebagai ulama akan adanya musuh bersama, yakni penjajah protestan Belanda yang harus dilawan. Salah satunya dengan cara mengorganisasikan para pengikutnya. Beberapa perlawanan fisik akhirnya terjadi di berbagai wilayah yang akan diuraikan pada sub selanjutnya.

Perlawanan-perlawanan fisik yang dilatarbelakangi misi gospel Belanda

  • Perlawanan fisik terjadi pada tahun 1825-1830 M di Jawa. Perlawanan fisik kepada penjajah Protestan Belanda tersebut dilakukan para Ulama yang melibatkan Pangeran Ontowiryo atau lebih terkenal dengan sebutan Pangeran Dipenogoro. Ia juga mempunyai nama lain yakni Kanjeng Abdul Hadi Chairul Mukimin Sayyidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa Ing Mataram. Perlawanan ini berakhir dengan sangat pedih karena Pangeran Dipenogoro terjebak tipu mushlihat dari Jenderal De Kock.
  • Selain itu juga perlawanan fisik terjadi di Minangkabau pada tahun 1821-1837 M yang dikenal sebagai perang Paderi, dipimpin Tuanku Imam Bonjol. Meskipun perang ini lebih dikenal sebagai perlawanan Imam Bonjol terhadap Kaum Adat. Infiltrasi Belanda pun tidak dapat dikesampingkan karena ternyata perang itu berlangsung cukup lama dan berakhir setelah Imam Bonjol dibuang Kolonial Belanda ke Ambon, lalu Manado.

Sikap Belanda terhadap ferlawanan fisik yang dilakukan pribumi

Setelah beberapa perlawanan fisik yang diluncurkan para ulama yang terjadi akibat kesadaran akan adanya misi gospel juga lahir akibat dari kesadaran bahwa secara tidak langsung Belanda membatasi ruang gerak untuk aktifitas keagamaan. Maka timbul kesadaran dari pihak Belanda untuk melumpuhkan para ulama. Akhirnya Belanda menyikapinya dengan cara menerapkan sistem Tanam Paksa pada tahun 1830 M yang dikhususkan bagi para petani Muslim di Jawa dan Sunda.

Tetapi sayangnya, tanam paksa yang sudah berlangsung hingga tahun 1871 M, tidak sama sekali menyurutkan perlawanan yang disertai pemberontakan dari para ulama. Melainkan justru membuat para ulama semakin giat melancarkan perlawanannya di tahun-tahun berikutnya. Bisa dilihat ketika tahun 1871 M, pemberontakan terjadi di Banyumas, Jawa Tengah yang dipimpin oleh Achmad Ngisa.

Kemudian pada tahun 1888 M pemberontakan dipimpin Hadji Wasjid terjadi di Banten. Di daerah jawa Timur juga sama, tepatnya di Majakerta dan Sidoarjo, pemberontakan dilakukan para ulama, dipimpin oleh Kiai Krapyak dan Kasanmukmin pada tahun 1903 M.

Beberapa perlawanan yang dilancarkan juga membangkitkan jiwa rakyat Indonesia dari rasa cinta tanah air, bangsa, dan agama. Sehingga terciptalah satu gagasan bahwa Belanda adalah musuh bersama yang harus disingkirkan.

Serta melawan imperialisme Belanda khususnya Islam itu harus, dengan cara mengorganisir para pengikutnya agar Indonesia merdeka dari penjajahan politik, kemiskinan dan kebodohan.

Misi gospel Belanda membuat Pribumi menderita

Selain itu Misi Gospel juga dijadikan Belanda sebagai alasan untuk mengistimewakan orang China yang berada di Indonesia. Sebagaimana Ratu Belanda berkata dalam pidatonya a�?Sebagai negara Kristen, Pemerintah Belanda berkewajiban mengatur dengan lebih baik kedudukan hukum rakyat Kristen yang berada di kepulauan Hindia Belanda...a�?

Sehingga Belanda memberikan kebebasan bergerak lebih besar kepada pedagang-pedagang Cina. Alasannya demi perubahan dan demi kepentingan perdagangan lalu lintas dari pada pribumi. Implikasinya jelas orang-orang pribumi dirugikan khususnya dalam kasus usaha batik.

Ketika orang-orang Cina bisa membeli langsung bahan-bahan importer. Pengusaha batik Jawa justru harus membeli bahan dari pedagang Cina khususnya. Akibatnya harga batik dari perusahaan Jawa lebih tinggi dibanding dengan harga batik dari perusahaan Timur Asing. Sehingga, pemasaran batik pada saat itu dikuasai oleh Bangsa Cina.

Sumber : Ali Anwar. 2004. a�?Avonturisme : NUa�?. (Bandung : Humaniora Utama Press)

Komentar
Memuat...