Take a fresh look at your lifestyle.

Indikator Keberhasilan Pendidikan Karakter

2 1.701

Indikator Keberhasilan Pendidikan Karakter: Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinesthetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development).

Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut. Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata.

Indikator Keberhasilan

Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik meliputi sebagai berikut:

  1. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja;
  2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri;
  3. Menunjukkan sikap percaya diri;
  4. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas;
  5. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional;
  6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber- sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif;
  7. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif;
  8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya;
  9. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-har i;
  10. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial;
  11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab;
  12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia;
  13. Menghargai karya seni dan budaya nasional;
  14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya;
  15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik;
  16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun;
  17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat;
  18. Menghargai adanya perbedaan pendapat;
  19. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana;
  20. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana;
  21. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan.

Disorientasi Tujuan Pendidikan

Kondisi masyarakat yang memprihatinkan itu sebetulnya merupakan cermin dari disorientasi pada tujuan pendidikan dimana lembaga-lembaga pendidikan lebih banyak mengajar (stransfer ilmu), tapi sangat sedikit mendidik. Karena itu, tugas kita ke depan adalah bagaimana memprioritaskan pendidikan karakter sebagai sebuah solusi untuk membangun moral bangsa. Pendidikan yang harus dikembangkan tidak hanya berkiblat pada keunggulan/ kecerdasan otak semata, tetapi juga harus dibangun melalui penanaman nilai-nilai jati diri bangsa  sebagai masyarakat yang berbudaya dan beragama.

Internalisasi sebagai sebuah proses penghayatan atau cara menanamkan nilai-nilai normatif yang akan menentukan tingkah laku yang diinginkan atau dicita-citakan menjadi sebuah keniscayaan. Nilai-nilai karakter bangsa, akan lebih mudah direalisasikan dalam wujud internalisasi, terlebih jika didukung oleh empat pilar pendidikan yang dilakukan secara sinergis dan integratif. Kesemuanya itu sangatlah bergantung kepada komitmen bersama, tidak terkecuali para pendidik dan tenaga kependidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan. ***Wawan Ahmad Ridwan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

  1. Anan Abdul Hanan berkata

    Karakter itu bisa di bentuk dan di ciptakan dengan kebiasaan

    1. Lanlan Muhria berkata

      ya betul. kebiasaan yang baik akan menghasilkan karakter yang baik, begitupun sebaliknya