Indikator Kunci Guru Berkompetensi| Mengurai Benang Kusut Pendidikan Part – 5

Indikator Kunci Guru Berkompetensi
0 39

Kajian selanjutnya adalah, apa yang dimaksud dengan kompetensi guru? Kompetensi yang dapat menyimpulkan bahwa seseorang layak disebut guru. Undang-undang Nomor 14 tahun 2005, khususnya Pasal 10, menjelaskan lebih rinci bahwa seseorang layak disebut kompeten sebagai guru.

Kompetensi akan menjadi rumusan yang harus dimiliki guru. Guru dengan kompetensi itulah, yang berhak memperoleh tunjangan karena dianggap profesional. Kompetensi dimaksud adalah: kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan kompetensi profesional. Empat kompetensi itu diperoleh melalui pendidikan profesi.

Penjelasan Makna Kompetensi

Lembar penjelasan atas UU di atas menjelaskan bahwa yang dimaksud kompetensi pedagogik adalah kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran. Artinya, guru dituntut terampil mentransformasi sejumlah ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya kepada peserta didik. Untuk itu, gelar akademik minimal yang harus dimiliki guru adalah strata satu.

Kompetensi kepribadian adalah kemampuan guru untuk mewujudkan pribadinya yang mantap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa. Guru yang demikian akan menjadi teladan bagi peserta didik. Perilakunya, memancarkan akhlak mulia yang dibutuhkan bagi hajat hidup masyarakat luas.

Kompetensi profesional adalah kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran secara luas dan mendalam. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik. Selain tentu ia dituntut mampu berkomunikasi dengan sesama guru, orang tua peserta didik dan masyarakat sekitar.

Rumusan kompetensi sebagaimana diamanatkan UU tadi, mengharuskan dia menjadi sosok yang layak “digugu dan ditiru”. Ia akan memiliki kecakapan dan kelebihan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan yang diasuhnya.

Ia, memiliki karakter dengan indikator mampu memiliki empati sosial yang tinggi (dapat dibaca kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual). Akibatnya, ia bakal memiliki penghayatan yang mendalam terhadap posisinya sebagai tokoh publik. Suatu figur yang gerak dan tindakannya berpengaruh besar terhadap tatanan masyarakat luas

Memahami Makna Guru

Jika demikian, apa sesungguhnya guru yang dimaksud dengan UU di atas? Bab I Pasal 1 menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional. Tugas utamanya adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Peserta didik adalah mereka yang belajar pada suatu jenjang pendidikan formal di tingkat dasar dan pendidikan menengah.

Kata Pendidik maknanya jauh lebih luas dibandingkan dengan makna pengajar dan pengajaran. Fungsi pendidik akan membuat guru tidak hanya menjadi broker ilmu pengetahuan. Ia juga bakal dituntut menjadi transformer nilai dan budaya masyarakat. Tujuan dan fungsinya tunggal yakni bagaimana tatanan hidup masyarakat semakin bermakna.

Kajian yang mendalam tentang makna guru dan berbagai kompetensi yang harus dimilikinya sebagaimana dimaksud dalam UU tadi, bagi penulis memiliki korelasi yang sangat berarti. Artinya, rumusan kompetensi yang diamanatkan UU terhadap guru, sangat berkaitan dengan makna guru itu sendiri. Dengan kata lain, rumusan kompetensi guru, sama artinya dengan mengembalikan fungsi dan citra guru itu sendiri yang bertugas untuk menjadi agen ilmu dan sekaligus agen etik (pengajar dan pendidik).

Fungsi Utama Guru

Dalam bahasa lain, guru harus mampu menjadikan peserta didik dalam fungsinya sebagai abid Allah dan sekaligus khalifah Allah di muka bumi. Konsekwensi dari diterimanya asumsi-asumsi tadi, maka pelaksanaan pendidikan yang didalamnya tercakup persoalan kompetensi guru, sebenarnya seirama dengan tujuan pendidikan Islami yang bertujuan untuk mengarahkan anak didik kepada pencapaian pertumbuhan akhlak/ kepribadian yang seimbang, prototipe pribadi manusia yang mampu menjalankan tugas-tugasnya sebagai Abdullah dan sekaligus Khalifatullah.

Pendapat demikian, dapat dikorelasikan dengan tulisan M. Naquib A1 Attas (1998), Hasan Langgulung (1988), dan Omar Mohammad al Tomy al Syaibany (1975) yang menyebut bahwa visi dan orientasi pendidikan, harus menjadi dasar pemahaman tentang siapakah guru yang diisyaratkan Qur’an dan Surtnah. Guru dalam literatur tadi disebut dengan istilah “murobbi, muallim dan muaddib“.

Istilah ini mengisyaratkan bahwa seorang pendidik seharusnya memiliki kualifikasi robbaniyah, ‘alim dan ber-adab sekaligus. Dengan kualifikasi tadi, maka seorang guru seharusnya bertanggung jawab memberikan pertolongan kepada peserta didik baik dalam perkembangan jasmani maupun rohaninya dengan cara yang seimbang. Seorang pendidik haruslah seorang yang mampu berperan menjadi bapak ruhani (spritual father) sekaligus menjadi bapak intelektual, atau sebaliknya.

Kedudukan ini dapat diilustrasi dari sabda Nabi: “tinta seorang ulama lebih berharga ketimbang darah para syuhada”. Dalam hadits lain disebutkan: “ibadah seorang alim, derajatnya 80 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan ibadah shaleh yang awam.

Tipikal Guru Ideal

Guru yang ideal adalah mereka yang murabby, mu’alim dan muaddib sebagaimana dimaksud dalam pernyataan tadi, ditinjau dari sudut pandang filsafat ilmu, berkonsekuensi pada keharusan untuk menunjukkan dimensi ontologis guna mengukur siapakah hakikat guru.

Kondisi demikian, langsung maupun tidak, juga berkonsekuensi untuk melakukan alat ukur yang sama terhadap murid, yakni siapakah hakikat anak didik dalam pespektif Qur’an dan sunnah. Istilah peserta didik dalam perspektif Qur’ani, disebut dengan “murid (subjek/pelaku) dari kata ” arada-yuridu-iradatan-muridan“.

Sebutan ini mengisyaratkan adanva iradah (kemauan, keinginan) yang harus dan pasti dimiliki peserta didik, sehingga ia tidak hanya menjadi objek didik, tetapi sekaligus subjek pendidikan. Dalam posisi ini, guru akan menjadi fasilitator dalam pengembangan potensi peserta didik dalam dimensi jasmaniyah dan ruhiyahnya atau dalam dimensi materil dan spiritualnya.

Analisa Penulis atas UU Guru

Menurut hemat penulis, semangat UU Nomor 14 tahun 2005 yang mengatur seperangkat kompetensi guru di atas, akan menjadi jalan bagi tegaknya pemahaman dan sikap kalangan terdidik untuk menjadikan dirinya sebagai pusat (teosentris) kesemestaan, titik tolak (starting point) dan sekaligus sebagai titik tujuan (ultimate goal). Hal ini bisa diikhtiarkan dengan melakukan pembinaan atas keseluruhan sifat- sifat hakiki (potensi fitrah) yang dimiliki peserta didik ke arah pembentukan kepribadian yang sempurna. Kesempurnaan manusia ditunjukan oleh akhlaknya.

Selanjutnya, pribadi yang ber- akhlak adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk mengelola hidupnya sesuai dengan nilai-nilai. Kemampuan tersebut, jika dilakukan dengan baik dan benar dari keseluruhan proses pendidikan, sebenarnya dapat dimiliki dan dilakukan oleh setiap pribadi dengan cara melakukan tazkiyat al-nafs (penyucian diri), melalui perenungan (kontemplasi filosofis), riyadhat al-nafs (latihan kepribadian), dan mujahadah (kesungguhan dalam berusaha) atas realitas alam yang dinamis. Kegiatan inilah yang sesungguhnya merupakan inti dari kegiatan pendidikan.

Kompetensi guru akan menjadi jalan bagi kalangan terdidik dan manusia pada umumnya untuk menjadikan dirinya sebagai pusat (teosentris) kesemestaan, titik tolak (starting point) dan sekaligus sebagai titik tujuan (ultimate goal), maka seharusnya pelaksanaan pendidikan itu diarahkan pada pembentukkan watak manusia yang memiliki dua dimensi tadi.

Dualitas dimensi manusia, raga dan jiwa, secara filosofis agamis karena ia terbentuk dari dua wujud yang diametral, yakni unsur nasut (tanah) dan unsur lahut (Tuhan). Dan itu semua, secara teoretik telah diatur dalam UU Keguruan sebagaimana dijelaskan di atas.

Komentar
Memuat...