Individualisme dan Hilangnya Fungsi Kontrol

Individualisme dan Hilangnya Fungsi Kontrol
0 120

Kondisi keluarga sebagaimana telah dijelaskan dalam berbagai tulisan sebelumnya, diperparah oleh situasi masyarakat yang tidak care [peduli] terhadap apa yang dilihat dan didengar di sekitar mereka. Masyarakat modern menjadi demikian individualistik. Karena itu, mereka merasa tidak harus memiliki tanggung jawab sosial atas apapun yang terjadi di sekitar mereka.

Akhirnya apa! Salah satu fungsi masyarakat sebagai alat kontrol menjadi hilang. Padahal arus informasi misalnya; positif-negatif, kini telah masuk ke ranah domestik, sekalipun rumah dimaksud dibalut dengan tembok tebal. Informasi bak hantu, jin dan iprit masuk kerumah-rumah bahkan ke kamar-kamar kecil dengan tembok sangat tebal sekalipun. Mereka masuk ke bilik-bilik kehidupan manusia manusia tanpa pernah minta permisi.

Anak yang tinggal sendirian atau hanya diurus baby sitter yang tidak lulus SD misalnya, mengalihkan idolanya ke figur-figur dunia maya. Apa yang ditampilkan TV, internet, Play Station dan game di komputer, kini malah tumbuh menjadi teman setia. Dampaknya pasti kompleks. Kehidupan anak dalam keluarga yang demikian, saat ini telah menjadi hegemoni besar dan menjadi fenomena masyarkat luas.

Siapa Yang Salah

Jika itu masalahnya, siapa yang harus dipermasalahkan andaikan anak-anak kita benar-benar terlibat dalam berbagai perilaku dan tindakan amoral? Mereka, orang tua atau masyarakat? Lebih jauh lagi, dapatkah diteruskan kebiasaan diri untuk menyalahkan pihak lain,seperti TV, internet, pegiat pers porno, guru agama [kyai dan pendeta] baik disekolah maupun di masyarakat/ Atau kita terbiasa menyalahkan guru private atau pembantu rumah tangga yang sebagiannya tidak lulus SD.

Karena itu, menurut saya, gagalnya moralitas dan nilai-nilai spiritualitas anak, sebagiannya justru disumbang oleh diri kita sendiri. Tidakkah lebih adil untuk mengadili diri sendiri. Misalnya kita menganggap bahwa semua itu terjadi lebih karena orang tua tidak memberikan sebagian haknya kepada anak. Padahala mereka menjadi tanggung jawab orang tua.

Dalam konteks ini, lalu bagaimana drama masyarakat di era sekarang ini harus dimainkan dan diperankan? Dapatkah jarum jam sejarah peradaban manusia diputar di mana misalnya kaum ibu difungsikan kembali hanya sebagai “babby sitter” anak-anak mereka dan menghabisi fungsi mereka di ranah publik? Mereka diletakkan sebagai penerima pujian dan tempat segala pencurahan kebutuhan suami, tanpa memiliki hak ideal sebagai manusia yang memiliki kesadaran sekaligus kemauan untuk terlibat dalam domain publik?

Bagi penulis konsep itu tentu tidak perlu. Selain karena itu tidak mungkin dan pasti dianggap gila, juga kerana realitas kekinian tidak memungkinkan hal itu bisa terwujud. Era postmodernisme atau apapun istilah yang disandingkan untuk era kekinian, sangat menyulitkan untuk menempatkan wanita dalam domain tadi. Meski jika fungsi itu diletakkan kembali bukan berarti selalu bernilai jelek.

Perlu Sikap Moderat

Sikap moderat tampaknya perlu dilakukan keluarga moderen. Kongkretnya, keterlibatan kaum ibu dalam ranah publik harus berangkat dari pancaran ideal sebuah keluarga, bukan sebaliknya. Di mana kebebasan wanita dalam ranah publik diletakkan karena ambisi domestik yang dalam beberapa hal penuh kekacauan, karena kehilangan fungsi simterisnya dengan suami dan anak.

Lebih pastinya lagi, semangat publik kaum wanita mestinya didorong atas keberhasilannya di dalam keluarga yang mampu membangun sikap dan sifat harmoni dengan seluruh anggota masyarakat. Sebab dalam analisis penulis, asumsi yang menyebut bahwa: “wanita yang shaleh adalah mereka yang mampu memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara mereka”, masih cocok untuk diterapkan dalam konteks kekinian, pun jika wanita itu sendiri sudah terlibat secara jauh dalam ranah publik.

Maksud teks hadits dimaksud – dengan sedikit melepas status kemutawatiran itu hadits – dapat dimaknai bahwa betapapun peran serta istri dalam ranah publik itu besar, orientasi ke dalam keluarga tetap perlu dipertahankan.

Konsep ini diusung bukan dalam konteks pengembangan misoginis, tetapi lebih karena saya merasa perlu melakukan harmonisasi. Sebab secara fllosofis jika merujuk pendapat Pritjoff Capra [1997], Rabindranat Tagore [2004] dan Ernest Gelner [1996], soal yang menyeruak ke permukaan di era modern sekarang ini adalah kehilangan fungsi harmonisnya dalam menjalani kehidupan, baik dalam konteks alam, dalam konteks ketuhanan maupun dalam konteks hubungan kemanusiaan. Termasuk jika hubungan itu terkait dengan pola hubungan suami istri.

Konstruk Keluarga Modern

Jika demikian, bagaimanakah konstruk yang harus dimunculkan ketika kaum ibu berada di wilayah publik. Sejauh yang dapat penulis cermati, soal-soal dimaksud dimunculkan atas konstruksi:

Motif terlibat dalam domain publik mesti atas semangat domestik, bukan sebaliknya. Sebab dalam konteks ini penulis sependapat dengan Einstein [2004] yang menyebut bahwa masalah besar yang dihadapi tidak dapat dipecahkan dengan tingkat pemikiran yang sama ketika masalah itu terjadi.

Artinya, jika dikorelasikan dengan femonema keperempuanan dalam domain publik tadi, jika sebelumnya dianggap dihalang oleh doktrin agama dan proses pelanggengan budaya patriarkhi dan trend sosiologis dieranya, maka apa tidak mungkin misalnya bahwa halangan ke depan -dan ini tentu lebih parah—justru karena kondisi psikologis keluarga yang secara real gagal membangun pendidikan dan moral anak di tengah keluarga? Sukses di ruang publik ternyata membuat gagal dalam membangun kondisi keluarga.

Dan ini bukan sesuatu yang mustahil. Sebab jika merujuk pemikiran Kuntowijdoyo [1991] dan Max Webber [1970] ada sebuah teori sejarah yang menyebutkan bahwa sejarah selalu berulang dengan konteksnya yang berbeda pada apa yang disebut dengan istilah determinism historis. Semoga saja tidak demikian . Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...