Take a fresh look at your lifestyle.

Indonesia dalam Pekikkan Allahu Akbar

0 69

Gudang senjata itu tiba-tiba ambruk
Saat moyang kami berhasil mendobrak pintu
Pintu kesombongan melalui rekatan kunci yang kukuh
Hanya dengan ungkapan bismillahirrahmanirrahim

Bukan hanya prajurit tetapi juga perwira Belanda
Lunglai dengan pecahan tubuh dan darah mengapung ke langit
Tercabik daging tubuh mereka terhempas dilahap api mesiu
Ampunlah para kolonial itu meninggalkan kota terbirit-birit

Dulu …. ya di masa lalu
Kami merasa Indonesia telah menjadi milik kami
Karena moyang kami ikut bergerak berjuang memanggul senjata
Mendobrak lilitan senjata angkara murka penjajah

Mereka memekikkan kalimat Allahu Akbar 
Lalu diiringi menyebut kata merdeka, merdeka, merdeka
Gesekan kaki mereka bergemuruh bersama lantunan ketuhanan
Merangsek dan menyerbu penjajah hingga luluh lantak

Allahu Akbar terus Dikobarkan

Kalimat usir penjajah dan kibarkanlah bendera
Saat para moyang itu loncat dari rumah menuju medan perang
Untuk memerdekan sebuah negeri yang dijanjikan Tuhan
Merah Puithpun berkibar penuh kebanggaan

Bapak dan kakek semua anak remaja selalu mendapat cerita
Tentang kehebatan moyang mereka sehingga layak disebut manusia hebat
Mereka mampu meruntuhkan keangkuhan senjata
hanya dengan ungkapan suci ayat ilahi

Tak terhitung jumlah keberhasilan mereka memukul Belanda
Karena memaksa anak atau tetangganya melayani seks mereka
Dikubur secara pelan dan diam-diam
Dalam tumpukan daun-daun kering di tengah perkebunan

Lalu ketika kami mulai bisa membaca

Ternyata Indonesia adalah milik pembaca Proklamasi
Pengatur strategi negeri dan sejumlah tokoh lain yang kita sebut pahlawan
Kami harus hanya cukup merasa hanya menjadi debu di padang pasir
Hanya untung tak disebut pecundang

Kami bangga pada proklamator
Kami bahagia menyaksikan tokoh eksentrik mengatur negeri
Meski kadang tersembul kata tanya
Di mana dan ke mana pimpinan kami yang mengatur perang gerilya

Kami tak berani bertanya
Di mana Natsir, Muhammad Roem atau Kasman Singodimejo
Paling hanya mampu berbisik dengan nada yang pelan
Di mana Soedirman atau paling tidak Hatta

Namun ketika

Kami remaja dalam perkembangan intelektual yang membara
Kenakalan berpikir muncul karena tak mampu menjadi Naga Bonar jilid dua
Posisi Negeri tercinta sendiri beralih menempatkan
Proklamator dan para pahlawan ternyata hanya menjadi mitos

Merekapun ternyata bukan penguasa
Negeri para dewa suci ini ternyata hanya menjadi milik Sang Pemodal
Yang diam dan berdiri kadang sangat jauh dari Negeri tercinta

Kami yakin Indonesia akan tetap jaya
Meski kami akan tetap di sini
Duduk asyik sebagai penonton setia
Sampai Ratu Adil benar-benar datang

Kapan …
Hanya Tuhan yang tahu

Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar