Indonesia dan Budaya Politik Hypocracy

0 66

Politik Hypocracy. Manusia, boleh lupa salah dan boleh lupa. Nabi Muhammad, uswah umat Muslim,  menyatakan bahwa manusia adalah tempat salah dan dosa. Namun demikian, ada satu watak yang jauh dari karakter manusia, yakni berbuat dusta. Bohong atau dusta, adalah watak yang tidak mencerminkan diri dari watak manusia yang sesungguhnya. Berbohong termasuk dalam kategori orang munafik. Mereka dijamin tempat kembalinya adalah api neraka.

Karena itu, menjadi dapat dimengerti, mengapa Nabi Muhammad, suatu hari saat beliau ditanya salah seorang sahabat yang bercita-cita masuk Syurga. Sahabat lalu bertanya: Ya Rasulullah, apa yang dapat menyebabkan saya masuk Syurga? Rasul mengatakan, jangan berbohong alias harus jujur dalam setiap tindakan dan perbuatan.

Semula, sahabat itu menganggap bahwa masuk Syurga itu mudah sekali, yakni hanya dengan kejujuran. Tetapi, setelah dia menjalani kehidupan sehari-harinya, ternyata berbuat jujur itu sulit dan dia sendiri hampir tidak mampu menunaikan kata kejujuran itu dalam kehidupan sehari-harinya. Jujur ternyata berat untuk dilakukan.

Politic Hypocracy

Hari ini, perbuatan tidak jujur itu marak dan menjadi tradisi sehari-hari. Bahkan ada kesan, seolah kalau seseorang hanya mampu jujur, ia tidak akan makan. Seolah-olah hanya dapat makan, kalau, manusia mampu tidak jujur. Jadilah ketidakjujuran itu, menjadi tradisi yang sulit dihindari.

Saya teringat apa yang dilakukan dan dikatakan Socrates bersama muridnya, Plato. Mereka menyatakan bahwa banyak masyarakat Athena waktu itu, yang hanya dapat hidup dari tindakan ketidakjujuran. Pelaku ketidakjujuran menjadi massif di masyarakat. Penyebab utama massifnya ketidakjujuran ini, menurut Socrates terjadi karena banyak tokoh publik (demagog) dan para politisi Athena, yang secara vulgar mempertontonkan ketidakjujuran.

Sialnya lagi, masyarakat sendiri tidak memiliki kuasa untuk menunjukkan bahwa tabiat tidak jujur itu buruk. Terlebih jika yang berbuat tidak jujur itu adalah para tokoh karena ia menjadi tuntunan umat. Hanya karena diikat oleh kredo-kredo tertentu, maka, upaya kritis itu, sulit dilakukan. Hanya para penyair yang masih konsisten melakukan kritik melalui karya-karya sastra yang samar sebagai kritik sosial. Namun upaya mereka untuk menekan ketidakjujuran itu, sulit memperoleh hasil. Mengapa? Karena karya sastra banyak mempertontonkan uslub bahasa yang mendalam, tidak vulgar, maka, pesan atas kritik mereka itu tidak mampu ditunaikan.

Jadi, jika bangsa ini dituntut untuk jujur ya memang sulit. Sama sulitnya ketika Socrates di Athena mengembangkan konsep ini. Mengapa? Karena bangsa ini seringkali mempertontonkan tokoh publiknya sebagai sosok yang pandai berdusta [hypocracy]. Jika nalar ini dihubungkan dengan teori di atas, maka, sebenarnya kita sedang berjalan menuju titik tertentu yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...