Indonesia Menanti Sang Negarawan Baru

0 13

Kita sulit menyangkal kalau Soekarno, Soeharto, Habibie dan Abdurachman Wachid adalah negarawan. Mereka adalah the truly habitual democratic dalam konteks politik kekuasaan Indonesia. Keempatnya berhenti bukan di terminal umum, dan bahkan tidak berhenti di halte kecil sekalipun. Keempatnya justru berhenti di tikungan sebuah jalan yang curam dan terjal.

Dalam kesadaran dirinya sebagai kaum terdidik ia rela berhenti. Keempatnya sadar ada situasi yang demikian kompleks di negara yang dipimpinnya. Mereka lebih menunjukkan jiwa kemanusiaannya, dibandingkan dengan jiwa kekuasaannya. Mengapa disebut demikian? Sebab keempatnya sebenarnya sangat mungkin mempertahankan kendali kemudi kendaraan yang sedang digenggamnya.

Dengan cara apapun, mereka dapat melakukan pertahanan. Mereka baru bisa menghentikan kemudi kendaraannya ketika sampai di terminal umum. Tempat di mana mobil seharusnya berhenti.  Tetapi mereka ternyata tidak …! Mereka menghentikan kendaraannya di jalan yang sesungguhnya mungkin masih lengang.

Penyebutan keempat mantan Presiden RI sebagai negarawan ini, bukan berarti dua presiden lainnya, yakni Megawati dan Soesilo Bambang Yudhoyono, bukan negarawan bangsa. Mereka sama adalah mantan Presiden RI yang wajib dijunjung tinggi nilai kehormatannya, bahkan bila perlu keenamnya ditetapkan sebagai pahlawan bangsa.

Hanya keduanya, berhenti sebagai presiden di sebuah terminal, yang secara umum berdasarkan aturan dan UU harus membuatnya berhenti. Karena itu, saya berdiri di balik semua komponen bangsa yang berhasyrat untuk menetapkan mereka sebagai pahlawan. Mengapa? Karena dengan dan kehebatan mereka masing-masing, telah berhasil mengawal negara, meski sangat pelan ke suatu arah yang selalu lebih baik.

Keinginan ini juga diperlukan, agar masyarakat bangsa ini terlatih untuk menjadi penyayang dan pengagum masa lalunya. Kehebatan mereka akan terus tertranformasi ke ranah public luas dan akan menjadi magma vulkanik yang baik bagi generasi selanjutnya.

Mengapa Harus Menjadi Pahlawan

Mengapa Soekarno harus ditetapkan sebagai Pahlawan? Karena tidak mungkin ada Soeharto tanpa pernah ada Soekarno. Mengapa Soeharto perlu menjadi pahlawan? Karena tanpanya Habibie tak mungkin menjadi presiden. Mengapa Habibie harus menjadi pahlawan? Karena tanpa Habibie, tak mungkin Abdurachman Wahid menjadi Presiden. Mengapa Gusdur harus menjadi pahlawan? Karena tanpanya tak mungkin Megawati menjadi Presiden.

Mengapa Megawati harus menjadi pahlawan? Karena tanpa Megawati, SBY tak kan pernah menjadi Presiden. Mengapa SBY harus menjadi pahlawan? Karena tanpa SBY, Jokowi tak mungkin menjadi Presiden. Mereka bukan disparitas dengan asumsi yang satu mengalahkan yang lainnya. Mereka adalah satu kesatuan bangsa yang sempat menjadi nakhoda sebuah perahu besar bernama Indonesia.

Mereka harus dianggap berjasa karena di tangan mereka, jalannya bahtera kebangsaan ini masih bisa bertahan sampai sekarang. Bahtera bernama Indonesia, tetap berlayar di sebuah samudera yang ganas. Bahkan keganasannya mungkin melebih ganasnya Samudera Segitiga Bermuda.

Sikap ini penting dikumandangkan, agar terlatih menghormati mereka yang telah mendahului kita membangun bangsa. Lepas dari soal kekurangan dan kelebihannya masing-masing, tapi itulah mereka yang sempat memimpin bangsa dan membangun bangsa Indonesia, sehingga sampai saat ini, Indonesia masih ada dalam catatan dunia.

Indonesia To Day

Hari ini, bangsa Indonesia sedang sakit. Kami yakin, baik Panglima Revolusi Soekarno, Panglima Besar Soerharto, Arsitek ternama BJ. Habibie, Budayawan terkemuka Abdurachman Wachid, politikus Handal Megawati dan SBY, sedang sama-sama menangis. Menangisi suatu bangsa  besar, bangsa yang seharusnya menjadi singa dunia, tetapi, malah terus menerus melemah kalau bukan melepuh.

Adakah ini juga menjadi tanda bahwa konsep demokrasi di Indonesia sebagaimana Socrates, Plato dan Aristoteles sarankan di masa lalu, dalam kasus tertentu –termasuk dalam konteks Indonesia– malah hanya akan membuat bangsanya menjadi lemah dan bahkan menangis? Pertanyaan lainnya, apakah mungkin dalam kacamata yang ekstrem, saat ini bangsa kita akan kembali memperoleh negarawan baru. Kita tidak tahu … Sejarahlah yang akan menguji. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.