Ingat dan Lupa Perspektif Al-Quran

0 918

Ingat dan Lupa Perspektif Al-Quran | Cara Mengatasi Lupa: Di antara salah satu dari problem manusia adalah lupa. Bahkan kealpaan tersebut kadang- kadang juga dapat mambahayakan bagi diri manusia itu sendiri maupun bagi lainnya dalam kehidupan. Al-Qur’an menyebutkan dalam berbagai ayat akan kita dapati bahwa lupa (al-nissyan) dalam ayat tersebut mempunyai pengertian yang berbeda- beda yang secara garis besar dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Lupa Biasa

Lupa jenis ini adalah lupa yang menimpa pikiran mengenai berbagai peristiwa, nama-nama orang, dan berbagai informasi yang pernah diperoleh sebelumnya. Lupa seperti ini merupakan hal yang biasa (normal) yang menimpa seseorang akibat bertumpuknya berbagai informasi.

Dalam perpektif psikologi lupa dalam katagori ini disebabkan oleh dua sebab yaitu ”interferensi retroaktif” dan “interferensi proaktif”. Interferensi retroaktif terjadi bila ingatan kita tentang materi yang telah kita pelajari menjadi lemah karena kita mempelajari materi- materi baru tersebut. Sementara interperensi proaktif timbul akibat ingatan kita terpengaruh oleh materi yang telah dipelajari. Bias juga disebabkan oleh kebiasaan, aktifitas dan informasi yang terlebih dahulu dipelajari. Karena banyak informasi dan aktifitas yang sudah ada sebelumnya maka akan terasa sulit bagi kita untuk mengingat materi yang baru dipelajari. Sementara ingatan kita terhadap materi yang baru dipelajari lebih baik dari materi yang lebih lama. Oleh karena itu biasanya anak kecil lebih mampu mengingat secara detail berbagai peristiwa masa lalu dibanding orang dewasa. Hal ini seperti firman Allah:

سنقرؤك فلا تنسى

 Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad), maka kamu tidak  akan lupa. (Qs. Al’A’la: 6).

Lupa yang Mengandung Arti Lalai (as-Sahwu)

Lupa ini biasanya diinterpretasikan sebagai akibat hambatan interferensi proaktif. Sebagai contoh murid Nabi Musa ketika diajak untuk mencari pertemuan dua laut, sampai-sampai ikan yang dibawanya hilang ia tidak tahu (lupa). Hal ini seperti firman Allah:

قال أرأيت إذ أوينا إلى الصخرة فإنّى نسيت الحوت وما أنسانيه إلا الشيطان أن أذكره.

(Muridnya menjawab)Taukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu,dan tidak ada yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan, (Qs. Al-Kahfi: 63)

Lupa dengan Arti Hilangnya Perhatian Terhadap Sesuatu

Lupa sejenis ini sebagaimana terlihat dalam firman Allah:

المنافقون والمنافقات بعضهم من بعض يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف وبقبضون أيديهم نسوا الله فنسيهم إنّ المنافقين هم الفاسقون.

Orang-orang munafiq laki-laki dan orang-orang munafiq perempuan sebagian mereka itu adalah dari sebagian mereka (juga) mereka menyuruh untuk berbuat munkar dan melarang dari berbuat baik serta mereka itu membelenggu tangan mereka (untuk menolong berbuat baik), mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.  (Qs. Al-Taubah: 67).

Yang dimaksud “mereka telah lupa kepada Allah” adalah bahwa mereka meninggalkan ketaatan kepada-Nya karena hilangnya perhatian mereka untuk mematuhi perinta-perintah Allah. Sedang pengertianm “Maka Allah melupakan mereka” ialah bahwa Allah menjauhkan karunia-Nya dari mereka dan meninggalkan mereka.

Cara Mengatasi Lupa

Untuk mengatasi kealpaan dan kelalaian yang timbul akibat lalainya hati kepada Allah, hanya dapat dilakukan dengan mengingat Allah (dzikrulllah) secara terus menerus. Ingat kepada nikmat dan karunia-Nya. Ingat kepada tanda- tanda kekuasaannya dan ingat kepada hari pembalasan. Hal ini seperti firman Allah:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا.

Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini“.   (Qs. Al-Kahfi : 24)

Ayat di atas, masih ada pertalian dengan ayat sebelumnya yang berkaitan dengan masalah taklif, di mana kealpaan dalam ayat tersebut adalah kealpaan yang dikhususkan. Kealpaan dimaksud seolah-olah; jika engkau lupa kemudian engkau ingat kembali, maka sebutlah Tuhanmu saat itu juga. Sebaliknya al-Qur’an sangat memuji orang- orang yang beriman yang selalu ingat kepada Allah. Sehingga mereka dijuluki sebagai ulil-albab. Hal ini seperti firman Allah:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Qs. Ali-Imran: 190).

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.