Tetap Setia Mencintaimu | Novel Bergulat Dengan Nafas Terakhir-Part 7

0 37

Sejumlah kegelisahan yang menimpa diri Doddy, telah membawa dirinya terbang ke masa lalu. Masa di mana, dia dan Fanny mengawali perawatan medik rutin yang melumatkan seluruh angan dan cita-cita hidup mereka. Di atas kuburan Fanny yang telah memendam jasadnya kurang lebih dua minggu itu, Doddy dengan memegang bunga mawar, melamun. Kebetulan, hari itu, tepat berakhirnya bulan Oktober tahun 2016. Bulan inilah yang membuat Doddy dan Fanny akhirnya berpisah.

Fanny, aku ingat setahun lalu Oktober 2015, kau sempoyongan ketika kubawa ke rumah sakit. Itulah awal semua kisah dramatis kita dimulai Awalnya, aku dan kamu tak menyangka, jika di suatu malam, kau tampak tak gairah -sebagai seorang istri–. Kau malah kelihatan sangat lemah.   Ingat nggak, malam itu aku bertanya: “Yang …  mengapa kamu jadi lemah begini”. kau menjawab, nggak tahu A … ko aku tiba-tiba merasa sangat lemah begini.

lalu ketika malam berganti menjadi pagi, aku melihat dirimu pucat pasi. Wajahmu kelihatan menguning. Dan terkadang pandanganmu mulai kosong tak berisi. Waktu itu, aku langsung memintamu untuk mau ke dokter. Kau menolaknya dengan mengatakan: Biar dulu A … barangkali kemarin aku kecapean. Setelah dua hari berjalan, wajahmu mulai tampak kebiru-biruan. Aku memaksamu Fanny berangkat ke rumah sakit.

Hb-mu Turun Sayang

Setelah diperiksa laboratorium, diketahui Hb-mu tiba-tiba anjlok dari seharusnya minimal 11.5-12, saat itu hanya 3. Trombosit ambrol dari seharusnya 150 000, menjadi hanya 3000. Lalu dengan santai, dokter mem-vonis-mu  mengindap penyakit Anemia Aplastik. Awalnya, kau dan aku menganggap bahwa semua itu biasa. Anemia sering disejajarkan dengan penyakit biasa akibat kekurangan vitamin. Bahkan, di masa lalu, penyakit sejenis ini, patut dianggap dapat diselesaikan dengan hanya makan daun-daun tertentu, seperti daun katuk. Tetapi, ternyata tidak, sayang. Aku ingat bagaimana kamu berkata: A … ini penyakit biasa. Tenang saja. Kau yang menasehati aku.

Tetapi ternyata tidak sayang. Sebulan sekali aku dan dirimu harus memasukkan darah tidak kurang dari 6 labu darah dan 10 labu trombosit ke dalam tubuhmu. Aku ingat bagaimana kita, tiga hari tiga malam, ridur di rumah sakit kelas biasa. Dan kemudian setelah itu kita pulang ke rumah. Kita pikir, penyakit itu tidak akan datang lagi. Tetapi, kemudian bulan berikutnya dan berikutnya, terus terjadi. Secara manusiawi, Doddy kecewa sayang Mengapa Tuhan memberi ujian yang demikian dahsyat kepada kita. Kita kadang duduk berdua melamun dan hidup dalam kegetiran. Terlebih kau tahu, betapa teman-teman AA di kantor hampir tidak ada yang peduli atas apa yang menimpa kita.

Sayang … aku masih ingat bagaimana kita dipaksa harus melahirkan anak kita, yang kita cintai itu, lahir dengan cara cesar. Biaya yang dibutuhkan waktu itu cukup banyak. Untuk menghadapi situasi seperti itu, aku merasa betapa kau menunjukkan sikap yang demikian pilu melihat aku.Kita bisa menjalaninya. Tetapi kini … aku sendiri. Bahagialah kau … tidurlah dengan nyenyak di samping Tuhan kita dan kekasih-Nya di Syurga.

Terlampau banyak, jerit tangis dijalani saat sejumlah kegalauan ini menimpa kita. Kau sudah meninggal berarti sudah merdeka. Aku datang ke sini hanya ingan menyampaikan pesanku kepadamu, bahwa aku sangat ingin tetap setia mencintaimu. Charly Siera –bersambung–

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.