Inilah 4 Etika Bekerja Dalam Al-Quran

0 346

Inilah 4 Etika Bekerja Dalam Al-Quran: Anjuran al-Qur’an terhadap usaha dan pmenuhan tanggung jawab, bukan sekadar perintah bekerja yang hanya menghasilkan materi. Al-Qur’an memandang, kerja hanya salah satu bentuk ikhtiyâr yang harus dilakukan oleh manusia. Orientasi yang dituju   dari ikhtiyâr bukan kerja yang kapitalistik murni yang hanya berorientasi pada pertambahan nilai dari sebuah barang. Al-Qur’an menghendaki agar kerja manusia diorientasikan pada nilai-nilai suci, bukan sekadar materi  secara unsich. Nilai suci dari materi ditentukan oleh fungsi dan kegunaannya untuk kemaslahatan dalam memenuhi hajat hidup manusia.

Al-Qur’an tidak menyebut objek yang diusahakan manusia secara nomerik dan materi. Al-Qur’an menyebutnya secara konseptual, seperti mâl (harta), kanz (simpanan), fadlal (keutamaan), rizq (rezeki), matâ’ (kesenangan), khazanah (simpanan), ajr (upah), zînah (keindahan), dan lain-lain. Term-term tersebut seluruhnya terformat dalam konsep monotheis etis (tauhîd).  Al-Qur’an akan memalingkan objek orientasi manusia dalam mencari materi,  jika objek yang ditangkap oleh manusia hanya berorientasi pada kekinian dan kedisinian. Ketika kesadaran manusia terhadap materi hanya terfokus pada orientasi yang dekat (danî’),  al-Qur’an memandang kesadaran tersebut secara negatif. Dalam konteks ini, sering memberikan kesan seolah-olah al-Qur’an tidak merestui usaha manusia terhadap materi.

Al-Qur’an memberikan orientasi melalui piranti-piranti dalam bekerja yang harus dipatuhi manusia. Orientasi ini untuk memberikan keseimbangan usaha manusia dalam mendapatkan materi agar sesuai dengan harapan yang dicita-citakan sebagai khalîfah di bumi. Keseimbangan tersebut baik terhadap Tuhan, terhadap dirinya, lingkungan, maupun sesama. Piranti-piranti tersebut di antaranya;

  1. Melarang Bertransaksi Secara Illegal

Ketika al-Qur’an memerintah mencatat transaksi khususnya dalam hutang piutang, ditegaskan kembali agar tanggung jawab (amânah) yang telah disepakati baik yang dicatat atau yang hanya didasarkan pada jaminan perikatan agar ditunaikan. Pengkhianatan terhadap tanggung jawab tersebut diibaratkan seperti orang yang mengendap gangguan hati (âtsimun qalbuh).

Penetapan legalitas dalam transaksi, diharapkan dapat menutup bentuk-bentuk kecurangan, khususnya yang berkaitan dengan kejujuran antara kedua pihak. Salah satu bentuk ketidakjujuran adalah menyogok pihak berwenang untuk membuat keputusan yang dapat memberikan legal formal untuk menguasai hak yang bukan haknya (baca: QS. al-Baqarah/2: 188). Ayat ini menggambarkan dua kejahatan yang terjadi dalam mencari harta, yaitu kejahatan secara yuridis dan kejahatan secara etis. Kejahatan secra yuridis adalah kejahatan melanggar hak orang lain yang dilindungi,   secara paksa maupun secara biasa. Pelanggaran ini disimbolkan dengan kata  memakan (akl/أَكْل). Kejahatan ini pelakunya dituntut aktif dan reaktif. Adapun kejahatan secara etis yang disebut juga kejahatan terselubung, adalah kejahatan  yang dilakukan oleh pemayung legal formal. Kejahatan tipe ini pelakunya bersikap pasif, ia hanya berada di balik panggung.

Transaksi yang dilakukan di atas kejahatan, hasilnya bukan keuntungan yang diharapkan. Tetapi api permusuhan yang selalu menyulut kedua transaktor. Hasil yang diperoleh dari transaksi model ini digambarkan oleh al-Qur’an dengan al-nâr (النار). Term ini dapat dipahami sebagai siksaan yang pedih di hari akhir, maupun kondisi kini yang selalu menyulutkan api permusuhan dan penindasan sehingga semua yang tersangkut dalam proses tersebut merasakan kesengsaraan.

  1. Penyempurnaan Takaran dalam Transaksi

Al-Qur’an memerintahkan sikap etis dalam mencari kekayaan (keuntungan) yang melalui transaksi. Sikap etis tersebut adalah menyempurnakan timbangan, takaran, dan ukuran sesuai dengan kesepakatan. Timbangan, ukuran, dan takaran semuanya hanya mengacu pada kuantitas. Karena dari kuantitas akan berakhir pada selektifitas kualitas. Standar kualitas relatif lebih subjektif dari pada standar kuantitas. Standar tersebut sering didasarkan pada perimbangan selera dari pada standar kuantita. Untuk mencapai nilai etis dalam pencarian kekayaan, al-Qur’an mengecam kecurangan dalam takaran dan ukuran sekaligus memerintahkan penyempurnaannya.

Al-Qur’an mengecam keras kecurangan dalam transaksi, karena bukan saja merugikan orang lain tetapi juga pelakunya. Pelaku ekonomi ketika melihat kecurangan yang dilakukan mitranya, ia akan mengalihkan kemitraannya kepada orang lain. Hilangnya  kemitraan adalah awal dari kehancuran dalam dunia ekonomi. Dalam interaksi ekonomi sifat kejujuran melintasi semua sentimen, mulai dari kekerabatan, kesukuan, sampai keagamaan. Orang lebih senang bermitra yang bukan keluarga, suku, bahkan agamanya yang memiliki loyalitas kejujuran, daripada bermitra dengan keluarga, suku, serta agama yang curang.

Kecaman keras al-Qur’an terhadap kecurangan dalam transaksi, karena kecurangan tersebut sering dilakukan terhadap kelompok yang tidak berdaya yang tidak mampu mengalihkan dan mencari mitra yang lebih sehat.  Pelaku ekonomi memiliki kesadaran, bahwa mitra adalah aset dan modal dasar yang utama. Kehilangan mitra, berarti berkurangnya aset. Perilaku curang yang dilakukan oleh pelaku ekonomi, akan menjauhkan mitranya, keculai terhadap mitra yang dipandang tidak mampu mengalihkan kemitraannya karena suatu sebab. Dengan demikian, kejahatan dalam kecurangan adalah kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh orang kuat terhadap orang lemah.

  1. Larangan Bersistem Ribâ

Secara bahasa, kata ribâ berarti tambahan, pertumbuhan, dan melambung. Sementara menurut istilah fiqih, ribâ adalah tambahan pada modal uang yang dipinjamkan yang harus ditanggung oleh orang yang berhutang (debitur) sampai jangka waktu peminjaman dengan prosentase yang ditetapkan oleh pemberi hutang (kreditur). Dari pengertian  dasar tersebut, ribâ yang dikecam oleh al-Qur’an adalah ribâ  yang berkaitan dengan sistem kegiatan ekonomi, sistem tersebut akan berakhir pada hasil. Dalam perspektif etis, hasil  tidak dapat dilihat dan dinilai secara mandiri, karena hasil terikat dengan proses dengan prosentase yang relatif.

Sebelum membahas masalah ribâ, perlu diasumsikan bahwa Tuhan  mensyari’atkan tindakan-tindakan tertentu, bukan sekadar dikerjakan maupun dijauhi yang dibangun di atas keyakinan buta. Syari‘at tersebut efeknya bersentuhan langsung dengan kehidupan empirik dengan tidak menafikan keyakian terhadapnya secara metafisik. Dengan asumsi tersebut, ribâ yang dikecam oleh al-Qur’an harus diposisikan sebagai tindakan yang akan merusak citra manusia yang berkaitan dengan pencarian kekayaan.

Komentar
Memuat...