Inilah 4 Potensi Manusia Menurut Al-Quran

1 10.530

Inilah 4 Potensi Manusia Menurut Al-Quran: Pandangan manusia terhadap dirinya merupakan faktor dominan yang dapat mengarahkan pendidikannya. Oleh karena itu dalam membahas masalah pendidikan  tidak lepas dari pembahasan tentang hakekat diri manusia itu sendiri.  Dalam al-Qur’an manusia adalah makhluk Allah yang dibebani tanggung jawab, oleh karena itu ia disifati dengan kesempurnaan sebagai kesiapan memikul tanggung jawab (taklîf), dan jika gagal akan dikembalikan kepada derajat paling hina agar ia waspada terhadap perintah dan larangan. Agar amanah tersebut terlaksana, manusia harus  berusaha untuk menumbuhkan amanah dalam   perilaku sebagai wahana yang paling dominan   yang terformat dalam pendidikan.

Al-Qur’an sering memuji manusia sekaligus mengecam terhadap mereka yang tidak mempedulikan kemulyaan yang telah diberikan oleh Tuhan kepadanya ( Baca: Al-Isrâ’: 70). Ayat tersebut adalah pujian Allah kepada manusia sekaligus hinaan kepadanya setelah diberi nikmat. Nikmat tersebut tidak difungsikan sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk bersyukur kepada-Nya.

 Allah menundukkan semua  yang ada di laingit dan di bumi untuk manusia sebagai persiapan  menjadi khalifah (Luqmân: 20). Wajar  jika kedudukan manusia menurut  al-Qur’an sangat tinggi dan mulia, agar dapat menjalankan risalah kehidupannya, yaitu menyebarkan kebenaran, kebaikan,  kebajikan dan  keindahan. Di antara potensi yang ada pada manusia adalah:

Jasad dan Ruh

Manusia adalah salah satu makhluk yang diberikan kebebasan untuk menentukan pilihannya. Dalam menentukan pilihan,  manusia selalu dipengaruhi tabiatnya. Tabiat manusia mengandung dua unsur, yaitu  unsur materi dan non materi atau rûh dan jasad yang saling melengkapi. Al-Qur’an melarang orang mukmin menelantarkan hak dan kewajiban terhadap jasadnya hanya karena mementingkan ruh saja dan sebaliknya (Al-A’râf: 31). Manusia juga dipengaruhi oleh unsur-unsur lain seperti hati, akal dan nafs, yang bersifat maknawi. Perbedaan konotasi istilah tersebut berangkat dari katagorisasi yang digunakan, yaitu kategori dari sisi materi, dan sumber esensinya. Kegagalan manusia dalam mencapai kesempurnaan, karena masing-masing komponen tidak saling melengkapi. Oleh karenanya, pendidikan bukan hanya sekadar pembinaan jasad, tetapi jasad hanya sebatas tempat di mana ruh (nilai) beraktualisasi untuk menuju tujuan hidup yang sesungguhnya.

Kebaikan dan Keburukan

Allah membentuk manusia dengan tabi’at monotheis (fithrah), dengan mengakui keberadaan penciptanya. Fithrah tersebut berkembang dalam kehidupan secara positif (Al-Rûm: 30). Dalam perkembangannya, perilaku manusia kadang-kadang berubah menjadi negatif, karena ia menyimpang dari  amanat yang telah diembannya (Al-Ahzâb: 72). Jika manusia komit terhadap amanah, ia akan menduduki derajat paling tinggi di atas derajat malaikat. Karena ia bukan sekadar mampu melakukan kebaikan, melainkan juga keburukan. Tetapi keistimewaan manusia ia mampu memenangkan kebaikan atas keburukan (Al-Isrâ’: 11).

Sebaliknya, jika manusia gagal mengembannya, ia akan turun derajatnya ke derajat syetan, yang disebabkan karena sikap acuhnya terhadap bimbingan al-Qur’an (Al-An’âm: 122). Fithrah yang diberikan Allah kepada manusia akan dikembangkan baik terhadap dirinya, maupun lingkungannya. Perubahannya ditentukan oleh ikhtiyarnya masing-masing, ia berada dalam dua posisi yang seimbang, antara baik dan buruk. Di sinilah bimbingan dan pengarahan (tarbiyah) dibutuhkan (Al-Syams: 7-10).

Kebebasan dan Keterpaksaan

Sebagai makhluk yang bertanggung jawab (mukallaf), manusia harus memiliki syarat untuk mengemban tanggung jawabnya yaitu kebebasan.  Kebebasan harus didasarkan pada potensi kehendak. Dengan demikian perbuatan yang dipertanggung jawabkan oleh manusia, harus tercakup kebebasan dan independensi dalam memilih dan menentukan perbuatan. Hal ini tentunya tidak sekedar keinginan belaka, tetapi juga didasarkan pertimbangan fikiran dan kepastian yang diawali dengan keinginan yang dikuatkan dengan keputusan (‘azam). Irâdah akan berada dalam posisi netral  antara keterpaksaan dan kebebasan.

Perbuatan memang ikhtiar manusia, sedangkan ikhtiar tidak terikat dengan ikhtiar lain. Ayat di atas menyanggah anggapan bahwa manusia itu mandiri dan bebas segala-galanya, lepas dari kehendak dan kekuasaan Allah. Allah berkekuasaan sempurna sementara manusia hanya berpotensi yang memungkinkan dikembangkan untuk menuju kesempurnaan. Kekuasaan serta iradah Allah yang sempurna, dan potensi manusia yang memungkinkan dikembangkan, hendaknya diberi kewenangan masing-masing, dimana yang satu tidak mengganggu dan menghalangi kehendak dan kebebasan  yang lain.

Potensi Ego dan Sosial

Redaksi al-Qur’an kadang-kadang bernuansa individu (eksklusif) dan kadang-kadang bersifat sosial (inklusif). Hal ini menunjukkan bahwa individu terserap ke dalam kelompok, tetapi bukan sebaliknya. Untuk itu al-Qur’an sering menegaskan bahwa setiap  individu bertanggung jawab dihadapan Allah (Al-Isrâ’: 15), sehingga al-Qur’an menghindarkan warisan tanggung jawab dari kelompok.

Masyarakat ikut bertanggung jawab terhadap individu agar dapat mencapai derajat yang mampu membedakan antara baik dan buruk. Dengan tercapainya derajat tertsebut, individu akan ikut bertanggung jawab keberlangsungan masyarakatnya. Tanggung jawab sesuai dengan kemampuan individunya. Antara tanggung jawab individu dan sosial saling melengkapi, hubungan antara individu dalam kelompok, diikat dengan ikatan rasa cinta bukan atas dasar konflik, dan standar untuk mengukur prestasinya adalah taqwa (Al-Hujurât: 13).

Oleh Ahmad Munir


Bahan Bacaan

Abud, Abdul Ghani, Allah wa al-Insân al-Mu’âshir, Dâr al-Fikr al-Arabi, 1977

Shihab, M. Quraish, Wawasan Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1999

Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung:  Remaja Rosda Karya, 1994

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. AFINAH NGIZATIN berkata

    Manusia secara umum yaitu makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan orang lain oleh karena itu manusia senantiasa membutuhkan interaksi dengan orang lain.
    sedangkan pengertian manusia menurut ilmu sosiologi yaitu bagian masayrakat yang di bedakan menjadi dua manusia sebagai makhluk indivindu dan manusia sebagai makhluk sosial yang melakukan interaksi di dalam kehidupanya.
    Fungsi dan kedudukan manusia dalam islam. Manusia di dunia ini sebagai khalifah di bumi, tujuan penciptaan manusia ini untuk beribadah. Dan manusia juga tidak bisa di pisahkan dari jasad dan ruh. Manusia itu sendiri kadang bisa perbuat baik dan kadang juga bisa berbuat buruk karena pada dasarnya manusia mempunyai kebebasan. Kebabasan itu sendiri harus di barengi dengan rasa tanggung jawab.agar dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk
    manusia juga mempunyai potensi ego dan sosial karena pada dasarnya manusia itu membutuhkan orang lain.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.