Inilah 6 Kerisauan yang Diderita oleh Pendidikan Modern

0 52

Wilayah kelelahan dan kebosanan meluas hingga kekosongan pendidikan dari filsafat dan tujuan ini. Yang paling utama adalah model-model yang berada dekat dengan pusat-pusat pendidikan dan memimpin proses pendidikan di semua negeri Barat. Sydey Hook berkata:

“Banyak kata-kata yang tidak bermakna sekitar filsafat pendidikan… dua orang filosuf manapun yang cenderung kepada satu filsafat baik idealisme, pragmatisme atau filsafat ketuhanan Thomas Aquinas akan berbeda pendapat tentang tujuan dan teknik pendidikan….

Dorongan para filosuf seperti Mister Broudy untuk mencari asal muasal filsafat pendidikan dari filsafat-filsafat umum seperti idealisme, realisme, filsafat Thomas Aquinas, pragmatisme atau eksistensialisme adalah dorongan untuk melakukan obrolan kosong…

Pendidikan yang memiliki nilai tidak akan berkembang jika membiarkan filsafat mengaplikasikan pandangan-pandangan filosofisnya terhadap masalah-masalah pendidikan. Akan tetapi filsafat pendidikan akan berkembang ketika warga negaranya yakni para filosuf dan orang-orang cerdas sibuk dengan masalah-masalah pendidikan. Mereka berusaha merealisasikan konsep-konsep dari konflik nilai dan berusaha menginternalisasikan teori yang menyeluruh dari nilai humanisme, teori yang membawa kita kepada penyelesaian konflik”.

Pada tahun 1955 Komite Amerika untuk Filsafat membentuk kumpulan khusus dengan objek filsafat pendidikan yang melaluinya dilontarkan sejumlah pembahasan yang terpentingnya adalah dua bahasan yang dipresentasikan oleh Harry S. Broudy dan Kingsley Price.

Kerisauan Pendidikan Modern

Pada tahun 1955 John S. Brubacher meringkas aspek-aspek kritik dan celaan yang menghancurkan lembaga pendidikan di Amerika dalam analisisnya yang disebar luaskan oleh buku tahunan yang kelima puluh empat untuk organisasi nasional pembelajaran pendidikan. Di dalamnya terdapat sejumlah masalah pendidikan yang diderita oleh pendidikan modern yang ringkasannya adalah sebagai berikut:

Kerisauan Pertama

Terdapat kerisauan sekitar kenyataan bahwa pendidikan modern berada di bawah filsafat tanpa tujuan, kemudi, peta dan kompas. Tidak ada kriteria tertentu untuk mengendalikan aliran-aliran kehidupan, dan apakah sekolah akan mengajarkan remaja bahwa terdapat satu kriteria atau banyak kriteria seperti agama, metafisika dan ilmiah?

Kerisauan Kedua

Terdapat kerisauan bahwa tujuan pendidikan modern tidak jelas dan saling bertentangan dan tidak melahirkan loyalitas yang kuat. Dan pertanyaan yang mendesak adalah dengan kriteria apa kita merealisasikan tujuan dan nilai kita? Apakah sesuai dengan pengajaran Tuhan atau sesuai dengan kesenangan manusia? Atau sesuai dengan waktu dan tempat? Dan dalam tidak adanya kriteria ini bagaimana kita menetapkan apa yang kita pelajari dalam metode?

Kerisauan Ketiga

Terdapat kerisauan bahwa pendidikan modern gagal memberikan harapan terhadap kriteria pendidikan modern. Hal itu karena pendidikan modern benar-benar menekankan pada urgensi pemeliharaan kesenangan peserta didik. Apakah maknanya bahwa kita membiarkan anak-anak dengan kesenangan kekanak-kanakannya atau kita mengajarkan masalah-masalah yang menurut kita baik meskipun tidak sesuai dengan kesenangannya? Bagaimana sebuah hakikat membantu metode? Apakah metode mendahului pengajaran ataukah metode merupakan hasil aktivitas pembelajaran, kesibukan sekolah, laboratorium atau karyawisata?

Kerisauan Keempat

Terdapat kerisauan bahwa konsep-konsep demokrasi bagi pendidikan tidak diperkuat dan berjalan hanya semata-mata di atas keyakinan yang kecil. Lalu apa maksud demokrasi dalam kaitannya dengan individu? Apakah berarti tidak adanya intervensi pemerintah dalam kebebasan ekonomi? Atau apakah berarti memberikan sekolah kebebasan orang tua untuk menetapkan apapun yang dikehendakinya terhadap anak? Atau apakah berarti keikutsertaan anak dewasa dalam membuat keputusan dan mendapatkan akibat meskipun kadang-kadang menimbulkan akibat yang bertentangan dengan tradisi? Apakah sekolah akan memberikan kontribusi kepada pendiskusian masalah-masalah sosial?

Kerisauan Kelima

Terdapat kerisauan bahwa bingkai sosial bagi sekolah modern memberikan pelajar kebebasan yang melebihi batas. Sekolah modern tidak menundukkannya pada kekuasaan dan aturan sesuai dengan yang diinginkan. Pemikiran ini berpengaruh kepada pemikiran yang terbuka tentang bagaimana jika orang tua dan sekolah mengajukan inisiatif tentang anak-anak dan memfasilitasi kesenangan mereka. Apakah lebih baik kita menudukkan kesenangan anak-anak kepada orang dewasa jika orang dewasa lebih banyak mempraktekkannya daripada anak-anak? Jika aktivitas ekstra kulikuler anak semakin bertambah apakah akhirnya mereka akan memiliki kemampuan inovasi, inisiasi dan berpegangan erat kepada jiwa dan kebebasan etika? Jika orang dewasa mempersiapkan sedikit dari kekuasaannya yang klasik bukankah berarti kita melindungi pendidikan pada saat yang sama namun menyimpang dan tidak demokratis?

Kerisauan Keenam

Terdapat kerisauan bahwa pengajaran umum telah berlebih-lebihan dalam menjauhkan fanatisme agama hingga mengabaikan agama. Selain itu, pengajaran menjadi lebih tidak agamis daripada yang seharusnya. Dan masalah ini mempengaruhi pertanyaan tentang bagaimana jika dimensi agama bagi pendidikan telah benar-benar diabaikan. Dan apakah dengan memberikan sisi agamis ini perhatian yang lebih besar akan memberikan stabilitas bagi pendidikan yang ada dan menjadikannya memiliki maksud dan tujuan? Atau apakah perhatian akan pengajaran agama akan menyebabkan pada ambiguitas batas-batas yang ada antara Allah dan Kaisar? Atau apakah kita melihat kembali kepada tradisi yang diwariskan dari abad kesembilan belas yang memisahkan antara gereja dan negara dalam bidang pendidikan umum?

Tidak diragukan lagi bahwa terdapat masalah-masalah selain masalah-masalah yang disebutkan di atas. Sehingga masalah dan filsafat pendidikan jatuh dalam tanggungan masalah-masalah ini. Penelitian pendidikan harus menjangkau peninjauan pada watak pengetahuan, nilai, manusia, masyarakat dan alam sebelum kita membuat ketetapan apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi krisis saat ini?

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

 Bahan Bacaan

Sydney Hook, “The Scope of Philosophy of Education” dalam Harvard Educational Review, vol. 2, Musim Semi, 1956

John S. Brubacher, “The Challenge to Philosophize about Education” dalam Modern Philosophies and Educations, Fifth-Fourth Yearbook of the National Society for the Study of Education, Chicago: University of Chicago, 1955.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.