Take a fresh look at your lifestyle.

Pernikahan Panglima Burung Menghebohkan Jagat Raya

0 73

Belakangan ini nama Panglima Burung atau juga disebut Pangkalima mendadak populer di media sosial maupun di dunia nyata. Kabar tersebut populer dipicu oleh beredarnya kabar rencana pernikahan sosok Panglima Burung dengan seorang perempuan bernama Sri Baruno Jagat Parameswari yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 Februari 2017 mendatang.

Pangkalima atau Panglima Burung adalah sebutan orang Dayak pedalaman untuk panglima perang. Sedangkan Sri Baruno Jagat Parameswari adalah seorang perempuan berasal dari pulau Bali yang mengaku anak titisan dari keturunan Nyi Roro Kidul yang dikenal sebagai ratu penguasa Pantai Selatan. Menurut informasinya Sri Baruno Jagat Parameswari saat ini posisinya berada di Jakarta.

Seperti yang kami kutip dari liputan6.com (23/2), Informasi rencana pernikahan salah satu tokoh Dayak, yakni Paglima Burung (pangkalima) dengan Sri Baruno Jagat Parameswari, bermula dari datangnya seorang perempuan bernama Retno pada 12 Februari 2017 ke kediaman Damang Kepala Adat Kecamatan Katingan Tengah Isae Judae.

Retno mengaku utusan Sri Baruno Jagat Parameswari dan mendapat bisikan dari roh halus bahwa hanya Isay Djudae yang bisa melaksanakan ritual pernikahan adat tersebut.

Perempuan itu pun meninggalkan uang Rp 16 juta dan mengaku akan kembali lagi dalam beberapa hari untuk menyerahkan uang untuk keperluan pernikahan ritual adat tersebut.

Pada 21 Februari 2017 sekitar pukul 11.00 WIB, Retno pun kembali datang dan menyerahkan sejumlah uang Damang Kepala Adat Kecamatan Katingan Tengah. Dana tersebut dipergunakan untuk mempersiapkan acara serta keperluan mencetak undangan, membeli sapi, babi, ayam dan lainnya.

Siapa Panglima Burung?

Burung enggang, pangkalima, panglima burung, menikah, titisan roro kidul, suku dayak,
Burung enggang atau rangkong dalam bahasa Inggris disebut hornbill karena paruhnya memiliki tanduk atau cula. Oleh masyarakat Dayak, enggang termasuk burung yang dikeramatkan

Sosok Nyi Roro Kidul lebih populer dibanding Panglima Burung karena sering disebut-sebut dalam cerita rakyat yang berkembang di Jawa. Lain halnya dengan Panglima Burung yang baru populer belakangan ini.

Sebelumnya, nama Panglima Burung mencuat saat tragedi konflik di Sampit dan Sambas, Kalimantan, pada 2001 lalu. Saat itu Panglima Burung diyakini mampu menyatukan Suku Dayak se-Kalimantan dan mampu memberinya kekuatan.

Dari cerita rakyat populer, terutama di Kalimantan, Panglima Burung dikenal sebagai sosok ghaib legendaris yang dipercayai sebagai tokoh pelindung dan pemersatu Suku Dayak.

Konon ceritanya, dia menghuni di sebuah gunung yang berada di pedalaman Kalimantan. Sebagian cerita menyebutkan Panglima Burung adalah jelmaan burung Enggang, burung yang dihormati oleh suku Dayak dan menjadi Khas Kalimantan.

Dalam kondisi tertentu, warga Dayak menggelar ritual tari perang untuk memanggil Panglima Burung. Sosok panglima memang diyakini sakti dan memberi kekuatan.

Cerita terkait yang sangat terkenal adalah tentang adanya pedang khas Kalimantan (Mandau) yang terbang atau bergerak – gerak sendiri mengejar lawan. Panglima Burung dipercaya sebagai yang menggerakkan mandau terbang tersebut.

Secara umum, Panglima Burung dinilai mencerminkan sosok dan karakter orang Dayak yang sesungguhnya. Karakter aslinya cinta damai, mengalah, suka menolong, sederhana, merawat alam dan warisan nenek moyang. Karakter itu melompat jadi berani, beringas, dan kejam ketika terancam dan habis kesabaran.

Saat ini undangan pernikahan Panglima Burung pun sudah beredar luas, termasuk di media sosial. Yang menjadi pertanyaan akan kah Panglima Burung menghadiri acara tersebut dengan menampakan diri sehingga bisa dilihat oleh kasat mata?

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar