Intangible Culture

0 32

APA yang dimaksud dengan “Warisan Budaya takbenda”?  Nampaknya terdengar abstrak, karena memang warisan budaya ini tak bisa disentuh, seperti benda-benda yang nampak kasat mata. Warisan budaya takbenda, hanya bisa dirasakan, dibayangkan dan diapresiasi. Karena itu untuk pelestariannya pun butuh waktu lama dan penjelasan berkali-kali. Warisan budaya ini memang unik. Masyarakat awam umumnya menganggap hal biasa yang ada di sekelilingnya. Ia tumbuh dan hidup dengan sendirinya tanpa harus dipelihara dengan baik. Namun ketika jenis warisan ini “dibajak” pihak lain atau katakan saja “negara jiran” (tetangga) dan dipatenkan mereka, maka barulah kita melakukan protes keras. Intangible Culture

Untuk melindungi jenis warisan ini pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2007 tentang Pengesahan Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage (Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya takbenda). Tujuannya adalah melindungi warisan budaya takbenda; memastikan rasa hormat terhadap warisan budaya takbenda milik berbagai komunitas, kelompok, dan perseorangan yang bersangkutan; meningkatkan kesadaran, baik pada tingkat lokal, nasional maupun internasional mengenai pentingnya warisan budaya takbenda, dan memastikan untuk saling menghargai warisan budaya tersebut; memberikan kerja sama dan bantuan internasional.

Intangible Culture
Foto NMN: PUNAKAWAN Wayang Kulit Cerbon

Untuk maksud‑maksud konvensi ini, “Warisan budaya takbenda” adalah: berbagai praktek, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan: serta instrumen‑instrumen, objek, artefak dan lingkungan budaya yang terkait meliputi berbagai komunitas, kelompok, dan dalam beberapa hal tertentu, perseorangan yang diakui sebagai bagian warisan budaya mereka. Warisan budaya takbenda ini, diwariskan dari generasi ke generasi, secara terus‑menerus diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksi mereka dengan alam, serta sejarahnya, dan memberikan mereka makna jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia. Untuk maksud‑maksud konvensi ini, pertimbangan akan diberikan hanya kepada warisan budaya takbenda yang selaras dengan instrumen‑instrumen internasional yang ada mengenai hak‑hak asasi manusia, serta segala persyaratan saling menghormati antarberbagai komunitas, kelompok, dan perseorangan, dan pembangunan yang berkelanjutan.

Warisan budaya takbenda, sebagaimana dalam ayat (1) Peraturan Presiden  tersebut, diwujudkan antara lain di bidang‑bidang ; (a) tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda; (b) seni pertunjukan; (c) adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan‑perayaan; (d) pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta; (e)  kemahiran kerajinan tradisional.

Pemahaman terhadap “perlindungan” adalah tindakan‑tindakan yang bertujuan memastikan kelestarian warisan budaya takbenda, termasuk identifikasi, dokumentasi, penelitian, preservasi, perlindungan, pemajuan, peningkatan, penyebaran, khususnya melalui pendidikan, baik formal maupun nonformal, serta revitalisasi berbagai aspek warisan budaya tersebut.

Banyak sebenarnya warisan budaya takbenda yang diabaikan begitu saja, seperti tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa, dialek, tatabahasa dan unsur-unsur lainnya. Imbas globalisasi, seperti dituduhkan banyak pihak memicu dan memacu hilangnya ekspresi dan bahasa lokal yang selama ini kita gunakan sehari-hari. Pada posisi ini terkadang masyarakat lebih cenderung menghargai “intervensi budaya” pihak luar ketimbang budaya milik kita sendiri.

Masyarakat pemilik “warisan budaya takbenda” ini cenderung gagap terhadap segala aspek yang datang dari luar. Karena itu pada Pasal 14 Konvensi ini penekanan terhadap pendidikan, kesadaran dan kapasitas negara penandatangan konvensi menjadi alasan utama.

Dinyatakan, setiap negara pihak (penandatangan, red) wajib berusaha, dengan segala upaya yang tepat untuk: memastikan pengakuan, penghormatan dan peningkatan warisan budaya takbenda dalam masyarakat, khususnya melalui: program‑ program pendidikan, peningkatan kesadaran dan informasi, yang ditujukan kepada masyarakat, khususnya generasi muda; program‑ program pendidikan dan pelatihan di kalangan berbagai komunitas dan kelompok yang berkepentingan; kegiatan‑ kegiatan pembangunan kapasitas untuk perlindungan terhadap warisan budaya takbenda, khususnya manajemen dan penelitian ilmu pengetahuan; dan sarana penyebaran pengetahuan non formal; menjaga agar masyarakat mendapatkan informasi mengenai bahaya yang mengancam warisan tersebut, dan kegiatan‑kegiatan yang dilaksanakan berkaitan dengan konvensi ini; dan memajukan pendidikan untuk perlindungan lingkungan alami dan tempat‑tempat bersejarah yang keberadaannya diperlukan untuk mengekspresikan warisan budaya takbenda.

Merujuk terhadap konvensi untuk perlindungan warisan budaya takbenda yang menyatakan,  bahwa proses globalisasi dan transformasi sosial menyebabkan terjadinya gejala sikap tidak toleran, juga menimbulkan ancaman serius yang dapat mengakibatkan kemerosotan, kepunahan,  dan kehancuran warisan budaya takbenda yang dimaksud daham konversi tersebut adalah berbagai  representasi, ekpresi, pengetahuan, keterampilan serta instrumen-instrumen, objek, artefak, dan lingkungan budaya yang terkait meliputi berbagi komunitas, kelompok, dan dalam beberapa hal tertentu,  perseorangan yang diakui sebagai bagian warisan budaya mereka. ***

NURDIN M. NOER

Wartawan Senior, Pemerhati Kebudayaan Lokal

Komentar
Memuat...