Take a fresh look at your lifestyle.

Integrasi Wahyu, Akal dan Indera | Data Ilmu Modern Tentang Otak Besar Manusia

0 65

Pembahasan ilmiah tentang otak manusia dan perangkat syaraf mengajukan bukti-bukti yang kuat. Bahwa manusia dibekali dengan perlengakapan dan sarana yang disediakan untuk saling menyempurnakan. Yakni antara wahyu, akal dan indera dalam proses pengetahuan melalui penelitian manusia yang panjang tentang hakikat wujud dan perilakunya yang benar.

Di antara penelitian ini, Power of Mind, Adam Smith, The Metaphoric Mind, Bob Samples, The Brain: The Last Frontier, Richard M. Roszack, Right Brain Left Brain, Soul B. Spencer, George Dotsk, Use Both Sides of Your Brain, Tony Buzan. Ini di luar sepuluh penelitian yang diterbitkan dalam jurnal-jurnal ilmiah khusus. Dan penelitian ilmiah masih terus dilakukan dalam bidang ini. Hasil-hasilnya masih mendukung tafsir yang telah kami sebutkan.

Tepat sekali jika kami kemukakan sebagai catatan penyimpul terhadap hasil-hasil yang dicapai Bob Samples. Dimana sekelompok peneliti merasa terbantu karenanya. Studi yang sama yang dilakukan oleh ratusan ribu profesor yang bekerja di berbagai macam lingkungan dan kebudayaan di antaranya; East Harlem di antara orang-orang miskin negro di New York, sekolah-sekolah Nafajo di New Mexico, kota Colorado sehingga kelas kaya yang tidak di kelilingi orang-orang miskin. Sekolah kementrian pertahanan Amerika yang tersebar di Asia dan Eropa. Ini disamping studi-studi yang telah dilakukan dan akan dilakukan terhadap otak di tengah-tengah perang yang sedang berlangsung.

Dua Bagian Pokok Otak Manusia

Samples juga melakukan perbandingan hasil yang dicapainya dengan hasil yang dicapai oleh seorang ahli dari Swiss Jean Piaget, ia mencela dan menjelaskan ambiguitas pada sebagiannya.

Samples menyimpulkan hasil yang telah dicapai sekitar otak dan perlengkapan syaraf dan ia menyebutkan bahwa otak yang terletak di tempurung kepala yang kokoh terbagi menjadi dua bagian pokok yang dihubungkan dengan gumpalan tebal dari jalinan jahitan yang jumlahnya mencapai puluhan juta yang dinamakan dengan Corpus Callesum.

Sedangkan separuh Cerebral Hemisphere yang ada pada sisi kiri dengan kemampuan akal yang menuntut aktivitas menghitung, penelitian alam mengenai materi, dan hal-hal yang berkait dengan analisis, penyusunan dan keahlian dalam membaca dan menulis.

Sementara sebagian otak yang berada di sisi kanan terkait dengan aktivitas perasaan, emosi, aktivitas yang menyenangkan, imajinasi, keinginan, inovasi seni, merasakan musik, estetika, menghadapi keharmonisan dan bersifat monoton. Samples menambahkan, bisa dikatakan bahwa sisi kanan menyebutkan arti dan konsepsi sementara yang sebelah kiri adalah menyebutkan nama-nama.

Perlengkapan syaraf manusia bercabang dari pusat stasiun dalam otak dengan bentuk yang sebaliknya sehingga indera-indera yang ada di sisi kanan jasad terkait dengan bagian kiri dari otak, sementara indera-indera yang ada di sisi kiri dalam jasad terkait dengan bagian kanan otak.

Bertolak dari pembagian ini, Samples menyimpulkan bahwa dalam diri manusia terdapat dua akal, yaitu Aql Manthiqi (Logical Mind) yang ada di sisi kiri dan Aql Ramzi (Methaporic Mind) yang ada di sisi kanan.

Logical Mind dan Metaphoric Mind

Kita melihat pengaruh Logical Mind dalam inovasi ilmiah dan menemukan hukum alam, sementara kita melihat pengaruh Metaphoric Mind dalam ilham dan inovasi seni. Kemudian selanjutnya dikatakan bahwa manusia menemukan pengaruh kedua otak ini.

Oleh karena itu mereka membagi individu menjadi dua golongan. Yaitu individu yang memiliki kecenderungan ilmiah, individu yang memiliki kecenderungan sastra, dan dalam kenyatannya pembagian atau penggolongan ini dilakuakan berdasarkan analisis yang dangkal terhadap pengaruh dua akal, yakni penyederhanaan terhadap fenomena dua akal ini.

Samples selanjutnya menjelaskan sifat Metaphoric Mind dengan menyatakan bahwa ia adalah akal yang menghubungkan manusia dengan alam ghaib dan berusaha mengikat antara yang bisa diindera dengan yang tidak bisa diindera, kemudia ia menambhakan:

“Ia mengikuti kita dengan ketetapan hati dan mengganggu kita dengan kehadirannya dan kita berkeliling dalam alur akal. Ia adalah tali metaphor yang mengikat kita dengan yang tidak diketahui yang diberitahukan kepada kita oleh agama dan mendorong kita untuk membangun tempat ibadah. Dan tempat ibadah tersebut dibangun dengan desain Logical Mind… Einstain menyebut Metaphoric Mind dengan “Anugrah Suci” dan menamakan Logical Mind dengan “Pelayan Setia”.

Samples juga menambahkan:

“Melalui penelitian yang saya lakukan selama satu setengah dekade saya menyimpulkan bahwa Logical Mind telah diberikan perhatian yang besar. Sementara Metaphoric Mind masih menantikan untuk diberi perhatian dan pendidikan.

Saya juga menemukan bahwa otak kiri bersifat malas dan lambat yang berjalan sekitar puluhan ribu tahun. Sehingga kita mengetahui keberadaannya. Sementara otak kanan siap bekerja dengan otak kiri yang diberatkan dengan masalah-masalah modern saat ini.

Tiga Sifat Dalam Lingkungan Pendidikan

Setelah bertahun-tahun pengujian, analisis dan evaluasi (terhadap studi yang saya lakukan dengan biaya pemerintah Federal) kami temukan bahwa ketika kita memberikan kesempatan kepada kedua otak bekerja secara bersamaan dan atas dasar kesamaan, maka lingkungan pendidikan akan memiliki tiga sifat:

  1. Perasaan yang lebih besar kepada keyakinan terhadap diri dan penghargaan terhadap diri sendiri dan perasaan.
  2. Penemuan yang lebih luas terhadap muatan studi dan kecakapan tradisional.
  3. Taraf yang lebih tinggi terhadap inovasi dalam muatan dan kecakapan.

Demikian juga, muncul kumpulan instruksi tentang fungsi-fungsi otak kanan… sementara otak ini bekerja dengan susunan aktivitas akal yang saling berjauhan dan mendasarinya. Kemajuan dalam aktivitas otak kiri mengarah kepada minimalisasi perubahan dan parsialisme aktivitas otak. Yakni bahwa yang pertama membangun dan menyusun sementara otak kiri menganalisis.

Kemajuan pada otak kanan mengarah kepada perubahan dan pengaitan antara bagian-bagian dan susunan pikiran. Demikian juga aktivitas otak kiri membentuk pola horizontal. Sedangkan otak kiri bekerja dengan bentuk lingkaran atau berputar. Sementara aktivitas otak kiri adalah aktivitas yang terbatas yang berhenti pada pemahaman parsial, sedangkan aktivitas otak kanan bersifat komprehensif yang melampaui ikatan antara bagian-bagian yang heterogen dan membentuk bangunan yang menyeluruh yang bersifat homogen”.

Richard van Skotter memberikan penjelasan tentang hasil analisis anatomi terhadap Logical Mind dan Metaphoric Mind ini:

“Metaphoric Mind harus ada dalam diri kita di sisi Logical Mind. Dan keberadaan yang seimbang ini bisa ditemukan pada masa tertentu dalam kehidupan manusia, akan tetapi lazimnya dalam diri manusia ditemukan salah satu dari dua otak dan tidak yang satunya. Jika ditemukan Metaphoric Mind maka Logical Mind lenyap. Pada masa kita sekarang ini, Logical Mind akan mendominasi fungsi kehidupan dan tercapainya keseimbangan dan kombinasi antara dua otak masih jauh untuk terwujud”.

Memahami Otak Melalui Bashair Wahyu Qurani

Di sini masing-masing dari Bob Samples dan Richard van Skotter gagal menganalisis hasil temuan ilmiah dalam bidang otak manusia. Keduanya tidak mengajukan langkah-langkah lebih banyak selain analisis. Dan wajar jika keduanya berhenti karena terus berlanjut pada cakrawala yang lebih jauh untuk menganalisis ayat otak dalam diri manusia… membutuhkan basha`ir dari ayat wahyu yang perannya telah kami jelaskan sebelumnya.

Seandainya Samples bekerja di bawah naungan basha’ir ayat-ayat wahyu Qur’ani. Maka ia akan memahami dengan cepat hikmah eksistensi otak kanan. Yang disifati dengan “ia mengikuti kita dengan ketetapan hati dan mengganggu kita dengan kehadirannya dan kita berkeliling dalam alur akal…”. Dan bahwa ia “mengikat kita dengan yang tidak diketahui yang diberitahukan kepada kita oleh agama dan mendorong kita untuk membangun tempat ibadah”.

Ia adalah sarana ayat Allah yang bertujuan mengikat ketetapan-ketetapan wahyu dengan temuan akal dan indera. Ketika ia siap beraktivitas sebagaimana yang dikatakan Samples. Sementara otak kiri adalah malas dan lambat. Maka Pencipta menjadikan sarana pengikat antara wahyu dan indera sarana yang cepat bekerja untuk memberikan petunjuk kepada penciptanya.

Jika Richard van Skotter bekerja di bawah naungan basha’ir wahyu Qur’an. Maka ia akan cepat menemukan bahwa ikatan antara dua otak yang terbuka kepadanya hanya akan sempurna melalui ikatan antara pendidikan wahyu dan ayat-ayat Allah dalam kitab dengan ayat-ayat Allah dalam afaq dan anfus –atau bidang ilmu alam dan sosial- atau kami katakan melalui: metode pengatahuan pendidikan Islam. ***Dr. Majid Irsani Al Kailani

Bahan Bacaan

Bob Samples, “Mind Cycles and Learning” dalam Phi Delta Kappan, (Mei, 1977)

Richard van Scotter, Richard J. Kraft & John D. Haas, Foundation of Education, Englewood Chiffs, N.J, Prentice Hall, INC, 1979.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar